Hakikat tawakal yang benar adalah dengan menjalankan sebab-sebab yang ada dengan tetap menyandarkan hati kepada Allah Ta’ala. Yakin bahwa segala sesuatu berada di bawah kehendak-Nya. Jika Allah berkehendak, maka akan Allah wujudkan dan kabulkan. Dan jika Allah tidak berkehendak, maka hal tersebut tidak akan terwujud dan tidak akan dikabulkan.

Mukmin yang benar, tidak akan memasrahkan urusannya secara total hanya kepada sebab saja (bekerja keras dan meyakini bahwa kesuksesannya hanya bisa diraih dengan kerja kerasnya sendiri) tanpa campur tangan Allah Ta’ala.

Mukmin yang benar juga tidak hanya berpangku kepada takdir Allah Ta’ala dan meremehkan usaha serta kerja keras. Mukmin yang benar memiliki sikap pertengahan dan bijaksana. Ia akan berusaha menjalani sebab-sebab yang ada, bekerja keras, lalu memasrahkan semua hasilnya kepada Allah Ta’ala.

Allah memerintahkan kita untuk mengambil sebab dan menjalani langkah-langkah (sebab) yang ada. Di antaranya Allah Ta’ala berfirman,

وَاَعِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ وَّمِنْ رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُوْنَ بِهٖ عَدُوَّ اللّٰهِ وَعَدُوَّكُمْ وَاٰخَرِيْنَ مِنْ دُوْنِهِمْۚ لَا تَعْلَمُوْنَهُمْۚ

“Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya.” (QS. Al-Anfal: 60)

Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebaik-baik teladan dalam hal menjalankan sebab dan bertawakal kepada Allah Ta’ala. Keseimbangan dan sikap pertengahan beliau ini terlihat jelas dalam perjalanan hijrah beliau ke Madinah.

Lihatlah bagaimana sempurnanya rencana beliau? Bagaimana hati-hatinya beliau hingga keluar untuk menemui Abu Bakar di waktu yang tidak biasa agar manusia tidak melihatnya?

Bahkan, beliau menyewa orang yang ahli dan berpengalaman di dalam mengetahui peta jalan dan padang pasir untuk membantunya keluar dari kota Makkah, meskipun orang tersebut adalah seorang musyrik. Beliau rencanakan segala sesuatunya dengan cermat dan cerdik.

Semua itu beliau lakukan dengan kondisi yakin bahwa Allah Ta’ala akan menolongnya dan membantunya!

Bahkan, beliau juga pernah bersabda,

لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَىٰ اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

“Sekiranya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, sungguh kalian akan diberi rezeki (oleh Allah Ta’ala), sebagaimana seekor burung diberi rezeki. Ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi no. 2344, Ibnu Majah no. 4164 dan Ahmad no. 205)

Burung yang notabene tidak memiliki akal saja, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kisahkan pergi di pagi hari dan pulang di sore hari untuk mendapatkan makanan. Lalu, bagaimana halnya dengan kita yang berakal?! Tentu saja berusaha dan mengambil sebab seharusnya sudah mengakar kuat pada diri kita.

Salah dan keliru bila ada yang mengira bahwa makna tawakal adalah berserah diri total kepada Allah Ta’ala, tanpa perlu berusaha dan mencari sebab untuk mencapai tujuan. Ingin sukses dan memiliki harta, namun yang ia lakukan hanya berdoa kepada Allah tanpa bekerja. Sungguh ini adalah anggapan yang keliru.

Bersumber dari muslim.or.id

Yuk di share:
©2025 LAZDAI PEDULI.
Lembaga Amil Zakat Dompet Amal Insani Peduli.

Beranda

Ziswaf

Kontak

Menu