Speed dan LAZDAI Lampung Sepakati Kerja Sama

Bandar Lampung – Serikat Pengemudi Daring (Speed) kemarin melakukan silaturahmi ke kantor Lembaga Amil Zakat Dompet Amal Insani (LAZDAI) Lampung. Sebanyak tujuh orang pengurus perwakilan Speed diterima Direktur LAZDAI Lampung Nurhandoyo. Ketua Speed Asep RS menyampaikan, Speed sudah berusia tiga tahun dan memiliki kepengurusan dari tingkat nasional hingga ke daerah. Ia mengatakan, Speed Ingin memperluas dan menguatkan keberadaan dengan program-program kemanusiaannya bersama LAZDAI Lampung. Nurhandoyo menyambut baik gagasan ini.ia menjelaskan, permasalahan kemanusiaan dan mengentaskan kemiskinan adalah tugas bersama. “Semakin banyak tangan yang bergandengan untuk melakukan kebaikan, itu akan lebih baik,” kata dia. Audiensi ditindaklanjuti dengan kontrak kesepakatan kerja sama Speed-LAZDAI Lampung. Nurhandoyo berharap ke depan sinergi dua lembaga ini bisa memaksimalkan potensi kebaikan untuk masyarakat.   Sumber

Cara Seorang Mukmin Mengelola Pikirannya

Pernahkah mendengar hukum ‘the law of attraction’? Hukum fisika yang mengandung makna bahwa pikiran merupakan sumber energi positif dan negatif yang akan menarik energi dari luar untuk masuk ke dalam pikiran manusia (hukum tarik menarik). Apabila pikiran positif yang terpancar dari tubuh seseorang, maka energi positif pun secara otomatis menghampirinya, begitu pun sebaliknya. ‘The law of attraction’ telah mempengaruhi jutaan manusia untuk mencapai “kesuksesan” duniawi. Seorang ilmuwan barat juga mempopulerkan istilah ‘think and grow rich’ (berfikirlah dan kau akan menjadi kaya). Orang-orang yang meyakini konsep pemikiran ini mengklaim bahwa pikiran manusia sangat mempengaruhi apa yang ia terima, baik hal-hal yang baik maupun buruk. Mereka kemudian mempraktekkan konsep ini dengan melakukan visualisasi keinginan setiap pagi dan malam hari, membayangkan apa saja yang mereka inginkan. Dan lagi, mereka mengaku bahwa dengan mempraktekkan hal demikian, segala keinginan mereka dapat terwujud. Lantas, bagaimana dengan kita? Apakah yang mendorong kita untuk mencapai kesuksesan duniawi dan ukhrawi kita?   Mukmin dalam praktik ‘law of attraction’ dan ‘think and grow rich’ Saudaraku, ketahuilah bahwa telah ada dalam ajaran agama Islam yang mulia ini tentang bagaimana mengelola pikiran positif untuk mencapai apapun yang kita inginkan. Ajaran dan konsep yang jauh lebih komprehensif daripada ‘the law of attraction’ ataupun ‘think and grow rich’. Sebagai hamba Allah Ta’ala yang beriman, kita senantiasa memegang teguh prinsip-prinsip bertauhid. Di antaranya adalah tauhid rububiyyah, yaitu meyakini bahwa Allah Ta’ala merupakan Zat Tunggal yang mengatur segalanya yang ada di jagad raya ini. Oleh karena itu, seorang muwahhid (orang yang bertauhid) meyakini bahwa pikirannya yang mendorong keinginan terhadap sesuatu selalu ia manifestasikan dalam bentuk doa kepada Rabbnya. Hal itu disertai dengan keyakinan bahwa Allah mengabulkan segala yang ia minta. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan! Dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi no. 3479) Ya, keyakinan merupakan simbol energi positif dari seorang mukmin. Keyakinan penuh kepada Allah Ta’ala yang menetapkan takdir. Seorang mukmin dengan pikiran positif terhadap Allah (husnudzh-dzhan) akan mendapatkan ganjaran berupa anugerah dari Allah atas apa yang ia butuhkan. Karena Allah Ta’ala akan selalu bersama hamba-hamba-Nya yang selalu berprasangka baik kepada-Nya. Allah Ta’ala pun memberikan apa yang ia inginkan. Inilah energi positif yang sesungguhnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Allah Ta’ala berfirman, أَنَا عِنۡدَ ظَنِّ عَبۡدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ حَيۡثُ يَذۡكُرُنِي. وَاللهِ، لَلَّهُ أَفۡرَحُ بِتَوۡبَةِ عَبۡدِهِ مِنۡ أَحَدِكُمۡ يَجِدُ ضَالَّتَهُ بِالۡفَلَاةِ. وَمَنۡ تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبۡرًا، تَقَرَّبۡتُ إِلَيۡهِ ذِرَاعًا. وَمَنۡ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا، تَقَرَّبۡتُ إِلَيۡهِ بَاعًا. وَإِذَا أَقۡبَلَ إِلَيَّ يَمۡشِي، أَقۡبَلۡتُ إِلَيۡهِ أُهَرۡوِلُ ‘Aku sesuai sangkaan hamba-Ku kepada-Ku dan Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Demi Allah, Allah benar-benar lebih gembira terhadap tobat hamba-Nya daripada (gembiranya) salah seorang kalian mendapatkan kembali tunggangannya yang hilang di gurun pasir. Siapa saja yang mendekat kepada-Ku sejarak satu jengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sejarak satu hasta. Siapa saja yang mendekat kepada-Ku sejarak satu hasta, Aku akan mendekat kepadanya sejarak satu depa. Dan jika dia menuju kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan menuju kepadanya dengan berjalan cepat.” (HR. Muslim no. 2675) Subhanallah, adakah kebahagiaan yang lebih besar daripada kebahagiaan seorang hamba yang selalu dekat dengan Rabb-Nya?   Energi positif dalam prasangka baik kepada Allah Orang yang selalu berprasangka baik kepada Allah Ta’ala adalah orang yang jauh dari hati yang lalai. Hati yang lalai yakni hati yang selalu berprasangka buruk terhadap Allah atas segala cobaan yang sedang dihadapi. Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tiga hari sebelum wafat bersabda, لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ ‘Janganlah salah satu di antara kalian meninggal dunia, kecuali dia berprasangka baik kepada Allah.’” (HR. Muslim no. 2877) Energi positif yang akan diperoleh oleh orang yang berprasangka baik kepada Allah adalah bahwa ia akan mendapatkan apapun yang ia inginkan melalui doa-doa yang ia panjatkan kepada Rabbnya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ادعُوا اللهَ وأنتم مُوقِنُون بالإجابةِ واعلَموا أنَّ اللهَ لا يَستَجيبُ دُعاءً مِن قلبٍ غافِلٍ لاهٍ “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan! Dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.”. (HR. at-Tirmidzi no. 3479) Dalam hadis lain, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنَ الدُّعَاءِ “Tidak ada sesuatu yang lebih besar pengaruhnya di sisi Allah Ta’ala, selain doa.”  (HR. Tirmidzi no. 3370, Ibnu Majah no. 3829). Dalamnya pemahaman prasangka baik kepada Allah Saudaraku, katakanlah bahwa engkau adalah hamba Allah yang telah mempraktikkan segala cara yang menurutmu telah sesuai dengan tuntunan agama dalam rangka memperoleh segala hal yang engkau inginkan. Engkau telah berikhtiar semaksimal mungkin. Engkau telah berdoa dalam sujud, di sepertiga malam, di waktu hujan, di jumat sore, di antara azan dan ikamah. Akan tetapi, tak ada satu pun yang engkau dapatkan dari hasil jerih payahmu itu. Lantas, adakah engkau kecewa kepada Rabbmu? Ingatlah, bahwa jalan keluar atas segala permasalahan adalah takwa. Allah Ta’ala berfirman, وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا , وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ “Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq: 2-3) Sebagaimana umumnya kita ketahui, makna takwa adalah melaksanakan perintah Allah Ta’ala dan menjauhi larangannya. Sesederhana itukah? Saudaraku, terkadang kita hanya fokus kepada satu aspek dari makna takwa, yaitu melaksanakan perintah Allah dengan melaksanakan salat, puasa sunah, bersedekah, berzikir, berbuat baik, dan sebagainya. Akan tetapi, kita lupa aspek lainnya, yaitu menjauhi segala larangan Allah Ta’ala. Mata masih tak mampu dijaga dari yang diharamkan Allah. Mulut masih tak bisa direm dari gibah. Bahkan tubuh masih tak bisa ditahan untuk tidak melakukan hal-hal yang melanggar syariat-Nya. Ya, bisa saja itulah penyebab mengapa hasil jerih payah itu belum juga diperoleh. Mari kita introspeksi diri! Atau, engkau merasa telah berusaha menjauh dari segala hal yang menjadi larangan Allah, namun hasil jerih payah itu belum juga diperoleh. Bagaimanakah cara menyikapinya? Saudaraku, jika engkau merasa doa-doamu belum di-ijabah, sementara engkau merasa telah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dengan semaksimal mungkin. Maka, sebagai seorang mukmin yang senantiasa menjaga prasangka baiknya kepada Allah, yakinlah bahwa di balik itu semua tersimpan hikmah yang luar biasa. Perhatikanlah hadis berikut ini. Dari Abu Sa’id, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ما مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلاَ قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا

Teruntuk yang Sedang Berjuang Menjalani Cobaan Kehidupan

Pesan kunci dari salafus shalih Saudaraku, engkau mungkin telah banyak mendengar nasihat-nasihat terbaik tentang kesabaran, ikhtiar maksimal, tawakal, dan tentang bagaimana memanjatkan doa-doa kepada Allah Ta’ala agar mendapatkan solusi atas segala permasalahan ekonomi yang sedang engkau hadapi. Mungkin juga, engkau merasa bahwa semua jalan menuju solusi problematika kehidupan itu telah engkau tempuh dengan caramu yang kau anggap telah sempurna. Tapi, jalan itu masih terlihat samar dan jawaban atas permasalahan itu pun masih belum ada. Lalu, apa yang salah dari itu semua? Saudaraku, aku ingin menawarkan kepadamu satu kunci yang sejatinya telah engkau ketahui sejak lama. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun beserta para sahabat radhiyallahu ‘anhum dalam banyak riwayat selalu menyampaikan pesan kunci ini. Pesan kunci itu adalah “gantungkanlah segala urusanmu kepada Allah”. Dengan bergantung sepenuhnya pada Allah, niscaya akan diberikan petunjuk bagaimana menjadi seorang yang takwa. Dengan menjadi orang yang bertakwa, maka akan ada jalan keluar yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepadamu.   Ketergantungan para salafus shalih kepada Allah Ketergantungan kepada Allah dalam bahasa syariat disebut tawakal. Kita tentu familiar dengan kata ini. Namun, lihatlah diri kita, kemudian tanyakan kepadanya tentang tawakal yang dipahami dan bagaimana mempraktikkannya? Ambil contoh kecil ketika kita dihadapkan dengan perbedaan pendapat tentang suatu perkara agama. Kita cenderung merasa bahwa kita mampu menemukan jawaban yang lebih mendekati kebenaran dengan cara mencari referensi, mendengarkan fatwa ulama, atau bahkan memutuskan sendiri pendapat yang benar. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan kita doa berikut ini: اللهمَّ ربَّ جِبرائيل، ومِيكائيل، وإسرافيل، فاطرَ السماوات والأرض، عالمَ الغيب والشهادة، أنت تحكم بين عبادك فيما كانوا فيه يختلفون، اهدني لما اختُلِف فيه من الحق بإذنك، إنَّك تهدي مَن تشاء إلى صراطٍ مستقيمٍ “Ya Allah! Tuhan Jibril, Mikail, dan Israfil. Pencipta langit dan bumi, Zat Yang mengetahui perkara gaib dan tampak. Engkaulah yang menetapkan keputusan apa yang diperselisihkan di antara hamba-hamba-Mu. Tunjukkanlah aku kepada kebenaran yang diperselisihkan (manusia) dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau menunjukkan siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus.” (HR. Muslim, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha) Maksudnya, bahkan dalam menghadapi perkara kecil pun kita dianjurkan untuk melaksanakan salat dan membaca doa ini sebagai istiftah guna mendapatkan petunjuk kebenaran atas perkara tersebut. Demikianlah salah satu contoh kecil bagaimana mempraktikkan tawakal dalam kehidupan. Lebih lanjut, apabila kita mempelajari sirah tentang bagaimana para salafus shalih bertawakal kepada Allah, bahkan dalam perkara-perkara kecil, maka akan kita dapati betapa mereka benar-benar ketergantungan pada Allah Ta’ala. Bukankah ini pertanda bahwa mereka begitu dekat dengan Rabbnya? Aisyah radhiyallahu ta’ala ‘anha mengatakan, سَلُوا اللَّهَ كُلَّ شَيءٍ حَتَّى الشِّسعَ “Mintalah kepada Allah, bahkan meminta tali sendal sekalipun.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman 2: 42, Al-Albani berkata, “mauquf jayyid” dalam Silsilah Adh-Dha’ifah no. 1363) Saudaraku, bayangkan! Perkara tali sendal pun mereka merasa bahwa hanya kepada Allah tempat mengadu. Bahkan hingga urusan garam dan tali kekang untuk ternaknya pun mereka selalu menggantungkan urusan itu kepada Allah Ta’ala. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, وكان بعض السلف يسأل الله في صلاته كل حوائجه حتى ملح عجينه وعلف شاته “Dahulu para salaf meminta kepada Allah dalam salatnya, semua kebutuhannya sampai-sampai garam untuk adonannya dan tali kekang untuk kambingnya.” (Jami’ Al-Ulum wal-Hikam, 1: 225)   Buah manisnya ketergantungan kepada Allah Subhanallah! Sungguh mengesankan sikap para salafus shalih dalam menyikapi berbagai permasalahan yang mereka hadapi. Maka, apabila perkara kecil saja mereka yakini bahwa Allahlah Yang Mahapengatur semuanya, konon lagi dalam perkara-perkara yang lebih besar seperti cobaan perekonomian dan kemiskinan? وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصاً وَتَرُوحُ بِطَاناً ”Seandainya kalian betul-betul bertawakal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad (1: 30), Tirmidzi no. 2344, Ibnu Majah no. 4164, dan Ibnu Hibban no. 402 dari Umar bin Al Khoththob radhiyallahu ‘anhu) Dalam Kitab Madarijus Salikin (2: 128) Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata, “Perhatikanlah ganjaran-ganjaran yang akan diterima oleh orang yang bertawakal yang mana ganjaran itu tak diberikan kepada orang lain selain yang bertawakal kepada-Nya. Ini membuktikan bahwa tawakal adalah jalan terbaik untuk menuju ke tempat di sisinya dan perbuatan yang amat dicintai Allah.” Oleh karenanya, bertawakallah kepada Allah dalam urusan apapun. Terlebih dalam menghadapi permasalahan ekonomi yang saat ini melanda negeri. Sungguh, perkara ini sangat kecil bagi Allah Ta’ala. Allah Mahakaya atas segala hal, mengapa kita tidak menggantungkan (bertawakal) semua itu kepada Allah? Tawakal dan ikhtiar Namun demikian, pemahaman tentang tawakal harus benar-benar dimengerti secara menyeluruh sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya radhiyallahu ‘anhum telah ajarkan kepada kita. Bertawakal bukan berarti pasrah begitu saja dengan keadaan yang ada. Tentunya, seorang mukmin senantiasa membarengi tawakal dengan ikhtiar. Meyakini bahwa solusi akan diperoleh dengan izin Allah Ta’ala melalui ikhtiar yang sungguh-sungguh dalam rangka mengubah keadaan menjadi lebih baik. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ ٱللَّهَ لَا یُغَیِّرُ مَا بِقَوۡمٍ حَتَّىٰ یُغَیِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمۡۗ “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra`d: 11) Wallahu a’lam Sumber

Sedekah Untuk Diri Sendiri, Ini Kata Rasulullah

{وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللهَ بِهِ عَلِيمٌ} [البقرة: 215]. “Apapun kalian lakukan “niscaya Allah pasti mengetahuinya. Imam Nawawi memahami ayat diatas dengan dua dimensi. Pertama bermakna pasti diberi imbalan atas segala perbuatan baik dan yang kedua berarti tidak boleh menghilangkan kesempatan berbuat baik. Hari jumat adalah disepakati umat baik berbuat sedekah kepada orang lain. Ada juga hal istimewa untuk diri sendiri dengan memberikan sedekah untuk diri sendiri seperti sabda Rasulullah saw. : قَالَ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم: ((مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إلا كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً، وَمَا سُرِقَ مِنهُ لَهُ صَدَقَةً، وَلا يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إلا كَانَ لَهُ صَدَقَةً)). رواه مسلم. “Tiada seorang muslim menanam sesuatu, maka buahnya dimakan orang lain melainkan pasti jadi sedekah untuknya. Bila buah itu dicuri orang, maka itu juga sedekah untuk orang menanamnya, dan bila pohon dan buahnya dirusak orang maka itu sedekah bagi yang menanamnya.” Marilah kita tanamkan perbuatan baik walau itu bukan pohon maka Allah akan mengurusi sedekah-sedekah kita. Selamat melaksanakan ibadah Jumat yang penuh dengan amalan. Sumber

Apa itu Tafakur dalam Pandangan Islam dan Manfaatnya?

Tafakur adalah salah satu amalan yang dilakukan Rasulullah SAW untuk mengenal Allah SWT secara mendalam. Mengutip dari Ensiklopedi Islam, tafakur berasal dari kata kerja tafakkara yang artinya mempertimbangkan atau memikirkan. Sedangkan secara istilah, Ilma Pratidina (2018: 13) dalam Cinta, Syukur, dan Tafakur mengartikan tafakur sebagai “Suatu perenungan dengan melihat, menganalisa, meyakini secara pasti untuk mendapatkan keyakinan terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan Allah SWT.” Aktvitas ini tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan tauhid, tetapi juga digunakan untuk mengkaji semua kejadian atau masalah yang dihadapi manusia dalam kehidupan sehari-hari. Allah SWT memuji orang-orang yang merenung untuk memperoleh pengetahuan. Dalam surat Ali Imran ayat 190-191, Allah berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk, atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. (Mereka berkata), ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini semua, dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS Ali Imran:190-191). Dengan demikian, tafakur bertujuan untuk mengambil pelajaran. Untuk memahami lebih dalam hakikat tafakur, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini: Perintah Tafakur Tafakur merupakan amalan yang dilakukan oleh para utusan Allah. Nabi Muhammad SAW juga berpesan agar umat Islam selalu merenungkan kekuasaan Allah. Melansir dari Tafakur Sesaat Lebih Baik dari Ibadah Setahun karya K.H. R. Abdullah bin Nuh (2014:4), menurut Abu Said Al-Khudri, Rasulullah pernah bersabda: “Berilah matamu bagian ibadahnya”. Para sahabat bertanya, “Apa bagian ibadah mata itu?” Beliau menjawab, “Membaca Alquran, bertafakur merenungkan isinya, dan mengambil pelajaran darinya.” Tidak hanya sekali Nabi Muhammad mengingatkan umatnya untuk bertafakur. Dari Ibnu Abbas r.a, Rasulullah SAW bersabda: “Renungkanlah apa yang telah diciptakan Tuhan, tetapi jangan kamu renungkan bagaimana keadaan Tuhan itu, sebab dugaanmu takkan sampai ke situ”. Masih mengutip dari sumber yang sama, ketika Nabi Isa AS ditanya apakah ada orang seperti beliau di muka bumi, ia menjawab: “Ya ada, orang yang bila bicara berarti zikir, bila diam sambil berpikir dan mempunyai pandangan yang dalam, itulah orang seperti aku”. Manfaat Tafakur Apabila ilmu telah merasuk dalam hati, berubahlah keadaan hati. Contohnya tafakur tentang akhirat akan menghasilkan pengetahuan bahwa akhirat-lah yang utama. Jika ini telah meresap pada hati, seseorang akan berorientasi pada akhirat dan zuhud terhadap masalah dunia. Ketika hati telah berubah, amal anggota badan juga mengikutinya. Hasilnya, orang tersebut akan melakukan amalan-amalan yang diperintahkan oleh Allah SWT. Selain itu merenung juga dapat menentramkan hati sehingga menghasilkan stabilitas emosi. Ini sebagaimana firman Allah dalam surat Ar-Ra’d ayat 28 yang artinya “Ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram” (Q.S Ar-Ra’d:28). Sumber

Mitos tentang Bulan Safar dan Bantahan Rasulullah SAW

Dalam khazanah Islam, bulan yang termasuk banyak peristiwa bersejarah terjadi adalah Safar. Safar adalah bulan kedua setelah bulan Muharram pada sistem penanggalan Hijriyah. Meskipun Safar dikenal sebagai bulan keislaman, namun tak jarang terdapat berbagai kalangan yang salah dalam memaknai bulan tersebut. Bahkan terdapat anggapan bahwa Safar, dapat mendatangkan suatu kesialan. Masyarakat Arab jahiliyyah dulu, mempercayai Safar sebagai bulan penuh kesialan, kemalangan dan hal-hal buruk lainnya. Mereka percaya bahwa pada bulan tersebut, akan datang berbagai kemalangan yang dapat menimpa siapa saja. Kepercayaan tersebut bahkan tetap ada sampai masa Rasulullah SAW.Safar sendiri dalam bahasa Arab berarti “kosong”, makna ini merujuk pada kebiasaan masyarakat Arab dulu yang terbiasa berpergian meninggalkan rumah untuk mengumpulkan makanan ataupun untuk keperluan perang. Akan tetapi sebagian orang Arab dulu mengartikan Safar juga sebagai sejenis penyakit dalam perut, berbentuk ulat besar yang mematikan. Karena kepercayaan itu pulalah orang Arab dulu menganggap Safar sebagai bulan sial atau bulan nahas. Mengutip dari buku karangan H A Zahri berjudul “Pokok-Pokok Akidah yang Benar”, kepercayaan bahwa Safar mendatangkan kesialan dapat disebut juga sebagai jenis khurafat atau mitos. Yakni secara bahasa artinya cerita bohong dan secara istilah khurafat berarti cerita rekaan atau khayalan. Kepercayaan tersebut bahkan dibantah langsung oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang berbunyi: لا عدوى ولا طيرة ولا هامَة ولا صَفَر “Tidak ada kesialan karena ‘adwa (keyakinan adanya penularan penyakit), tidak ada thiyarah (menganggap sial sesuatu hingga tidak jadi beramal), tidak ada hammah (keyakinan jahiliyah tentang rengkarnasi) dan tidak pula Safar (menganggap bulan Safar sebagai bulan haram atau keramat).” (HR Bukhari) Muhammad Khoirul Huda dalam bukunya Ilmu Matan Hadis, menyitir Abu ‘Ubaid bahwa melalui hadits di atas, Rasulullah SAW sedang berupaya mengkritik keyakinan khurafat kaum jahiliyyah. Yaitu keyakinan bahwa kesialan, keburukan nasib, dan mara bahaya disebabkan sesuatu di luar takdir Allah seperti karena pengaruh hama/wabah (‘adwa), maupun musim atau waktu tertentu seperti Safar. Kepercayaan semacam itu bukanlah bagian dari ciri orang beriman, yakni orang yang memahami bahwa segala rahasia dari peristiwa-peristiwa itu hanya ada dalam genggaman Allah SWT, dan tidaklah suatu peristiwa itu terjadi melainkan karena rencana-Nya. Bukanlah keyakinan seorang mukmin pula untuk membenci Safar, ataupun enggan menyambutnya, ataupun menahan diri dari urusan hidup seperti pada hari-hari dan bulan lain biasanya. Penulis: Dimas Fakhri Br/Nashih Sumber

Golongan yang Berhak Menerima Sedekah dan Urutannya

Sedekah itu ibadah yang dimuliakan Allah SWT, tetapi ada golongan yang berhak menerima sedekah secara khusus dan ada urutannya. Jangan sampai salah ya. Sedekah merupakan ibadah yang bisa dilakukan kapan saja oleh setiap orang yang beriman. Baik itu sedang lapang, maupun saat sedang sempit. Namun, golongan yang berhak menerima sedekah itu ada ketentuannya sendiri. Sebaiknya hal ini diketahui oleh setiap muslim dan sebenarnya sedekah itu terdiri atas beberapa macam. Diharapkan dengan sedekah ini umat Islam bisa meningkatkan rasa empatinya terhadap sesama. Selain itu, sedekah juga memberikan banyak manfaat termasuk kebaikan untuk di hari kiamat kelak. Keterangan Mengenai Golongan yang Berhak Menerima Sedekah Mengenai golongan-golongan yang berhak untuk menerima sedekah ini, Nabi Muhammad SAW telah bersabda: ا ذا كان ا حدكم فقيرا فليبدا بنفسه فعلى قرابته ا و فضلا وا ن كان فعلى عياله فضلا وا ن كان قال: على ذي رحمه وا ن كان فضلا فها هنا وها هنا “Jika salah seorang diantara kamu miskin, hendaknya dimulai dengan dirinya. Dan jika dalam itu ada kelebihan, barulah diberikan untuk keluarganya. Lalu apabila ada kelebihan lagi, maka untuk kerabatnya,” atau sabdanya, “Untuk yang ada hubungan kekeluargaan dengannya. Kemudian apabila masih ada kelebihan, barulah untuk ini dan itu.” (HR. Ahmad dan Muslim) Dengan melihat hadits tersebut, bisa diketahui siapa saja yang termasuk golongan yang berhak menerima sedekah, sekaligus dengan urutannya. Urutan ini maksudnya golongan mana saja yang harus lebih didahulukan. Berikut informasi lebih lengkapnya. 1. Sanak Keluarga Dalam hadits di atas, sangat jelas bahwasanya golongan yang paling layak untuk menerima sedekah ialah sanak keluarga. Terutama apabila apa yang akan disedekahkan sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam kitab Al Majmu’ Syarah Al Muhadzab Imam Nawawi juga telah disebutkan bahwasanya para ulama juga sudah sepakat bahwasanya kerabat itu adalah orang yang paling utama dalam mendapatkan sedekah. Selain isi kitab tersebut, hal ini juga didukung dengan hadits Nabi Muhammad SAW sebagai berikut: قال رسول االله صلى االله عليه وسلم ا فضل الصدقة الصدقة على ذي الرحم الكاشح “Sedekah yang paling utama ialah sedekah kepada kaum kerabat yang memendam rasa permusuhan.” (HR Tabhrani) Imam Baghawi juga menjelaskan bahwasanya orang yang paling utama dalam menerima sedekah ialah keluarga. Keluarga yang dimaksud di sini ialah keluarga yang menjadi tanggung jawab orang tersebut seperti istri, anaknya yang usianya masih kecil dan sebagainya. 2. Orang Terdekat yang Membutuhkan Kalau kebutuhan sanak keluarga sudah terpenuhi dan masih ada hal yang bisa disedekahkan, sedekah yang selanjutnya dianjurkan untuk diberikan kepada orang terdekat yang membutuhkan. Orang terdekat ini bisa tetangga yang kurang mampu. Duda, janda serta anak yatim piatu juga berhak menerimanya. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu yang artinya: Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak masakan berkuah, maka perbanyaklah kuahnya, dan perhatikanlah tetanggamu. (HR. Muslim). 3. Orang Lain Setelah bersedekah kepada keluarga serta orang terdekat dan masih ada kelebihan rezeki, sedekah bisa diberikan kepada siapapun dan juga dimanapun. Akan tetapi, sebaiknya sedekah diberikan kepada orang-orang yang benar-benar membutuhkan. Manfaatkan Lembaga Penyalur Sedekah Terkait dengan urutan atau skala prioritas orang yang berhak menerima sedekah ini, Imam Nawawi memberikan catatan tambahan. Catatan ini ialah skala prioritas tersebut harus tetap mempertimbangkan kemampuan finansial orang yang akan menerima. Catatan tersebut beliau kutip dari Ashabus Syafi’i. Maksud dari mempertimbangkan kemampuan finansial ialah keluarga yang akan menerima sedekah adalah yang terkategori miskin, fakir atau punya banyak hutang. Kalau merasa bingung dengan siapa yang berhak menerima sedekah tersebut, bisa memanfaatkan lembaga penyalur sedekah saja. Lembaga amal atau lembaga penyalur sedekah seperti ini akan membantu memastikan sedekah yang Anda berikan sampai ke tangan orang yang memang berhak. Tidak ada salahnya juga jika ke depannya seseorang menyisihkan sebagian hartanya kemudian diberikan kepada lembaga tersebut agar disampaikan kepada golongan yang berhak. Akan tetapi, kenali dulu lembaga tersebut lebih jauh. Pastikan bahwa lembaga yang dimaksud adalah lembaga yang jujur. Tujuannya supaya ada lebih banyak orang tidak mampu yang bisa tertolong dengan harta yang sudah disisihkan dengan sengaja itu. Macam-Macam Sedekah Selain perlu mengetahui siapa saja golongan yang berhak menerima sedekah, perlu diketahui juga bahwa sedekah itu macam-macam. Macamnya sedekah ini mencakup sedekah materi dan sedekah non materi yang dapat dirinci seperti pada penjelasan berikut ini. 1. Sedekah Materi – Memberi Makan pada Hewan Bersedekah itu tidak hanya dapat dilakukan ke sesama manusia saja, namun ke hewan juga. Contoh paling mudah bersedekah pada hewan ialah dengan memberinya makan. Misalnya, dengan memberi makan kucing yang sedang kelaparan di jalan. Atau memberikan nasi yang sudah tidak dimakan lagi kepada ayam. Memang hewan, terutama hewan liar bisa mencari makanannya sendiri. Akan tetapi dalam beberapa kondisi mereka juga memerlukan bantuan manusia. Saat inilah, manusia bisa memanfaatkannya untuk mendapatkan pahala sedekah. – Bersedekah Barang Memberikan barang juga termasuk sedekah. Barang yang dimaksud di sini tentunya barang yang masih layak pakai dan layak untuk diberikan kepada orang lain. Contohnya sepatu, buku, baju hingga alat elektronik. – Bersedekah Makanan Memberikan makanan kepada orang lain adalah salah satu sedekah yang paling sering dilakukan. Sedekah seperti ini selain bisa diberikan kepada orang yang melakukan perjalanan, atau orang-orang yang berada jauh di luar sana, juga bisa diberikan kepada tetangga sekitar. Makanan ini juga tidak harus makanan yang sudah siap santap. Bahan masakan yang masih diolah juga bisa termasuk memberikan buah-buahan. – Bersedekah Uang Setiap kali menyebutkan bersedekah dengan harta, yang sering terbayang di benak seseorang adalah uang. Selain bersedekah dengan makanan, sedekah dengan uang juga termasuk salah satu kegiatan yang sering dilakukan orang-orang. Bersedekah dengan uang juga tidak perlu dilakukan dalam jumlah yang sangat banyak. Sesuaikan saja dengan kemampuan, karena bersedekah dengan uang ini bisa dilakukan dengan jumlah berapa saja. Bersedekah dengan uang juga bisa dilakukan di mana saja, termasuk di masjid. Di masjid sudah tentu ada kotak amalnya bukan? Memasukkan sejumlah uang ke dalamnya juga merupakan sedekah. Ada juga sedekah menggunakan uang tetapi sering tidak disadari, yakni ketika membeli sesuatu. Contoh, Amir sedang berjalan-jalan dan melihat seorang nenek berjualan truk mainan. Amir memutuskan membeli mainan tersebut walaupun tidak membutuhkannya karena sudah besar. Tindakan seperti ini juga termasuk sedekah. 2. Sedekah Non Materi – Senyum Kalaupun tidak punya uang, bahan makanan, pakaian bekas dan materi lainnya untuk disedekahkan, seseorang masih bisa

Olahraga dalam Pandangan Islam

Banyak orang memiliki anggapan, bahwa olahraga adalah sesuatu yang dilarang dalam Islam, karena ia merupakan sesuatu yang dapat melalaikan seseorang dari dzikir kepada Allah. Asumsi di atas tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya salah. Ia benar jika olahraga yang dilakukan memang benar-benar melalaikan seseorang dari Allah. Namun, ia juga menjadi salah dalam kondisi tertentu, yang tidak sesuai dengan anggapan di atas. Olahraga dalam Islam adalah sesuatu yang ma’ruf, karena beberapa alasan sebagaimana berikut ini: PERTAMA, SEBAGAI SARANA MENJAGA DIRI. Seorang muslim wajib untuk menjaga diri dari serangan musuh. Tentunya, ia membutuhkan tubuh yang kuat untuk melakukannya. Dengan rutin berolahraga, seorang muslim dapat memiliki tubuh yang kuat yang dapat ia gunakan sebagai penjagaan diri. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam sendiri adalah pribadi yang gemar berolahraga. Beliau sering mengadakan adu lari cepat dan adu ketangkasan berkuda dengan para sahabat sebagaimana dapat kita baca dalam hadits-hadits. KEDUA, SEBAGAI SARANA MENJAGA KESEHATAN. Tubuh kita adalah nikmat yang telah Allah berikan kepada kita. Nikmat ini harus selalu kita syukuri, salah satunya dengan menjaga kesehatannya. Dengan tubuh yang sehat, seseorang juga dapat beribadah dengan tenang dan nyaman. Oleh karena itu, olahraga juga sangat penting untuk kita lakukan jika konteksnya adalah untuk menjaga kesehatan tubuh. Itulah setidaknya dua alasan bagi kita untuk mengatakan bahwa seorang muslim juga sangat penting untuk selalu berolahraga. Hanya saja, ketika berolahraga kita juga harus menjaga aturan-Nya agar tidak terjatuh dalam kemaksiatan yang dilarang oleh Allah. Oleh karena itu, mari selalu belajar. Sumber

Jum’at Istimewa

Nabi Adam Diciptakan Keutamaan hari Jumat yang pertama adalah penciptaan Nabi Adam. Rasulullah SAW menyebut, Nabi sekaligus manusia pertama tersebut diciptakan Allah SWT pada hari Jumat dengan penuh kemuliaan. Berikut sabdanya, “Hari terbaik di mana matahari terbit di dalamnya ialah hari Jumat. Pada hari itu Adam Alaihissalam diciptakan, dimasukkan ke surga, dikeluarkan daripadanya dan kiamat tidak terjadi kecuali di hari Jumat.” (H.R Muslim). Hari Suci bagi Muslimin Selain itu, keutamaan hari Jumat berikutnya yakni merupakan satu-satunya waktu suci di antara hari-hari lainnya. Maka dari itu, diwajibkan bagi para lelaki maupun wanita muslim untuk senantiasa beribadah kepada Allah dan meninggalkan urusan dunia seketika. “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk menunaikan salat pada hari Jumat maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.” (QS Al Jumu’ah [62]:9). Pahala Dilipatgandakan Pada hari Jumat, seluruh amalan yang telah dikerjakan seorang muslim akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT. Keutamaan hari Jumat yang satu ini disebut dalam firman Allah yang berbunyi sebagai berikut, “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha luas, Maha Mengetahui.” (QS. Al Baqarah:216). Waktu Mustajab untuk Berdoa Tak hanya sebagai bentuk ketaatan kepada Allah, beribadah di hari Jumat juga merupakan waktu yang tepat untuk senantiasa meminta pertolongan-Nya. Sebab, hari Jumat disebut sebagai waktu yang mustajab untuk memanjatkan doa. Berikut dalilnya, “Pada hari jumat ada 12 jam. Diantaranya ada satu waktu, apabila ada seorang muslim yang memohon kepada Allah di waktu itu, niscaya akan Allah berikan. Carilah waktu itu di penghujung hari setelah Ashar.” (HR. Abu Dawud) Dosa Terampuni Keutamaan hari Jumat yang berikutnya adalah diampuninya dosa-dosa. Manusia memang tak dapat luput dari kesalahan dan dosa. Maka dari itu, diampuninya dosa-dosa menjadi salah satu keutamaan hari Jumat yang luar biasa. “Barang siapa berwudlu kemudian memperbaiki wudlunya, lantas berangkat Jumat, dekat dengan Imam dan mendengarkan khutbahnya, maka dosanya di antara hari tersebut dan Jumat berikutnya ditambah tiga hari diampuni.” (HR. Muslim) Terjaga dari Fitnah Kubur Imam Ahmad dan Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Abdillah bin ‘Amr bin al-‘Ash, barang siapa yang meninggal dunia pada hari Jumat, maka ia terjaga dari fitnah kubur. Berikut dalilnya, “Tiada seorang Muslim yang mati di hari atau malam Jumat, kecuali Allah menjaganya dari fitnah kubur.” Sumber