Golongan yang Berhak Menerima Sedekah dan Urutannya

Sedekah itu ibadah yang dimuliakan Allah SWT, tetapi ada golongan yang berhak menerima sedekah secara khusus dan ada urutannya. Jangan sampai salah ya. Sedekah merupakan ibadah yang bisa dilakukan kapan saja oleh setiap orang yang beriman. Baik itu sedang lapang, maupun saat sedang sempit. Namun, golongan yang berhak menerima sedekah itu ada ketentuannya sendiri. Sebaiknya hal ini diketahui oleh setiap muslim dan sebenarnya sedekah itu terdiri atas beberapa macam. Diharapkan dengan sedekah ini umat Islam bisa meningkatkan rasa empatinya terhadap sesama. Selain itu, sedekah juga memberikan banyak manfaat termasuk kebaikan untuk di hari kiamat kelak. Keterangan Mengenai Golongan yang Berhak Menerima Sedekah Mengenai golongan-golongan yang berhak untuk menerima sedekah ini, Nabi Muhammad SAW telah bersabda: ا ذا كان ا حدكم فقيرا فليبدا بنفسه فعلى قرابته ا و فضلا وا ن كان فعلى عياله فضلا وا ن كان قال: على ذي رحمه وا ن كان فضلا فها هنا وها هنا “Jika salah seorang diantara kamu miskin, hendaknya dimulai dengan dirinya. Dan jika dalam itu ada kelebihan, barulah diberikan untuk keluarganya. Lalu apabila ada kelebihan lagi, maka untuk kerabatnya,” atau sabdanya, “Untuk yang ada hubungan kekeluargaan dengannya. Kemudian apabila masih ada kelebihan, barulah untuk ini dan itu.” (HR. Ahmad dan Muslim) Dengan melihat hadits tersebut, bisa diketahui siapa saja yang termasuk golongan yang berhak menerima sedekah, sekaligus dengan urutannya. Urutan ini maksudnya golongan mana saja yang harus lebih didahulukan. Berikut informasi lebih lengkapnya. 1. Sanak Keluarga Dalam hadits di atas, sangat jelas bahwasanya golongan yang paling layak untuk menerima sedekah ialah sanak keluarga. Terutama apabila apa yang akan disedekahkan sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam kitab Al Majmu’ Syarah Al Muhadzab Imam Nawawi juga telah disebutkan bahwasanya para ulama juga sudah sepakat bahwasanya kerabat itu adalah orang yang paling utama dalam mendapatkan sedekah. Selain isi kitab tersebut, hal ini juga didukung dengan hadits Nabi Muhammad SAW sebagai berikut: قال رسول االله صلى االله عليه وسلم ا فضل الصدقة الصدقة على ذي الرحم الكاشح “Sedekah yang paling utama ialah sedekah kepada kaum kerabat yang memendam rasa permusuhan.” (HR Tabhrani) Imam Baghawi juga menjelaskan bahwasanya orang yang paling utama dalam menerima sedekah ialah keluarga. Keluarga yang dimaksud di sini ialah keluarga yang menjadi tanggung jawab orang tersebut seperti istri, anaknya yang usianya masih kecil dan sebagainya. 2. Orang Terdekat yang Membutuhkan Kalau kebutuhan sanak keluarga sudah terpenuhi dan masih ada hal yang bisa disedekahkan, sedekah yang selanjutnya dianjurkan untuk diberikan kepada orang terdekat yang membutuhkan. Orang terdekat ini bisa tetangga yang kurang mampu. Duda, janda serta anak yatim piatu juga berhak menerimanya. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu yang artinya: Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak masakan berkuah, maka perbanyaklah kuahnya, dan perhatikanlah tetanggamu. (HR. Muslim). 3. Orang Lain Setelah bersedekah kepada keluarga serta orang terdekat dan masih ada kelebihan rezeki, sedekah bisa diberikan kepada siapapun dan juga dimanapun. Akan tetapi, sebaiknya sedekah diberikan kepada orang-orang yang benar-benar membutuhkan. Manfaatkan Lembaga Penyalur Sedekah Terkait dengan urutan atau skala prioritas orang yang berhak menerima sedekah ini, Imam Nawawi memberikan catatan tambahan. Catatan ini ialah skala prioritas tersebut harus tetap mempertimbangkan kemampuan finansial orang yang akan menerima. Catatan tersebut beliau kutip dari Ashabus Syafi’i. Maksud dari mempertimbangkan kemampuan finansial ialah keluarga yang akan menerima sedekah adalah yang terkategori miskin, fakir atau punya banyak hutang. Kalau merasa bingung dengan siapa yang berhak menerima sedekah tersebut, bisa memanfaatkan lembaga penyalur sedekah saja. Lembaga amal atau lembaga penyalur sedekah seperti ini akan membantu memastikan sedekah yang Anda berikan sampai ke tangan orang yang memang berhak. Tidak ada salahnya juga jika ke depannya seseorang menyisihkan sebagian hartanya kemudian diberikan kepada lembaga tersebut agar disampaikan kepada golongan yang berhak. Akan tetapi, kenali dulu lembaga tersebut lebih jauh. Pastikan bahwa lembaga yang dimaksud adalah lembaga yang jujur. Tujuannya supaya ada lebih banyak orang tidak mampu yang bisa tertolong dengan harta yang sudah disisihkan dengan sengaja itu. Macam-Macam Sedekah Selain perlu mengetahui siapa saja golongan yang berhak menerima sedekah, perlu diketahui juga bahwa sedekah itu macam-macam. Macamnya sedekah ini mencakup sedekah materi dan sedekah non materi yang dapat dirinci seperti pada penjelasan berikut ini. 1. Sedekah Materi – Memberi Makan pada Hewan Bersedekah itu tidak hanya dapat dilakukan ke sesama manusia saja, namun ke hewan juga. Contoh paling mudah bersedekah pada hewan ialah dengan memberinya makan. Misalnya, dengan memberi makan kucing yang sedang kelaparan di jalan. Atau memberikan nasi yang sudah tidak dimakan lagi kepada ayam. Memang hewan, terutama hewan liar bisa mencari makanannya sendiri. Akan tetapi dalam beberapa kondisi mereka juga memerlukan bantuan manusia. Saat inilah, manusia bisa memanfaatkannya untuk mendapatkan pahala sedekah. – Bersedekah Barang Memberikan barang juga termasuk sedekah. Barang yang dimaksud di sini tentunya barang yang masih layak pakai dan layak untuk diberikan kepada orang lain. Contohnya sepatu, buku, baju hingga alat elektronik. – Bersedekah Makanan Memberikan makanan kepada orang lain adalah salah satu sedekah yang paling sering dilakukan. Sedekah seperti ini selain bisa diberikan kepada orang yang melakukan perjalanan, atau orang-orang yang berada jauh di luar sana, juga bisa diberikan kepada tetangga sekitar. Makanan ini juga tidak harus makanan yang sudah siap santap. Bahan masakan yang masih diolah juga bisa termasuk memberikan buah-buahan. – Bersedekah Uang Setiap kali menyebutkan bersedekah dengan harta, yang sering terbayang di benak seseorang adalah uang. Selain bersedekah dengan makanan, sedekah dengan uang juga termasuk salah satu kegiatan yang sering dilakukan orang-orang. Bersedekah dengan uang juga tidak perlu dilakukan dalam jumlah yang sangat banyak. Sesuaikan saja dengan kemampuan, karena bersedekah dengan uang ini bisa dilakukan dengan jumlah berapa saja. Bersedekah dengan uang juga bisa dilakukan di mana saja, termasuk di masjid. Di masjid sudah tentu ada kotak amalnya bukan? Memasukkan sejumlah uang ke dalamnya juga merupakan sedekah. Ada juga sedekah menggunakan uang tetapi sering tidak disadari, yakni ketika membeli sesuatu. Contoh, Amir sedang berjalan-jalan dan melihat seorang nenek berjualan truk mainan. Amir memutuskan membeli mainan tersebut walaupun tidak membutuhkannya karena sudah besar. Tindakan seperti ini juga termasuk sedekah. 2. Sedekah Non Materi – Senyum Kalaupun tidak punya uang, bahan makanan, pakaian bekas dan materi lainnya untuk disedekahkan, seseorang masih bisa

Olahraga dalam Pandangan Islam

Banyak orang memiliki anggapan, bahwa olahraga adalah sesuatu yang dilarang dalam Islam, karena ia merupakan sesuatu yang dapat melalaikan seseorang dari dzikir kepada Allah. Asumsi di atas tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah. Ia benar jika olahraga yang dilakukan memang benar-benar melalaikan seseorang dari Allah. Namun, ia juga menjadi salah dalam kondisi tertentu, yang tidak sesuai dengan anggapan di atas. Olahraga dalam Islam adalah sesuatu yang ma’ruf, karena beberapa alasan sebagaimana berikut ini: PERTAMA, SEBAGAI SARANA MENJAGA DIRI. Seorang muslim wajib untuk menjaga diri dari serangan musuh. Tentunya, ia membutuhkan tubuh yang kuat untuk melakukannya. Dengan rutin berolahraga, seorang muslim dapat memiliki tubuh yang kuat yang dapat ia gunakan sebagai penjagaan diri. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sendiri adalah pribadi yang gemar berolahraga. Beliau sering mengadakan adu lari cepat dan adu ketangkasan berkuda dengan para sahabat sebagaimana dapat kita baca dalam hadits-hadits. KEDUA, SEBAGAI SARANA MENJAGA KESEHATAN. Tubuh kita adalah nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Nikmat ini harus selalu kita syukuri, salah satunya dengan menjaga kesehatannya. Dengan tubuh yang sehat, seseorang juga dapat beribadah dengan tenang dan nyaman. Oleh karena itu, olahraga juga sangat penting untuk kita lakukan jika konteksnya adalah untuk menjaga kesehatan tubuh. Itulah setidaknya dua alasan bagi kita untuk mengatakan bahwa seorang muslim juga sangat penting untuk selalu berolahraga. Hanya saja, ketika berolahraga kita juga harus menjaga aturan-Nya agar tidak terjatuh dalam kemaksiatan yang dilarang oleh Allah. Oleh karena itu, mari selalu belajar. Sumber

Jum’at Istimewa

Nabi Adam Diciptakan Keutamaan hari Jumat yang pertama adalah penciptaan Nabi Adam. Rasulullah SAW menyebut, Nabi sekaligus manusia pertama tersebut diciptakan Allah SWT pada hari Jumat dengan penuh kemuliaan. Berikut sabdanya, “Hari terbaik di mana matahari terbit di dalamnya ialah hari Jumat. Pada hari itu Adam Alaihissalam diciptakan, dimasukkan ke surga, dikeluarkan daripadanya dan kiamat tidak terjadi kecuali di hari Jumat.” (H.R Muslim). Hari Suci bagi Muslimin Selain itu, keutamaan hari Jumat berikutnya yakni merupakan satu-satunya waktu suci di antara hari-hari lainnya. Maka dari itu, diwajibkan bagi para lelaki maupun wanita muslim untuk senantiasa beribadah kepada Allah dan meninggalkan urusan dunia seketika. “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk menunaikan salat pada hari Jumat maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (QS Al Jumu’ah [62]:9). Pahala Dilipatgandakan Pada hari Jumat, seluruh amalan yang telah dikerjakan seorang muslim akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Keutamaan hari Jumat yang satu ini disebut dalam firman Allah yang berbunyi sebagai berikut, “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha luas, Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah:216). Waktu Mustajab untuk Berdoa Tak hanya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, beribadah di hari Jumat juga merupakan waktu yang tepat untuk senantiasa meminta pertolongan-Nya. Sebab, hari Jumat disebut sebagai waktu yang mustajab untuk memanjatkan doa. Berikut dalilnya, “Pada hari jumat ada 12 jam. Diantaranya ada satu waktu, apabila ada seorang muslim yang memohon kepada Allah di waktu itu, niscaya akan Allah berikan. Carilah waktu itu di penghujung hari setelah Ashar.” (HR. Abu Dawud) Dosa Terampuni Keutamaan hari Jumat yang berikutnya adalah diampuninya dosa-dosa. Manusia memang tak dapat luput dari kesalahan dan dosa. Maka dari itu, diampuninya dosa-dosa menjadi salah satu keutamaan hari Jumat yang luar biasa. “Barang siapa berwudlu kemudian memperbaiki wudlunya, lantas berangkat Jumat, dekat dengan Imam dan mendengarkan khutbahnya, maka dosanya di antara hari tersebut dan Jumat berikutnya ditambah tiga hari diampuni.” (HR. Muslim) Terjaga dari Fitnah Kubur Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Abdillah bin ‘Amr bin al-‘Ash, barang siapa yang meninggal dunia pada hari Jumat, maka ia terjaga dari fitnah kubur. Berikut dalilnya, “Tiada seorang Muslim yang mati di hari atau malam Jumat, kecuali Allah menjaganya dari fitnah kubur.” Sumber

Cara Menguatkan Mental Sebagai Muslim

Jika kita bicara cara menguatkan mental dalam Islam, kita bisa mengambil hikmah dari perjalanan Rasulullah SAW dalam berdakwah. Bagaimana beliau menempa mental para sahabat, sehingga memiliki mental yang sangat kuat. Kita membaca dalam sejarah, bagaimana para sahabat begitu tahan dengan ancaman, godaan, siksaan bahkan melakukan perjalanan hijrah yang sangat jauh melalui gurun yang panas dan di tengah ancaman musuh. Belum lagi, bagaimana kekuatan mental saat sedang menghadapi peperangan. Dan kebanyakan perang saat itu jumlah pasukan musuh jauh lebih besar daripada pasukan kaum Muslimin. Lalu apa rahasia dari cara Rasulullah SAW menguatkan mental para sahabat? Dan bagaimana agar bisa kita terapkan sehingga kita bisa meraih sukses dunia dan akhirat. Kuncinya Adalah Keyakinan Dalam awal-awal dakwah Rasulullah SAW ditekankan tentang keyakinan. Pertama tentu saja meluruskan berbagai keyakinan masyarakat yang menyimpang saat itu. Tentang keyakinan terhadap Allah. Keyakinan yang benar dan lurus itu sangat penting. Berikutnya juga ditekankan tentang keyakinan akan hari kiamat, syurga, dan neraka. Yang maknanya akan ada pertanggungjawaban terhadap apa yang kita lakukan. Kemudian keyakinan akan adanya balasan surga dan neraka. Memiliki motivasi yang kuat sangat penting dalam meraih sukses. Dari keimanan inilah muncul sikap ikhlas di hati para sahabat. Ikhlas disaat tujuan akhir dari setiap perbuatan hanya karena dan untuk Allah semata. Saat ikhlas sudah tertancap di hati, maka tidak ada hal lain yang bisa menghalangi. Begitu pun, jika kita ingin sukses baik dalam karir, bisnis, dan kehidupan lainnya, keyakinan menjadi fundamental yang sangat penting. Anda perlu memiliki keyakinan yang benar dan juga yakin akan konsekuensi atas apa yang kita lakukan. Kuat lemahnya mental Anda dimulai dengan keyakinan. Miliki keyakinan atas diri Anda, keyakinan terhadap apa yang akan kita raih, dan keyakinan bahwa Allah Maha Kuasa. Jika Allah sudah berkehendak, tidak ada yang bisa menghentikannya. Kemudian, niatkan bekerja Anda, bisnis Anda, dan apa pun kegiatan Anda untuk beribadah kepada Allah. Kemudian menjalankannya dengan ikhlas, sehingga bukan hanya manfaat di dunia yang kita dapatkan juga pahala di akhirat kelak. Ini adalah langkah awal yang merupakan fondasi dari kekuatan mental Anda. Tanpa ini kekuatan mental Anda tidak akan kuat. Dan jika kekuatan mental Anda masih lemah saat ini, maka terus tingkatkan keimanan dan keihklasan Anda. Bershabar Dalam Kesulitan Dakwah di awal itu sangat berat. Jumlah pemeluk Islam masih sedikit dan penolakan yang sangat besar dari penyembah berhala saat itu. Tentu akan menghadapi berbagai kesulitan. Dan Rasulullah SAW dan para shahabat menjalaninya dengan penuh keshabaran. Otot akan menjadi kuat saat kita rajin mengangkat beban yang berat. Jika beban ringan atau tanpa beban sama sekali, tidak akan pernah memperkuat otot kita. Begitu juga dengan mental kita. Kekuatan mental kita ditempa disaat kita sedang menghadapi kesulitan. Dan Islam sudah menyiapkan metode dalam menghadapi kesulitan yaitu shabar. Jika kita selalu bershabar dalam kesulitan, maka mental kita akan kuat. Semakin sering kita menghadapi kesulitan, akan semakin kuat mental kita. Jadi, sebenarnya kesulitan berupa ujian dan cobaan ujungnya akan membuat kita lebih baik, jika kita bershabar. Bahkan, jika perlu Anda cari kesulitan itu. Jika Anda hidup sudah nyaman, lakukan hal-hal yang sulit. Yang dimaksud sulit disini adalah sesuatu yang menantang. Jangan hanya melakukan sesuatu yang biasa. Misalnya membangun bisnis baru. Tentu Anda akan mengalami kesulitan, kemudian bershabar menjalaninya, dan kekuatan mental Anda akan meningkat. Atau punya target baru untuk meningkatkan penghasilan hingga 10X lipat. Jika kita mau, gantilah kosakata “kesulitan” menjadi “tantangan”. Mulai sekarang, gunakan tantangan. Baik tantangan karena kondisi atau tantangan yang sengaja kita buat yang akan membuat diri kita menjadi lebih baik. Berlatih Mengendalikan Hawa Nafsu Godaan untuk menghentikan dakwah begitu besar. Semuanya memanfaatkan hawa nafsu. Misalnya godaan harta, wanita, dan juga rasa aman jika berhenti dari dakwah. Namun itu semua tidak menghentikan dakwah Rasulullah SAW dan para shahabat karena mampu mengatasi godaan hawa nafsu. Mental yang lemah adalah mereka yang tidak bisa mengendalikan hawa nafsu. Semua hawa nafsu dan amarah salah satunya. Termasuk hawa nafsu makan, biologis, dan berbagai hawa nafsu lainnya. Artinya kita perlu dengan sengaja melatih untuk mengendalikan hawa nafsu. Dan Islam pun sudah penuh dengan tool yang bisa kita gunakan untuk melatih hawa nafsu. Semua ibadah bisa untuk melatih mengendalikan hawa nafsu, terutama ibadah puasa. “Orang kuat bukanlah orang yang sering menang berkelahi, akan tetapi orang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya ketika marah.” (Hadits dari Abu Hurairah dengan derajat Muttafaq ‘alaih) Kita sering menemukan hadist yang membahas marah sebagai salah satu bentuk hawa nafsu. Sebenarnya bukan hanya marah. Namun marah bisa menjadi contoh ideal, sebab marah termasuk hawa nafsu yang sulit dikendalikan. Jika kita bisa mengendalikan hawa nafsu saat marah, maka yang lainnya akan bisa dengan mudah. Tinggal kita mengadaptasi metodenya untuk hal lain. Mampu mengendalikan marah juga, sebagai bukti bahwa kita memiliki kekuatan mental. Dari berbagai hadist, berikut cara yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk mengatasi marah (sumber): Membaca ta’awudz, karena marah bisa menjadi dorongan dari syaithan. Tahan marah Anda. Ambil posisi yang lebih rendah, jika saat berdiri, duduklah. Jika saat duduk, berbaringlah. Ingat-ingat balasan orang yang bisa mengendalikan amarah. Segera Berwudhu atau Mandi. Maka latihlah untuk mengendalikan marah. Saya punya cara melatih mengendalikan marah yang berupa latihan meta (dalam pikiran). Sering kali kita bisa lebih mudah praktek dalam kenyataan setelah melatihnya dalam pikiran. Miliki mindset bahwa marah itu tidak baik. “Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk Surga.” (HR Ath-Thabrani). Jika kita terus beralasan bahwa marah kita benar dan baik, maka kita akan sulit berhenti marah. Muhasabah. Cobalah evaluasi apa saja yang sering membuat kita marah. Catat jika perlu. Termasuk perlakuan anak, pasangan, teman, tetangga, bahkan status orang di media sosial. Atau kondisi-kondisi tertentu. Pemicu marah setiap orang akan berbeda-beda. Perenungan. Mengapa kita harus marah terhadap kondisi tersebut? Jika kita selalu memiliki pembenaran akan kemarahan kita, kembali ke no 1. Carilah alasan bahwa kita sebenarnya tidak perlu marah. Ada cara lain, tanpa marah, untuk kebaikan yang kita inginkan. Sugesti diri. Jika langkah 3 sudah berjalan baik, maka sugestikan kepada diri sendiri bahwa Anda tidak akan marah lagi saat menemukan kondisi yang sama. Misalnya, “Saya tidak akan marah lagi saat anak saya mengganggu.” Begitu juga untuk kondisi lain dan lakukan secara berulang. Visualisasikan. Langkah no 4 bisa dibantu

Hari Senin dan Kemuliaannya

Istilah “ I Hate Monday” masih melekat kuat di benak kita. Padahal dalam Islam sendiri, hari senin merupakan hari yang penuh dengan keistimewaan. Hari senin merupakan hari dimana pintu-pintu surga terbuka lebar, sehingga kita bisa melakukan beragam kebaikan sebagai ladang pahala di waktu ini. Jadi, seharusnya kita bisa menjadi lebih semangat untuk menyambut hari kelahiran Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam ini. Tidak hanya itu, ada berbagai macam keistimewaan hari senin lainnya yang perlu sahabat baik ketahui, diantaranya adalah sebagai berikut. Hari lahirnya Rasulullah SAW Keistimewaan hari senin dalam islam yang pertama, yang mana juga menjadi hari yang spesial bagi umat muslim dunia, pasalnya hari senin merupakan hari kelahiran Nabi besar kita yakni Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam . Sebagaimana yang disebutkan pada QS. Al Ahzab ayat 21 yang artinya, “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al Ahzab: 21) Berdasar ayat diatas kita bisa ambil hikmah bahwa sebagai hari lahirnya suri teladan bagi kita umat muslim, hendaknya kita selalu menyambut hari senin dengan perasaan yang senang dan semangat dalam menjalaninya. Dosa-dosa akan diampuni Keistimewaan hari senin dalam Islam yang kedua adalah diampuninya dosa – dosa kita. Pada hari minggu malam kita seringkali mengeluh karena sebentar lagi akan bertemu dengan hari senin. Padahal seharusnya kita lebih semangat ketika mengingatnya. Pasalnya, pada hari senin ini dosa-dosa akan diampuni Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga sebaiknya kita senantiasa bersyukur jika akan bertemu hari senin. Seperti sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam pada HR. Muslim yang artinya, “Pintu-pintu Surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun akan diampuni dosa-dosanya, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan. Lalu dikatakan, Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai.” (HR. Muslim) Hari diturunkannya Al Qur’an Sebagaimana diriwayatkan pada HR. Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam pernah bersabda yang artinya, “Di hari itulah saya dilahirkan, dan pada hari itu pula, wahyu diturunkan atasku.” (HR. Muslim) Dari hadits tersebut dapat diketahui bahwa hari senin tidak hanya bertepatan pada kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wassallam, tapi juga merupakan hari diturunkannya Al Qur’an sebagai kitab suci umat muslim di dunia. Hari yang baik untuk berbagi kepada sesama Sebagai hari dimana pintu-pintu surga terbuka lebar, hari senin adalah kesempatan baik untuk kita dalam melakukan kebaikan. Ada banyak kebaikan yang bisa kita lakukan, salah satu amal baik yang mendatangkan banyak pahala yakni dengan berbagi kepada sesama. Dengan berbagi, kita dapat memberikan banyak manfaat kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan. Di era yang serba digital sekarang ini, kita bisa berbagi melalui berbagai media online yang bisa di akses kapan saja. Kita dapat menyalurkan kebaikan baik dengan cara ikut berdonasi melalui media online yang pastinya dapat membantu banyak orang di luar sana yang membutuhkan uluran tangan dari kita. Sebarkan bantuanmu untuk mereka yang membutuhkan dan tetaplah semangat menjalani hari senin. Jalani hari senin kita dengan banyak melakukan amal shaleh dan menyebarkan kebaikan. Dianjurkan Rasulullah SAW untuk berpuasa Selain pernyataan diatas, hari senin juga merupakan hari yang spesial bagi kita sebagai umat muslim karena kita bisa berpuasa sunnah sebagaimana yang dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam. Pada HR. At Tirmidzi, beliau bersabda yang artinya, “Amal-amal manusia diperiksa pada setiap hari Senin dan Kamis, maka aku menyukai amal perbuatanku diperiksa sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. At Tirmidzi) Dengan berpuasa di hari senin, kita dapat mendapatkan berbagai manfaat yang bisa kita dapat mulai dari menambah amalan, menghindarkan diri dari godaan hawa nafsu hingga sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang sudah kita dapatkan. Nah, itulah macam – macam keistimewaan hari senin dalam Islam yang perlu Sahabat baik ketahui. Jadi jangan benci hari senin lagi ya!   Sumber

Luasnya Sedekah

Suatu ketika Nabi Muhammad SAW mengingatkan jangan membiarkan satu hari berlalu tanpa sedekah. “Tiap-tiap jiwa keturunan Adam tanpa kecuali harus bersedekah setiap hari di mana matahari terbit di dalamnya.” Salah seorang sahabat yang merasa tidak memiliki kelebihan harta untuk disedekahkan bertanya; Bagi orang seperti kami bagaimana bisa bersedekah, wahai Rasulullah? Nabi menjelaskan; “Sesungguhnya pintu kebajikan itu banyak. Mengucapkan tasbih, tahmid, takbir, tahlil dengan khidmat dan khusu, merupakan sedekah. Mengajak orang kepada yang baik dan melarang dari yang mungkar merupakan sedekah. Menyingkirkan batu dari jalan untuk memudahkan orang lewat, merupakan sedekah. Menuntun orang buta menyeberang jalan, merupakan sedekah. Memberi petunjuk kepada orang yang bertanya kepadamu, merupakan sedekah. Membantu orang-orang yang lemah dengan kekuatan dua betismu dan dua lenganmu, adalah sedekah. Bahkan senyumanmu ketika berhadapan dengan saudaramu, juga merupakan  sedekah.” (H.R. Bukhari dan Muslim) Hadis di atas memberi pemahaman bahwa sedekah memiliki makna yang luas. Setiap orang dapat melakukannya. Sedekah tidak dibatasi dalam bentuk materi yang hanya orang-orang mampu dan kaya bisa melakukannya. Ucapan yang menyejukkan hati atau senyum simpatik kepada orang lain juga merupakan sedekah. Tidak dipersoalkan sedekah itu banyak atau sedikit, berupa materi atau bukan, tapi yang penting ialah hasrat dan niat suci untuk mengukir jasa baik sepanjang hidup. Sedekah mengisyaratkan betapa luasnya lapangan amal kebajikan bagi seorang muslim. Setiap orang dapat berpartisipasi. Sedekah berfungsi merekat hubungan antar-manusia berlandaskan rasa empati, kasih sayang, dan persaudaraan. Memberi adalah sumber kebahagiaan. Seorang muslim merasa bahagia jika dapat membahagiakan orang lain di sekitarnya. Ketika seorang sahabat bertanya kepada Nabi, “Siapakah manusia yang paling baik?” Nabi menjawab, “Orang yang memberi manfaat kepada orang lain.” Sahabat itu bertanya lagi, “Amal apa yang paling utama?” Dijawab,  “Memasukkan rasa bahagia pada hati orang yang beriman.” (H.R. Thabrani) Sejarah mengabadikan khutbah pertama Nabi Muhammad SAW di Madinah, setelah hijrah dari Mekkah, dalam kesempatan shalat Jumat pertama di tahun pertama Hijriyah, mengemukakan keutamaan sedekah. “Maka siapa yang mampu memelihara dirinya dari (siksa) neraka, meskipun dengan hanya sepotong korma, maka lakukanlah itu. Dan siapa yang tidak memperoleh (suatu apa pun), maka dengan ucapan kata-kata yang baik. Sesungguhnya segala kebajikan akan diberi ganjaran sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat.” Dalam sebuah hadis dijelaskan jenis amal jariyah yang terkait secara langsung dengan kebutuhan dan kemaslahatan umum. “Sesungguhnya amal saleh yang akan menyusul seorang mukmin setelah dia meninggal dunia kelak, ialah ilmu yang dia ajarkan dan sebarkan, anak saleh yang dia tinggalkan, mushaf Quran yang dia wariskan, masjid yang dia bangun, rumah tempat singgah musafir yang dia dirikan, sungai (irigasi) yang dia alirkan, dan sedekah yang dia keluarkan di kala sehat dan masih hidup. Semua itu akan menyusul ketika seseorang meninggal dunia kelak.”  (H.R. Ibnu Majah dan Baihaqi). Semua amal jariyah yang memberi manfaat kepada sesama, akan tetap mendatangkan pahala bagi pelakunya meski telah meninggalkan alam dunia. Sebagian besar amal jariyah selalu berkaitan dengan kehidupan sosial dan kemanusiaan. Spirit sedekah perlu diamplifikasi untuk menangkal sikap mementingkan diri sendiri, kesenjangan sosial dan pengagungan materi yang merusak keharmonisan kehidupan dalam masyarakat. Salah seorang ulama, Bisyr al-Hafi dalam kutipan Dr. Syekh Yusuf Al-Qaradhawi pada Fiqih Prioritas menuturkan, Kalau kaum muslimin mau memahami, memiliki keimanan yang benar, dan mengetahui makna fiqih prioritas, maka dia akan merasakan kebahagiaan yang lebih besar dan suasana kerohanian yang lebih kuat, setiap kali dia dapat mengalihkan dana ibadah haji (bagi yang telah pernah menunaikan haji yang wajib) untuk memelihara anak-anak yatim, memberi makan orang-orang yang kelaparan, memberi tempat perlindungan kaum yang terlantar, mengobati orang sakit, mendidik orang-orang yang tidak berilmu, atau memberi kesempatan bekerja kepada mereka yang menganggur. Setiap muslim, dalam spirit taat kepada Allah dan peduli kepada sesama, dianjurkan senantiasa menanam kebajikan dengan berbuat baik bagi kepentingan sesama sebagai sarana yang mengantarkan  kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Ali Syariati, pemikir muslim asal Iran mengatakan, Seorang yang saleh tak akan dibiarkan sendiri oleh kehidupan. Kehidupan akan menggerakkannya dan zaman akan mencatat amal baiknya. Wallahu alam bisshawab   Sumber

Kok Sedekah di Hari Jumat?

Sedekah bisa dilakukan tanpa batasan. Artinya sedekah bisa dilakukan kapan saja, dimana saja dan kepada siapa saja yang membutuhkan. Harta yang disedekahkan juga bisa berapapun sesuai kemampuan dan keikhlasan. Meskipun sedekah bisa dilakukan kapan saja, tetapi ada waktu yang mustajab, salah satunya di hari Jumat. Hari Jumat merupakan hari raya bagi umat muslim. Banyak keutamaan yang bisa didapatkan dengan melakukan sedekah di hari Jumat. Hari Jumat menjadi hari yang paling utama dari semua hari dalam seminggu. Hari Jumat merupakan hari yang paling penuh barokah dan Allah SWT sudah mengkhususkan hari Jumat hanya untuk umat muslim dari seluruh kaum umat terdahulu. Imam Syafii dalam kitab Al-Umm pada bab “Hal-hal yang Diperintahkan di Hari dan Malam Jumat”, meriwayatkan hadits berikut: بَلَغَنَا عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى أَنَّ رَسُولَ اللهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَكْثِرُوا الصَّلَاةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَإِنِّي أُبَلَّغُ وَأَسْمَعُ قَالَ وَيُضَعَّفُ فِيهِ الصَّدَقَةُ “Telah sampai kepadaku dari Abdillah bin Abi Aufa bahwa Rasulullah bersabda, ‘Perbanyaklah membaca shalawat kepadaku di hari Jumat sesungguhnya shalawat itu tersampaikan dan aku dengar’. Nabi bersabda, ‘Dan di hari Jumat pahala bersedekah dilipatgandakan’.” (Imam Asy Syafii, al-Umm, juz 1, hal. 239). Seseorang tetap dianjurkan bersedekah kapan saja dan lebih utama lagi dilakukan di hari-hari spesial seperti Jumat. Sedangkan orang yang bersedekah, Allah memujinya dalam Al-Qur’an. وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ، الَّذِينَ إِذا ذُكِرَ اللهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَالصَّابِرِينَ عَلى مَا أَصابَهُمْ وَالْمُقِيمِي الصَّلاةِ وَمِمَّا رَزَقْناهُمْ يُنْفِقُونَ “Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami beri rezeki kepada mereka.” (QS. Al-Hajj ayat 34-35). Rasulullah SAW juga menyampaikan keutamaan sedekah ini melalui hadits shahihnya. مَا أَحْسَنَ عَبْدٌ الصَّدَقَةَ إِلَّا أَحْسَنَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ الْخِلَافَةَ عَلَى تِرْكَتِهِ “Tidaklah seorang hamba memperbaiki sedekahnya kecuali Allah memperbaiki pengganti atas harta tinggalannya.” (HR. Ibnu al-Mubarak).   Di atas adalah kutipan tentang sedekah di Hari Jumat, semoga kita dapat mengamalkan hal-hal yang telah disampaikan oleh Allah dan dicontohkan oleh Rasulullah. Sumber 1 Sumber 2

Kemerdekaan Dalam Pandangan Islam

Kemerdekaan adalah hak segala individu, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara bahkan peradaban manusia. Penjajahan di dunia harus di hapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan, perikeadilan dan nilai-nilai kemuliaan manusia. Kemerdekaan Indonesia adalah rahmat dan nikmat Allah swt atas perjuangan dan pengorbanan harta, darah dan nyawa para pejuang dan seluruh rakyat Indonesia. Kemerdekaan Indonesia sebagai nikmat dari Allah swt harus disyukuri dengan menyadari secara mendalam bahwa kemerdekaan ini adalah karunia yang sangat mulia dari Allah swt, yang merupakan amanah untuk dimanfaatkan dan digunakan untuk meraih kembali kedaulatan negara, kehormatan, keadilan, kesejahteraan dan kemuliaan sebagai manusia dan hamba Allah. Seorang manusia, menurut pandangan syariah, barulah akan disebut merdeka bilamana ia sadar dan berusaha keras memposisikan dirinya selaku hamba Allah swt saja dalam segenap dimensi dirinya, baik penciptaan, penghambaan, kecintaan, perasaan maupun perilaku. Dan ia divonis tidak merdeka atau belum merdeka bilamana ia masih menghambakan dirinya kepada selain Allah swt. Atau dengan kata lain, kemerdekaan seseorang atau suatu bangsa sangat ditentukan pada seberapa besar upaya individu atau bangsa tersebut menjadikan kalimat tauhid laa ilaaha illallah sebagai motivator dan inspirator utama pembebasan diri atau bangsa dari dominasi apapun atau siapapun selain Allah swt. Kemerdekaan yang hakiki juga bermakna memberi kebebasan dan kelapangan hati, pikiran, dan perbuatan manusia  untuk menyampaikan pendapat dan berkreasi dalam amal perbuatan  secara terbuka tanpa ada rasa kahwatir, takut dan tertekan. Firman Allah swt yang artinya:“Bebuatlah kamu, maka Allah, Rasul-Nya, dan Orang-orang beriman akan melihat perbuatanmu.” (QS. At Taubah [9]: 105). “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (untuk memilihnya). Tetapi Dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar.” (QS. Al-Balad [90]: 10-11). “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” (QS. Al Baqarah [2]: 256). Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir.” (QS. Al Kahfi [18]: 29). Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang mampu memerdekaan rakyat dan bangsanya dari ketergantungan ekonomi dan politik dari bangsa-bangsa lain serta mampu membangun kemandirian ekonomi dalam mengelola sumber ekonomi negaranya untuk menggapai kehidupan yang mandiri,  adil dan sejahtera serta bermartabat. Olehnya itu diharapkan semangat, dan kebersamaan sebagai bangsa yang besar untuk bangkit melawan belenggu  ketertinggalan  untuk  mencapai kehidupan bangsa  yang mandiri, adil dan makmur yang diridhoi oleh Allah swt  yaitu terwujudnya Negara dan bangsa yang baldatun tayyibatun warabbun ghafuur. Wallahu ‘alam Sumber