Lazdai Salurkan Al-Qur’an untuk Ponpes dan TPA di Lampung Selatan
Bantuan Al-Qur’an untuk Pondok Pesantren Darul Arkam Bandar Lampung (28/7), Lazdai berikan bantuan untuk Pondok Pesantren Darul Arkom yang bertempat di Desa Semana Kecamatan Bakauheni Kabupaten Lampung Selatan. Pondok Pesantren Darul Arkom merupakan pondok pesantren salafiyah pindahan dari Sidomulyo Lampung Selatan. Pondok ini baru berdiri sekitar 1 tahun, namun dalam perjalanannya lahan yang digunakan untuk lokasi pondok tersebut menjadi sengketa antara 2 desa yang sama-sama mengakui bahwa lokasi tersebut berada di desa itu. Dikarenakan tidak menemui kesepakatan antara kedua desa, maka pimpinan pondok pesantren Darul Arkom memutuskan untuk pindah ke Bakauheni. Pondok yang kini berdiri di atas tanah waqaf peninggalan orang tua dari pimpinan pondok tersebut baru memiliki sekitar 30 santri putra dan putri dengan fokus belajar Al-Qur’an dan kitab-kitab. kehadiran pondok tersebut juga disambut dengan sangat antusias oleh masyarakat sekitar, ini dapat dibuktikan dari seringnya para santri dan santriwati dilibatkan dalam kegiatan keagamaan maupun kegiatan lainnya di lingkungan. (red.nh)
Penerimaan Siswi RPD Kelas Menjahit Gratis Angkatan 2
Rumah Pemberdayaan Dhuafa (RPD) Lembaga Amil Zakat Dompet Amal Insani (LAZDAI) Lampung menerima siswi baru kelas menjahit gratis angkatan kedua. dengan persyaratan sebagai berikut.1. Muslimah2. Usia 17-25 Tahun3. Pendidikan Minimal SMP dan Maksimal SMA/K sederajat4. Menyerahkan Berkas Pendaftaran : 1). Formulir Pendaftaran (diambil di kantor Lazdai) 2). Fotocopy KTP dan KK 3). Fotocopy Ijazah/Raport Terakhir 4). Fotocopy Sertifikat/Piagam (jika ada) 5). Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari Kelurahan5. Berkomitmen Mengikuti Program Pembelajaran selama 6 bulan6. Tidak sedang bekerja atau kuliah Fokus Belajar:1. Pengenalan Mesin Jahit2. Proses Menjahit (Pengukuran, Pembuatan Pola, Pemotongan, Menjahit, Obras)3. Tahsin dan Tahfidz Al-Qur’an4. Materi Keislaman5. Motivasi dan Kewirausahaan Fasilitas:1. Ruang kelas dan praktikum yang nyaman2. Perlengkapan jahit memadai3. Tutor kompeten dan berpengalaman4. Makan siang5. Transpot harian Waktu Belajar:3 hari dalam sepekan, jam 08.30 sd 15.30 Waktu Pendaftaran:11 Juli s/d 10 Agustus 2019 Tes & Wawancara:26 agustus 2019, Pukul 08.30 s/d selesai (akan diinformasikan melalui wa/sms jika ada perubahan) Mulai Belajar:9 September 2019 Informasi & Pendaftaran:081808589874 (sms/wa/telp)(0721) 769 4477 Head Office:Jln. Darussalam, Perumahan Bilabong jaya Blok B1. NO.11 KEL. BILABONG KEC. LANGKAPURA KOTA BANDAR LAMPUNG. Bayar Zakat, Infaq/Sedekah : BNI Syariah Zakat 0285 076 892 Infaq 0285 076 122 an. Yayasan Amal Insani Bank Syariah Mandiri (BSM) 7007 048 108 an. Lazdai Konfirmasi : 0812 7946 227
Penerimaan Siswa Baru RPD Kelas Desain Grafis
Rumah Pemberdayaan Dhuafa (RPD) LAZDAI kembali membuka pendaftaran siswa baru untuk kelas desain grafis dan multimedia angkatan ke 13 dengan jumlah kuota 34 siswa. Program yang ditujukan khusus untuk remaja dari keluarga dhuafa, yatim / putus sekolah ini bertujuan untuk memberikan pelatihan lifeskill dan kewirausahaan kepada para siswa agar menjadi pemuda/i yang sholeh dan sholehah, berdaya dan mandiri serta siap terjuan dalam dunia kerja maupun berwirausaha. Program pelatihan gratis ini akan berlangsung selama 6 bulan reguler dan 2 bulan magang. Persyaratan bagi calon siswa yang akan mengikuti program ini adalah sebagai berikut:1. Laki-laki (muslim)2. Usia 17 -25 thn3. Berkomitmen mengikuti sistem pelatihan selama 6 bulan4. Mendapat izin dari keluarga5. Pendidikan minimal SMP dan maksimal SMA/K sederajat6. Menyerahkan berkas pendaftaran : 1). Formulir pendaftaran (diambil di kantor lazdai) 2). Fotocopy Akta Kelahiran, KTP & KK 3). Fotocopy Ijazah/Raport terakhir 4). Fotocopy sertifikat/piagam (jika ada) 5). Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari kelurahan.7. Tidak sedang bekerja/kuliah8. Lulus tes dan wawancara Fokus Belajar :1. Microsoft Office (word, excel, powerpoint)2. Desain Grafis (coreldraw/photoshop)3. Video Editing4. Kewirausahaan dan Pemasaran5. Tahsin & Tahfiz Al-Qur’an6. Materi Keislaman7. Motivasi dan Kedisiplinan8. Ekskul (futsal, beladiri, sepak bola, renang) Fasilitas :1. Ruang kelas dan ruang praktikum yang nyaman2. perlengkapan belajar yang memadai3. Tutor yang kompeten dan berpengalaman4. Sertifikat5. Penempatan kerja (kondisional)6. Makan siang7. Transort harian Waktu Belajar :Senin – Jum’at, pukul 08.00 s/d 16.00 Waktu Pendaftaran :10 Juli s/d 19 Agustus 2019, Pukul 09.00 s/d 15.00 Tes dan Wawancara :26 Agustus 2019, Pukul 08.30 s/d selesai Pengumuman :31 Agustus 2019 Mulai Belajar :2 September 2019 Informasi dan Pendaftaran :081808589874 (sms/wa/telp)(0721) 769 4477 Head Office.Alamat : Jl. Darusalam ,Perumahan Bilabong jaya blok B1. No.11 Kel. Bilabong Kec.Langkapura Kota.Bandar Lampung Bayar Zakat, Infaq/Sedekah : BNI Syariah Zakat 0285 076 892 Infaq 0285 076 122 an. Yayasan Amal Insani Bank Syariah Mandiri (BSM) 7007 048 108 an. Lazdai Konfirmasi : 0812 7946 227
Laznas Yakesma dan Lazdai serahkan 800 paket Al Qur’an untuk Lampung Selatan
Laznas Yakesma dan Lazdai serahkan 800 paket Al Qur’an untuk Lampung Selatan Kalianda (17/7), Lembaga Amil Zakat Nasional Yayasan Kesejahteraan Madani (Laznas Yakesma) bersama Lembaga Amil Zakat Dompet Amal Insani (Lazdai) serahkan 800 paket Al-Qur’an dan 700 paket Iqro untuk Lampung Selatan. Program yang bertajuk “Dakwah Nusantara Sedekah Al-Qur’an untuk Lampung” ini dilaksanakan di beberapa lokasi berbeda diantaranya MA Al -Khairiyah, SDN 1 dan SDN 2 Desa Way Juli, kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, serta beberapa lokasi lainnya. Selain berbagi Al-Qur’an, Ustadz Zulfikar yang mewakili Laznas Yakesma Jakarta ini juga memberikan motivasi kepada para siswa untuk lebih semangat dalam belajar dan mengejar cita-citanya setinggi mungkin meski dalam kondisi apapun. Para siswa dengan penuh semangat menyambut seruan ustadz Zulfikar, salah satu siswi bernama ratih menyampaikan cita-citanya, bahwa setelah lulus SMA nanti Ia akan berusaha melanjutkan kuliah agar bisa menjadi seorang dokter. Pak wardal selaku kepala sekolah MA Al-Khairiyah mengucapkan banyak terima kasih kepada Yakesma dan Lazdai atas bantuan al-qur’an yang diberikan. Begitu juga di lokasi yang lain, para siswa dan pihak sekolah sangat senang dan berterima kasih kepada para donatur yang telah melaksanakan program ini.
Nikmatnya Berbagi
Kekuatan Berbagi dan Kenikmatan Berbagi Kekuatan Berbagi, jargon itu menjadi judul buku salah satu ustaz terkenal di Indonesia. Ada lagi ustaz yang lain yang menyebut bahwa sedekah itu jangan dihitung-hitung. Islam sendiri telah mensyariatkan hukum positif untuk bersedekah atau memberi. Baik itu sunah maupun wajib. Dari hal terkecil hingga terbesar, baik dari segi nilai maupun dampaknya. Secara garis besar, berbagi itu tidak sebatas hanya memberi harta berupa uang. Dalam Islam, sebuah senyum kepada orang lain pun merupakan sebuah sedekah, sebagaimana Rasulullah bersabda, “Senyummu terhadap wajah saudaramu adalah sedekah.” (HR. Tirmidzi 1956, ia berkata: “Hasan gharib”. Dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih At Targhib). Kenikmatan Berbagi Banyak studi yang mengatakan bahwa berbagi itu berdampak kebahagiaan bagi sang pemberi. Di antaranya seperti yang dilansir oleh Hidayatullah.com, Studi tahun 2006 oleh Jorge Moll dari National Institutes of Health menemukan bahwa ketika seseorang melakukan donasi kepada suatu yayasan, beberapa area di otak yang terkait dengan kenyamanan, koneksi sosial, dan rasa percaya turut aktif dan menciptakan efek “warm glow”. Para peneliti juga percaya bahwa ketika melakukan tindakan altruistik, otak akan melepaskan endorfin, memproduksi perasaan positif yang disebut “helper’s high.” Fenomena tersebut dapat terjadi karena ketika menolong orang, otak memproduksi hormon dopamine (yang memberi perasaan bahagia dan keyakinan bahwa yang kita lakukan adalah hal yang benar) serta hormon oxytocin yang dikenal dapat mengurangi stres, meningkatkan fungsi imunitas, dan mengembangkan rasa percaya dalam interaksi antar manusia. Sikap dermawan juga berkorelasi dengan kesehatan. Salah satunya adalah penelitian Stephanie Post yang dimuat dalam bukunya, Why Good Things Happen To Good People, yang menyatakan bahwa berbagi dengan sesama dapat meningkatkan kesehatan penderita penyakit kronis seperti HIV. Sementara itu, Islam secara jelas menerangkan manfaat dari berbagi. Di antranya, Pertama, Allah telah menjamin pahala yang besar bagi muslim yang bersedekah. Allah berfirman, “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS: Al Hadiid: 7) Kedua, berbagi dapat menambah kualitas dan kua titas barang yang diberikan, baik itu harta, maupun pelayanan. Rasulullah bersabda, ““Sesungguhnya tidak akan berkurang harta yang disedekahkan, kecuali bertambah dan bertambah.” (HR. Tirmidzi). Ketiga, berbagi atau sedekah, dapat mencegah bencana. Rasulullah menyampaikan bahwa bencana dapat dicegah dengan sedekah, seperti dalam sebuh hadist, “Hiasilah waktu pagimu dengan sedekah, niscaya bala’ tidak menghampiri.” (at – Targhin wa at – Targhib 2/20,39). Keempat, penelitian diatas ternyata memperkuat pernyataan Rasulullah saw bahwa sedekah dapat menjadi obat. “Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah.” (HR. Thabrani dan Baihaki). Menunda Sedekah Allah telah menjamin kebaikan yang berlipat ganda dari berbagi, terutama sedekah harta. Walau demikian, terkadang masih ada kata ‘nanti’ ketika hendak melakukannya. Ketika ada sebuah kotak amal lewat dan dilihat tidak ada nominal yang dirasa belum pas untuk disedekahkan, maka sedekahpun tak jadi dilakukan. Sangat disayangkan. Ada kasus ketika seorang bersedekah ketika dia sudah ‘ditampar’ oleh Allah dengan kehilangan sesuatu yang dicintainya. Setelah kehilangan, dia baru menyadari bahwa sedekahnya sangat kurang. Memang itu tidak salah. Namun, akan lebih baik jika dari awal orang tersebut bersedekah sebelum musibah itu terjadi. Bukankah sedekah itu pencegah bencana? Menjemput Kenikmatan Sedekah Membiasakan diri bersedekah setiap hari, terutama di pagi hari mejadi cara yang ampuh untuk merasakan berbagai kenikmatan di balik berbagi. Saat ini banyak lembaga zakat yang memfasilitasi masyarakat untuk berbagi dengan berbagai programnya, seperti DPU Daarut Tauhiid yang menggulirkan program Kencleng. Kemudian yang paling penting adalah seorang muslim sepatutnya terus menambah ilmu mengenai berbagi atau sedekah, dari mulai ilmu zakat hingga wakaf. Dengan teknologi informasi sekarang, ilmu tersebut dapat diakses dengan mudah. Selain itu, bersilaturahim kepada ulama dan menghadiri kajian ilmu juga menjadi pilihan yang wajib dilakukan. Semoga kita semua digolongkan menjadi ahli sedekah. Amiin. Wallahu a’lam. Source : https://kampoengberbagi.id/the-power-of-giving-dan-kenikmatan-berbagi/
Saling Memberikan Nasihat untuk Mempelajari Al Qur’an
Saling Memberikan Nasihat adalah Sebab Keberuntungan Termasuk hal yang tidak diragukan lagi bagi orang yang berakal sehat adalah bahwa umat ini membutuhkan orang-orang yang dapat mengarahkan dan menunjukkan mereka kepada jalan keselamatan. Umat Islam adalah umat yang paling menonjol dalam menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar. Merupakan kewajiban setiap muslim sesuai dengan kemampuan dan kesanggupannya, untuk bersungguh-sungguh memberikan nasihat dan peringatan sampai gugur kewajibannya dan dapat memberikan petunjuk kepada orang lain. Allah Ta’ala berfirman, وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 55). Tidak ada keraguan lagi bahwa setiap mukmin -bahkan setiap manusia- sangat membutuhkan nasihat tentang hak-hak Allah dan hak-hak hamba-Nya serta dorongan untuk menunaikannya. Demikian juga, manusia sangat butuh untuk saling berwasiat dalam kebenaran dan bersabar di atasnya. Sungguh Allah Ta’ala telah mengabarkan tentang sifat orang-orang yang beruntung dan amal mereka yang terpuji di dalam kitab-Nya. Allah Ta’ala juga mengabarkan tentang sifat-sifat orang yang merugi dan akhlaknya yang tercela. Hal itu terdapat pada ayat yang sangat banyak di dalam Al Qur’an. Dan Allah Ta’ala telah mengumpulkannya dengan menyebutkannya di dalam surat Al ’Ashr, وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3) “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih, saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya tetap di atas kesabaran” (QS. Al-’Ashr [103]: 1-3). Allah Ta’ala memberikan petunjuk kepada hamba-Nya di dalam surat yang ringkas namun sangat agung ini bahwa sebab keberuntungan itu terbatas kepada empat sifat saja. Yang pertama, iman. Yang kedua, amal shalih. Yang ketiga, saling menasihati dalam kebenaran. Yang keempat, saling menasihati dalam kesabaran. Barangsiapa yang menyempurnakan keempat hal ini, maka dia akan mendapatkan keberuntungan yang sangat besar. Dia juga berhak mendapatkan kemuliaan dari Rabb-Nya dan kemenangan dengan nikmat yang akan dia raih pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang menjauhkan diri dari keempat sifat ini dan tidak berakhlak dengannya, maka dia akan mendapatkan kerugian yang sangat besar, yaitu dimasukkan ke neraka jahannam. Allah Ta’ala telah menjelaskan di dalam kitab-Nya yang mulia tentang sifat-sifat orang yang beruntung, merincinya dan mengulang-ulangnya pada banyak ayat dalam kitab-Nya. Sehingga orang-orang yang mencari keselamatan dapat mengetahuinya, berakhlak dengannya dan berdakwah kepadanya. Mempelajari Al-Qur’an Al-Karim Allah Ta’ala juga telah menjelaskan sifat-sifat orang yang merugi dalam banyak ayat. Sehingga kita dapat mengetahuinya dan menjauhkan diri darinya. Barangsiapa yang merenungi Kitabullah dan banyak membacanya, maka dia akan mengetahui sifat-sifat orang yang beruntung dan sifat-sifat orang yang merugi secara rinci. Sebagaimana yang telah Allah Ta’ala jelaskan dalam ayat yang sangat banyak. Di antaranya adalah ayat yang telah lewat dan juga firman Allah Ta’ala, إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا “Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang beriman yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (QS. Al Israa’ [17]: 9). Allah Ta’ala berfirman, كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ “Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran” (QS. Shaad [38]: 29). Allah Ta’ala berfirman, وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ “Dan Al-Qur’an ini adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat” (QS. Al-An’aam [6]: 155). Terdapat juga hadits dari Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Yang terbaik di antara kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengamalkannya” (HR. Bukhari). Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam juga bersabda, “Sesungguhnya aku telah meninggalkan sesuatu kepada kalian. Jika Engkau berpegang teguh dengannya, maka Engkau tidak akan pernah tersesat, yaitu kitabullah” (HR. Muslim). Allah Ta’ala menjelaskan dalam ayat di atas bahwa sesungguhnya Dia menurunkan Al-Qur’an agar manusia memperhatikan, memikirkan, mengikuti dan mengambilnya sebagai petunjuk menuju kebahagiaan, kemuliaan dan keselamatan di dunia dan di akhirat. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam mendorong umatnya untuk belajar dan mengajarkannya. Beliau juga menjelaskan bahwa sebaik-baik manusia adalah ahlul Qur’an. Yaitu orang-orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya kepada yang lain untuk mengamalkannya, mengikutinya, menaati aturan-aturannya dan berhukum dengannya. Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam menjelaskan kepada manusia ketika sedang berkumpul dalam jumlah yang sangat banyak pada hari Arafah bahwa sesungguhnya mereka tidak akan tersesat selama mereka berpegang teguh dengan Kitabullah dan menempuh jalan untuk mempelajarinya. Ketika para ulama salafus shalih dan generasi awal dari umat ini menempuh jalan untuk mempelajari Al-Qur’an dan sejarah hidup Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, maka Allah Ta’ala memuliakan mereka, mengangkat derajat mereka dan meneguhkan kedudukan mereka di muka bumi. Hal itu sebagai perwujudan dari janji Allah Ta’ala dalam firman-Nya, وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal shalih bahwa dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku” (QS. An-Nuur [24]: 55). Allah Ta’ala berfirman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanm” (QS. Muhammad [47]: 7). Allah Ta’ala berfirman, وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ (40) الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ (41) “Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, memerintahkan untuk berbuat yang baik dan mecegah dari perbuatan yang munkar. Dan kepada Allah-lah kembali segala urusan”
Iman dan Amal Shaleh
Iman dan Amal Shaleh Sebagai agama yang sempurna, Islam sangat memperhatikan bukan hanya hal-hal yang berhubungan dengan Allah SWT secara vertikal, tetapi juga yang berhubungan dengan sesama manusia secara horizontal. Hal ini terlihat dari doktrin iman dan amal saleh. Kedua konsep ini merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan karena apabila salah satu dari keduanya tiada maka kesempurnaan dari salah satunya akan berkurang. Iman tanpa amal itu hampa sedangkan amal tanpa iman itu percuma. Iman adalah fondasi sedangkan amal adalah implementasi. Hal ini terlihat dari sabda Nabi SAW: “Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman.” (HR. Ath-Thabrani). Dalam hadis lain, Nabi bersabda; “Celaka orang yang banyak zikrullah dengan lidahnya tapi bermaksiat terhadap Allah dengan perbuatannya.” (HR. Ad-Dailami). Kesatuan konsep iman dan amal ini tergambar dari ayat-ayat Alquran. Di dalam Alquran, Allah SWT sering kali menggandengkan kata iman dengan amal saleh. Seperti dalam firman-Nya: “Dan orang-orang yang beriman serta beramal saleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. (QS Al-Baqarah [2]: 82). Dalam sebuah hadis, Nabi SAW bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka hendaklah ia memuliakan tamunya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR Muslim). Hadis ini dengan jelas memperlihatkan bahwa ada hubungan sebab-akibat antara iman dan amal. Apabila seseorang memiliki keimanan (kepada Allah dan hari kiamat) maka hendaklah ia beramal shaleh, dalam hal ini hendaklah ia berbuat baik kepada tetengganya, memuliakan tamunya, dan berkata baik atau diam. Doktrin iman dan amal shaleh ini juga mencerminkan bahwa Islam bukan hanya mementingkan urusan pribadi (keshalehan individual) tetapi juga sangat peduli dengan urusan sosial (keshalehan sosial). Seorang manusia sempurna (insan kamil) adalah manusia yang teguh imannya dan banyak amal salehnya. Source : https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/03/07/m0igqh-iman-dan-amal-shaleh
Sahabat
Imam Syafi’i Bertutur Tentang Siapa “Teman” “Jika engkau punya teman – yang selalu membantumu dalam rangka ketaatan kepada Allah- maka peganglah erat-erat dia, jangan pernah kau lepaskannya. Karena mencari teman -‘baik’ itu susah, tetapi melepaskannya sangat mudah sekali” Carilah sahabat yang setia dalam duka. Bukan dalam suka, karena hidupmu sentiasa berputar-putar antara suka dan duka. Dan semoga kamu tidak menemukan sahabat di kala suka karena di kala kamu senang sudah biasa banyak orang yang akan mendekat padamu, namun bila giliran kamu susah mereka pun bertepuk tangan. Bila tak kautemukan sahabat-sahabat yang TAQWA, jauh lebih baik kamu hidup menyendiri daripada kamu harus bergaul dengan orang-orang jahat. Percayalah, duduk sendirian untuk beribadah dengan tenang akan lebih menyenangkanmu daripada bersahabat dengan kawan yang mesti kamu waspadai. Selamatkanlah dirimu, jaga lidahmu baik- baik, tentu kamu akan bahagia walaupun kamu terpaksa hidup sendiri. Tidak baik bersahabat dengan pengkhianat karana dia akan mencampakkan cinta setelah dicintai. Dia akan memungkiri jalinan cinta yang telah terbentuk dan akan menampakkan hal-hal yang menjadi rahasiamu. Tak semua orang yang engkau cintai, akn mencintaimu. Dan terkadang sikap ramahmu dibalas dengan sikap tak sopan. Berharaplah engkau mendapatkan sahabat sejati yang tak luntur baik dalam keadaan suka ataupun duka. Jika itu engkau dapatkan, berjanjilah dalam hatimu untuk selalu setia padanya. Apabila engkau menginginkan kemuliaan maka carilah sahabat dari orang orang yang takut kepada Allah Subhanahu Wata A ‘la. Hanya orang yang berjiwa mulia yang dapat menjaga nama baik dirinya dan selalu menghormati sahabatnya, baik ketika hidup maupun setelah mati. Dan setelah kamu temukan, cintai sahabatmu itu dengan segenap jiwa ragamu, seakan-akan kamu mencintai sanak saudaramu. Sahabat yang baik adalah yang sering sejalan denganmu dan yang menjaga nama baikmu ketika kamu hidup ataupun setelah kamu mati…. Tetapi diantaranya … Teman yang tidak berguna saat petaka melanda, Ia hampir sama dengan musuh. Seorang teman tak bisa diharapkan dalam setiap masa, demikian pula saudara, kecuali untuk hiburan Aku mengenal banyak manusia karena aku terus mencari, saudara dan teman yang terpercaya, hingga pencarianku membuatku lelah. Semua negeri menghindariku, hingga seakan para penduduknya bukanlah kumpulan manusia { Imam Syafi’i } Source : https://www.eramuslim.com/islamic-quotes/kala-teman-tak-berguna.htm#.XIiESiIzbIU
Adab Dan Iman
Adab Dan Iman Jika adab hilang pada diri seseorang, maka akan mengakibatkan kedzaliman, kebodohan, dan menuruti hawa nafsu yang merusak KETIKA kalimat adab disebut, yang terlintas dalam kebanyakan benak kita adalah kesopanan, etika atau akhlak. Sejumlah buku menerjemahkan adab dengan kesopanan. Singkatnya, kebanyakan memahami adab sebagai tindak-tanduk atau perilaku yang baik. Jika ditelaah, adab memiliki kedudukan sangat istimewa, penting dan strategis dalam agama Islam. Ia bukan sekedar perilaku dzahir (a’malul jawarih), tetapi juga aktivitas jiwa dan akal. Ketika membincangkan problema terbesar umat Islam di zaman modern, Prof. Syed Naquib al-Attas misalnya, menunjuk pada kalimat the loss of adab. Krisis yang dialami umat Islam sangat kompleks dan beragam, tetapi beliau menyebut akarnya ada di loss of adab. Bahkan, beberapa kalam para ulama terdahulu menunjukkan sikap mendahulukan adabdaripada ilmu. Di antara sedikit beberapa contohnya adalah; Abdurrahman bin al-Qosim (ahli fikih madzhab Maliki dari Mesir yang disebut-sebut murid utama bahkan pewaris ilmu fikih Imam Malik) mengatakan: “Aku berkhidmat kepada imam Malik radhiallahu ‘anhu selama dua puluh tahun. Selama itu, dua tahun aku belajar ilmu, dan delapan belas tahun belajar adab. Seandainya aku jadikan semua rentang waktu tersebut untuk belajar adab”. Sebagian ulama menasihati anaknya: “Wahai anakku, belajar satu bab adab itu sesungguhnya lebih aku sukai daripada kamu belajar tujuh puluh bab ilmu”. Imam Malik pernah menasihati imam Syafi’i radhiallahu ‘anhuma: “Wahai Muhammad (Muhammad bin Idris As-Syafii), jadikanlah ilmu kamu sebagai garam dan adab mu sebagai tepung”. Karena itu, kemungkinan para ulama menulis bab-bab tentang adab yang ditujukan oleh para penuntut ilmu, pelajar, dan al-murid (penganut jalan tariqah sufiyah) dengan landasan pemikiran pentingnya adab dalam agama. Misalnya, ada kitab yang sangat masyhur “Ta’lim al-Muta’allim Thoriq al-Ta’lim” karya imam al-Zarnuji. Imam al-Bukhari menulis suatu kumpulan hadis bernama “Adabul Mufrad”. Ibnu Muqaffa’ menulis kitab “al-Adab as-Shaghir” dan “al-Adab al-Kabir”, yang disebut Rosailu al-Bulagho’. Imam al-Ghazali memiliki risalah kecil berjudul “Kitabul Adab” yang dimasukkan dalam kitab beliau “Roudhotut Thoalibin wa ‘Umdatus Salikin”. Ibnul Jama’ah memiliki karya “Tadzkirotu as-Sami’ wa al-Mutakallim fi Adabi al’Alim wa al-Muta’allim”. Dan dari Nusantara KH. Hasyim Asy’ari menulis kitab yang judulnya mirip dengan judul kitab Ibnul Jama’ah. Judul kitab adabMbah Hasyim adalah “Adabul ‘Alim wal Muta’allim”. Lalu apa pentingnya adab, sehingga para ulama salaf dahulu menaruh perhatian terhadap adab ini? Untuk memahami ini, kita mulai dari kisah sahabat yang ditulis dalam hadis Imam Muslim, berikut ini. Suatu hari seorang laki-laki datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seraya berkata, “Ya Rasulullah! Sungguh si fulanah itu terkenal banyak shalat, puasa, dan sedekahnya. Akan tetapi ia menyakiti tetangga-tetangga dengan mulutnya.”. Maka berkatalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sungguh ia termasuk ahli Neraka.” Kemudian laki-laki itu berkata lagi, “Kalau Si Fulanah yang satu lagi terkenal sedikit shalat, puasa dan sedekahnya, akan tetapi ia tidak pernah menyakiti tetangganya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Sungguh ia termasuk ahli Surga.” (HR.Muslim). Ada satu pelajaran penting dari hadis di atas. Banyaknya ibadah tetapi adabnya rusak tidak membawa manfaat apa pun. Amalnya tidak bisa menyelamatkan dirinya, karena jiwanya buruk. Sebaliknya, jiwa yang bersih meski amalnya sedikit bisa menyelamatkan dirinya. Begitu pula, orang yang bertauhid, mesti berbuat baik kepada manusia. Jika pun akhlaknya buruk, maka ia belum menjadi muslim bertahid yang ideal. Sebaliknya, berbuat baik kepada sesama juga mesti didasari dengan tauhid, keimanan, bukan yang lainnya. Inilah yang disebut muslim yang baik. Adab di sini disandingkan dengan makna akhlak. Oleh para ulama disebut adab dzahir. Begitu juga berbuat baik kepada manusia, akan tetapi meninggalkan shalat misalnya bukan karakter seorang Muslim. Begitu pula, menyembah kepada Allah akan tetapi berbuat buruk kepada tetangga, adalah bukan karakter muslim bertauhid. Salah satu karateristik Islam adalah menjaga adab kepada Allah Subhanahu wa ta’ala sekaligus adab kepada sesama manusia. Adab sendiri adalah mengetahui sesuatu pada tempatnya. Pengenalan serta pengakuan akan hak keadaan sesuatu dan kedudukan seseorang, dalam rencana susunan berperingkat martabat dan derajat, yang merupakan suatu hakikat yang berlaku dalam tabiat semesta. Adab kepada-Nya dengan percaya dan beribadah. Sedang adab kepada manusia adalah memenuhi hak-hak yang mesti diberikan kepada mereka. Atas hal ini, adab berkaitan dengan iman. Imam al-Ghazali menulis rumusan sangat penting tentang adab ini. Bahwa ada korelasi kuat antara; tauhid, iman, syariat dan adab. Ia mengatakan: “Tauhid seseorang menuntut adanya keimanan. Dan keimanan itu menuntut pengamalan syariah. Seseorang yang tidak berpegang pada syariah maka sesungguhnya ia tidak memiliki keimanan (sempurna) dan ketauhidan (sempurna). Sementara syariah menuntut adanya adab. Barangsiapa yang tidak beradab maka sesungguhnya ia tidak mengamalkan syariah (dengan sempurna), tidak berimana (dengan sempurna) dan tauhidnya (tidak sempurna). Meninggalkan adab berarti tertolak oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Maka barang siapa yang adabnya buruk, maka ia tertolak dari pintuk kebenaran” (Imam al-Ghazali, Roudhotu al-Tholibin wa ‘Umdatus Salikin, hal. 11). Rumusan kalimat tersebut diperjelas oleh Imam al-Ghazali bahwa yang ia maksud adab di situ adalah adab dzahir dan adab batin. Jika seseorang itu terlatih adab dzahir dan batinnya, maka ia menjadi seorang sufi yang beradab (sufiy adiib). Ia mengatakan: “Jika jiwa seseorang dilatih dengan adab sunnah (mengamalkan ajaran Allah) maka Allah Subhanahu Wata’ala akan memberi cahaya dalam hatinya dengan cahaya ma’rifah (nurul ma’rifah) (Imam al-Ghazali, Roudhotu al-Tholibin wa ‘Umdatus Salikin, hal. 10). Adab sunnah merupakan adab dzahir. Yakni melaksanakan kewajiban syariah dan anjuran-anjurannya. Yakni mengikuti perintah-perintah Nabi Muhammad, perbuatan-perbuatannya, akhlaknya, dan lain-lain. Seorang hamba bisa wushul (sampai) kepada Allah Subhanahu Wata’ala melalui praktik adab. Sedangkan adab batin adalah penjagaan terhadap hati dari liarnya hawa nafsu. Karena sumber kesesatan akidah sumbernya dari kotornya hati dengan penyakit-penyakit hati (amradhul qulub). Imam al-Ghazali mengatakan: “Penyimpangan dari akidah yang benar itu disebabkan: Hati yang dikuasai oleh hawa nafsu dan fanatik kepada pemikiran ahli bid’ah”. Ciri hati yang dikuasai oleh hawa nafsu ada tiga: cinta kedududukan (hubbul jah), cinta dunia dan cinta harta. Jadi, tiga trilogi cinta inilah yang menjadi racun yang mematikan akidah seorang Muslim.a Terkait hal itu, Ibnul Mubarak pernah mengatakan: “Barang siapa yang meremehkan adabmaka dihukum dengan terhalang mengamalkan sunnah. Barang siapa meremehkan sunnah, akan dihukum terhalang melaksanakan kewajiban. Dan barang siapa meremehkan kewajiban, maka dihukum terhalang dari ma’rifah kepada Allah Subhanahu Wata’ala.” (Sayid Zein bin Smith, al-Manhaj al-Sawiy,hal.197). Dari uraian singat di atas, paling tidak bisa ditarik suatu kesimpulan bahwa memang kunci kebaikan itu ada dalam adab. Dan ternyata adab yang paling urgen adalah adab batin. Bagaimana mengenali hati dan jiwa kita, supaya hati dan jiwa berada pada posisinya yang “sehat”. Seseorang yang kecenderungan hatinya kepada cinta kedudukan, cinta harta dan cinta dunia adalah hati yang tidak beradab. Mestinya dunia itu diletakkan di tangan bukan di hatinya. Cukup logis apa yang dikatakan imam al-Ghazali di atas, kecintaan pada tiga hal ini menjadi sebab penyimpangan dari akidah yang benar. Makanya, imam al-Ghazali memulai Kitab Bidayatul Hidayah dengan nasihat supaya niat mencari ilmu benar, sebab jika niatnya dunia maka sama dengan merobohkan agama. Jika sesuatu itu bersemayam tidak pada posisinya, maka bisa terjadi
