IBU. Berbuat Baik Kepada IBU
IBU Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَاناً حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهاً وَوَضَعَتْهُ كُرْهاً وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْراً حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحاً تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri ni’mat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Qs. Al-Ahqaaf : 15) Ayat diatas menjelaskan akan hak ibu terhadap anaknya. Ketahuilah, bahwasanya ukuran terendah mengandung sampai melahirkan adalah 6 bulan (pada umumnya adalah 9 bulan 10 hari), ditambah 2 tahun menyusui anak, jadi 30 bulan. Sehingga tidak bertentangan dengan surat Luqman ayat 14 (Lihat Tafsiir ibni Katsir VII/280) وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْناً عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14) Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil, kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar daripada kepada ayah. Sebagaimana dikemukakan dalam sebuah hadits, عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ :يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ؟ قَالَ أُمُّكَ، قَالَ ثُمَّ مَنْ، قَالَ أَبُوْكَ Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, belia berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548) Imam Al-Qurthubi menjelaskan, “Hadits tersebut menunjukkan bahwa kecintaan dan kasih sayang terhadap seorang ibu, harus tiga kali lipat besarnya dibandingkan terhadap seorang ayah. Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menyebutkan kata ibu sebanyak tiga kali, sementara kata ayah hanya satu kali. Bila hal itu sudah kita mengerti, realitas lain bisa menguatkan pengertian tersebut. Karena kesulitan dalammenghadapi masa hamil, kesulitan ketikamelahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya. (Lihat Tafsir Al-Qurthubi X : 239. al-Qadhi Iyadh menyatakan bahwa ibu memiliki keutamaan yang lebih besar dibandingkan ayah) Begitu pula dengan Imam Adz-Dzahabi rahimahullaah, beliauberkata dalam kitabnya Al-Kabaair, Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan, seolah-olah sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Dia telah menyusuimu dari putingnya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu. Dia cuci kotoranmu dengan tangan kirinya, dia lebih utamakan dirimu dari padadirinya serta makanannya. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Dia telah memberikanmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu. Seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suaranya yang paling keras. Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik. Dia selalu mendo’akanmu dengan taufik, baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat dia sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga di sisimu. Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar. Engkau puas minum dalam keadaan dia kehausan. Engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu. Engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia perbuat. Berat rasanya atasmu memeliharanya padahal itu adalah urusan yang mudah. Engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek. Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu. Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut. Engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu. Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ‘aalamin. (Akan dikatakan kepadanya), ذَلِكَ بِمَا قَدَّمَتْ يَدَاكَ وَأَنَّ اللَّهَ لَيْسَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ “Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tangan kamu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali bukanlah penganiaya hamba-hamba-Nya”. (QS. Al-Hajj : 10) (Al-Kabaair hal. 53-54, Maktabatush Shoffa, Dar Albaian) Demikianlah dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahabi tentang besarnya jasa seorang ibu terhadap anak dan menjelaskan bahwa jasa orang tua kepada anak tidak bisa dihitung. Yah, kita mungkin tidak punya kapasitas untuk menghitung satu demi satu hak-hak yang dimiliki seorang ibu. Islam hanya menekankan kepada kita untuk sedapat mungkin menghormati, memuliakan dan menyucikan kedudukan sang ibu dengan melakukan hal-hal terbaik yang dapat kita lakukan, demi kebahagiannya. Contoh manusia terbaik yang berbakti kepada Ibunya Dari Abi Burdah, ia melihat Ibnu ‘Umar dan seorang penduduk Yaman yang sedang thawaf di sekitar Ka’bah sambil menggendong ibunya di punggungnya. Orang yaman itu bersenandung, إِنِّي لَهَا بَعِيْرُهَا الْمُـذِلَّلُ – إِنْ أُذْعِرْتُ رِكَابُهَا لَمْ أُذْعَرُ Sesungguhnya diriku adalah tunggangan ibu yang sangat patuh. Apabila tunggangan yang lain lari, maka aku tidak akan lari. Orang itu lalu bertanya kepada Ibn Umar, “Wahai Ibnu Umar, apakah aku telah membalas budi kepadanya?” Ibnu Umar menjawab, “Engkau belum membalas budinya, walaupun setarik napas yang ia keluarkan ketika melahirkan.” (Adabul Mufrad no. 11; Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih) Dalam sebuah riwayat diterangkan: Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya seseorang mendatanginya lalu berkata: bahwasanya aku meminang wanita, tapi ia enggan menikah denganku. Dan ia dipinang orang lain lalu ia menerimanya. Maka aku cemburu kepadanya lantas aku membunuhnya. Apakah aku masih bisa bertaubat? Ibnu Abbas berkata: apakah ibumu masih hidup? Ia menjawab: tidak. Ibnu Abbas berkata: bertaubatlah kepada Allah ‘Azza wa
Menggapai Ketenangan Hati dengan Mengingat Allah
Menggapai Ketenangan Hati dengan Mengingat Allah Seiring dengan makin jauhnya zaman dari masa kenabian shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka semakin banyak pula kesesatan dan bid’ah yang tersebar di tengah kaum muslimin[1], sehingga indahnya sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kebenaran makin asing dalam pandangan mereka. Bahkan lebih dari itu, mereka menganggap perbuatan-perbuatan bid’ah yang telah tersebar sebagai kebenaran yang tidak boleh ditinggalkan, dan sebaliknya jika ada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dihidupkan dan diamalkan kembali, mereka akan mengingkarinya dan memandangnya sebagai perbuatan buruk. Sahabat yang mulia, Hudzaifah bin al-Yaman radhiallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, sungguh perbuatan-perbuatan bid’ah akan bermunculan (di akhir jaman) sehingga kebenaran (sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) tidak lagi terlihat kecuali (sangat sedikit) seperti cahaya yang (tampak) dari celah kedua batu (yang sempit) ini. Demi Allah, sungguh perbuatan-perbuatan bid’ah akan tersebar (di tengah kaum muslimin), sampai-sampai jika sebagian dari perbuatan bid’ah tersebut ditinggalkan, orang-orang akan mengatakan: sunnah (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) telah ditinggalkan.”[2] Keadaan ini semakin diperparah kerusakannya dengan keberadaan para tokoh penyeru bid’ah dan kesesatan, yang untuk mempromosikan dagangan bid’ah, mereka tidak segan-segan memberikan iming-iming janji keutamaan dan pahala besar bagi orang-orang yang mengamalkan ajaran bid’ah tersebut. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan kalau pada saat ini tidak sedikit kaum muslimin yang terpengaruh dengan propaganda tersebut, sehingga banyak di antara mereka yang lebih giat dan semangat mengamalkan berbagai bentuk zikir, wirid maupun shalawat bid’ah yang diajarkan para tokoh tersebut daripada mempelajari dan mengerjakan amalan yang bersumber dari petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau radhiallahu ‘anhum. Tentu saja ini termasuk tipu daya setan untuk memalingkan manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lurus. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari kalangan) manusia dan (dari kalangan) jin, yang mereka satu sama lain saling membisikkan perkataan-perkataan yang indah untuk menipu (manusia)” (Qs. al-An’am: 112). Bahkan, setan berusaha menghiasi perbuatan-perbuatan bid’ah dan sesat tersebut sehingga terlihat indah dan baik di mata manusia, dengan mengesankan bahwa dengan mengerjakan amalan bid’ah tersebut hati menjadi tenang dan semua kesusahan yang dihadapi akan teratasi (??!!). Pernyataan-pernyataan seperti ini sangat sering terdengar dari para pengikut ajaran-ajaran bid’ah tersebut, sebagai bukti kuatnya cengkraman tipu daya setan dalam diri mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا فَإِنَّ اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ “Apakah orang yang dihiasi perbuatannya yang buruk (oleh setan) lalu ia menganggap perbuatannya itu baik, (sama dengan dengan orang yang tidak diperdaya setan?), maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya” (Qs. Faathir:8). Setiap orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala wajib meyakini, bahwa sumber ketenangan jiwa dan ketentraman hati yang hakiki adalah dengan berzikir kepada kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, membaca al-Qur’an, berdoa kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya yang maha Indah, dan mengamalkan ketaatan kepada-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du: 28). Artinya dengan berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala segala kegalauan dan kegundahan dalam hati mereka akan hilang dan berganti dengan kegembiraan dan kesenangan[3]. Bahkan, tidak ada sesuatupun yang lebih besar mendatangkan ketentraman dan kebahagiaan bagi hati manusia melebihi berzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala [4]. Salah seorang ulama salaf berkata, “Sungguh kasihan orang-orang yang cinta dunia, mereka (pada akhirnya) akan meninggalkan dunia ini, padahal mereka belum merasakan kenikmatan yang paling besar di dunia ini.” maka ada yang bertanya, “Apakah kenikmatan yang paling besar di dunia ini?” Ulama ini menjawab, “Cinta kepada Allah, merasa tenang ketika mendekatkan diri kepada-Nya, rindu untuk bertemu dengan-Nya, serta merasa bahagia ketika berzikir dan mengamalkan ketaatan kepada-Nya.”[5] Inilah makna ucapan yang masyhur dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah – semoga Allah U merahmatinya –, “Sesungguhnya di dunia ini ada jannnah (surga), barangsiapa yang belum masuk ke dalam surga di dunia ini maka dia tidak akan masuk ke dalam surga di akhirat nanti.”[6] Makna “surga di dunia” dalam ucapan beliau ini adalah kecintaan (yang utuh) dan ma’rifah (pengetahuan yang sempurna) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (dengan memahami nama-nama dan sifat-sifat-Nya dengan cara baik dan benar) serta selalu berzikir kepada-Nya, yang dibarengi dengan perasaan tenang dan damai (ketika mendekatkan diri) kepada-Nya, serta selalu mentauhidkan (mengesakan)-Nya dalam kecintaan, rasa takut, berharap, bertawakkal (berserah diri) dan bermuamalah, dengan menjadikan (kecintaan dan keridhaan) Allah Subhanahu wa Ta’ala satu-satunya yang mengisi dan menguasai pikiran, tekad dan kehendak seorang hamba. Inilah kenikmatan di dunia yang tiada bandingannya yang sekaligus merupakan qurratul ‘ain (penyejuk dan penyenang hati) bagi orang-orang yang mencintai dan mengenal Allah Subhanahu wa Ta’ala [7]. Demikian pula jalan keluar dan penyelesaian terbaik dari semua masalah yang di hadapi seorang manusia adalah dengan bertakwa kepada Allah U, sebagaimana dalam firman-Nya, وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجاً. وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan baginya jalan keluar (dalam semua masalah yang dihadapinya), dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (QS. ath-Thalaaq: 2-3). Ketakwaan yang sempurna kepada Allah tidak mungkin dicapai kecuali dengan menegakkan semua amal ibadah, serta menjauhi semua perbuatan yang diharamkan dan dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.[8] Dalam ayat berikutnya Allah berfirman, وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْراً “Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menjadikan baginya kemudahan dalam (semua) urusannya.” (Qs. ath-Thalaaq: 4). Artinya: Allah akan meringankan dan memudahkan (semua) urusannya, serta menjadikan baginya jalan keluar dan solusi yang segera (menyelesaikan masalah yang dihadapinya).[9] Adapun semua bentuk zikir, wirid maupun shalawat yang tidak bersumber dari petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun banyak tersebar di masyarakat muslim, maka semua itu adalah amalan buruk dan tidak mungkin akan mendatangkan ketenangan yang hakiki bagi hati dan jiwa manusia, apalagi menjadi sumber penghilang kesusahan mereka. Karena, semua perbuatan tersebut termasuk bid’ah[10] yang jelas-jelas telah diperingatkan keburukannya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
Keutamaan Membaca Shalawat
Keutamaan Membaca Shalawat Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, مَن صلَّى عليَّ صلاةً واحدةً ، صَلى اللهُ عليه عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وحُطَّتْ عنه عَشْرُ خَطياتٍ ، ورُفِعَتْ له عَشْرُ دَرَجَاتٍ “Barangsiapa yang mengucapkan shalawat kepadaku satu kali maka Allah akan bershalawat baginya sepuluh kali, dan digugurkan sepuluh kesalahan (dosa)nya, serta ditinggikan baginya sepuluh derajat/tingkatan (di surga kelak)”[1]. Hadits yang agung ini menunjukkan keutamaan bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan anjuran memperbanyak shalawat tersebut[2], karena ini merupakan sebab turunnya rahmat, pengampunan dan pahala yang berlipatganda dari Allah Ta’ala[3]. Beberapa faidah penting yang terkandung dalam hadits ini: Banyak bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan tanda cinta seorang muslim kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam[4], karena para ulama mengatakan: “Barangsiapa yang mencintai sesuatu maka dia akan sering menyebutnya”[5]. Yang dimaksud dengan shalawat di sini adalah shalawat yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits-hadits beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih (yang biasa dibaca oleh kaum muslimin dalam shalat mereka ketika tasyahhud), bukan shalawat-shalawat bid’ah yang diada-adakan oleh orang-orang yang datang belakangan, seperti shalawat nariyah, badriyah, barzanji dan shalawat-shalawat bid’ah lainnya. Karena shalawat adalah ibadah, maka syarat diterimanya harus ikhlas karena Allah Ta’ala semata dan sesuai dengan tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam [6]. Juga karena ketika para sahabat radhiyallahu ‘anhum bertanya kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “(Wahai Rasulullah), sungguh kami telah mengetahui cara mengucapkan salam kepadamu, maka bagaimana cara kami mengucapkan shalawat kepadamu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Ucapkanlah: Ya Allah, bershalawatlah kepada (Nabi) Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarga beliau…dst seperti shalawat dalam tasyahhud[7]. Makna shalawat kepada nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah meminta kepada Allah Ta’ala agar Dia memuji dan mengagungkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia dan akhirat, di dunia dengan memuliakan penyebutan (nama) beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, memenangkan agama dan mengokohkan syariat Islam yang beliau bawa. Dan di akhirat dengan melipatgandakan pahala kebaikan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, memudahkan syafa’at beliau kepada umatnya dan menampakkan keutamaan beliau pada hari kiamat di hadapan seluruh makhluk[8]. Makna shalawat dari Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah limpahan rahmat, pengampunan, pujian, kemualian dan keberkahan dari-Nya[9]. Ada juga yang mengartikannya dengan taufik dari Allah Ta’ala untuk mengeluarkan hamba-Nya dari kegelapan (kesesatan) menuju cahaya (petunjuk-Nya), sebagaimana dalam firman-Nya,{هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا} “Dialah yang bershalawat kepadamu (wahai manusia) dan malaikat-Nya (dengan memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman” (QS al-Ahzaab:43). وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وآله وصحبه أجمعين، وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين Penulis: Ustadz Abdullah bin Taslim al-Buthoni, MA Source : https://muslim.or.id/4078-keutamaan-membaca-shalawat.html
JSIT Lampung bersama Lazdai Salurkan Puluhan Paket Sembako untuk Korban Banjir Panjang
JSIT Lampung bersama Lazdai Salurkan Puluhan Paket Sembako untuk Korban Banjir Panjang Bandar Lampung, (18/3) Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) Lampung bersama Lazdai salurkan bantuan 30 paket sembako untuk korban banjir bandang di Panjang. Pak Andi (perwakilan JSIT Lampung) didampingi relawan LAZDAI secara simbolis menyerahkan bantuan paket sembako berupa beras dan minyak goreng kepada Ibu Puji selaku koordinator atau penanggung jawab di lingkungan korban bencana banjir bandang Kelurahan Karang Maritim, Kecamatan Panjang, Bandar Lampung. Sambil memberikan sambutan, Pak Andi menyampaikan do’a dan harapannya untuk masyarakat terdampak banjir agar ditabahkan dan dikuatkan menghadapi segala macam musibah dari Allah serta segera kembali normal seperti sebelumnya. Selanjutnya bantuan dibagikan kepada 30 keluarga korban terdampak banjir yang tinggal di RT 2 dan RT 5 secara teratur. Para warga penerima bantuan merasa senang dan mengucapkan banyak-banyak terima kasih atas bantuan yang diberikan.
Keutamaan Membaca Surat Al-Kahfi di Hari Jumat
Keutamaan Membaca Surat Al-Kahfi di Hari Jumat Surat Al Kahfi adalah salah satu surat dalam Al-Qur’an yang terletak di bagian akhir juz 15 dan di awal juz 16. Surat Al Kahfi ini termasuk surat Makiyyah, atau surat yang diturunkan di Kota Makkah. Surat Al Kahfi berjumlah 110 ayat dan menempati urutan ke 18 dari 114 surat yang ada dalam Al Qur’an Surat Al Kahfi adalah salah satu surat yang memiliki banyak keutamaan dan manfaat jika dibaca dan diamalkan dengan benar oleh umat Islam. Surat ini dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk dibaca umat Muslim pada hari Jum’at atau malam Jum’at. Sebenarnya tak harus hari Jum’at saja, namun sangat dianjurkan pada hari tersebut. Karena hari Jum’at adalah hari yang baik bagi umat Islam di seluruh dunia. Nah, berikut ini adalah 4 alasan kuat kenapa kita sebagai umat Islam jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan membaca Surat Al Kahfi dengan penuh penghayatan dan keikhlasan di hari Jum’at. 1. Dapat Melindungi Kita dari Dajjal dan Segala Fitnahnya Konon, dalam beberapa riwayat hadits, makhluk bernama Dajjal ini adalah seburuk-buruk makhluk yang pernah ada. Ada yang meriwayatkan dia bermata satu dengan kulit warna merah, ada yang meriwayatkan dia berbadan besar dan akan muncul dari Segitiga Bermuda. Ada pula yang mengatakan bahwa dia adalah sebuah makhluk yang memiliki tulisan “Kaf Fa Ro” yang artinya “Kafir”.Dalam sebuah hadits diriwayatkan, “Dajjal tidak akan muncul sehingga manusia melupakannya dan para Imam meninggalkan untuk mengingatnya di atas mimbar-mimbar.” (HR Ahmad). Salah satu keutamaan dan manfaat dari membaca surat Al-Kahfi setiap hari Jum’at atau malam Jum’at salah satunya adalah menghindarkan kita dari fitnah keji Dajjal tersebut. Karena fitnah Dajjal sangat kejam, dan dapat membawa kita kepada kesesatan dan neraka Jahanam. Hal tersebut diperkuat dengan hadits berikut ini, “Barang siapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at, maka Dajjal tidak bisa memudharatkannya.” (HR Dailami). 2. Kita Akan Mendapatkan Cahaya Penerang dari Allah Dalam kehidupan ini, apa yang membuat hidup kita penuh keberkahan dan ketentraman adalah ketika Allah telah ridho terhadap apa-apa yang kita perbuat di muka bumi ini. Dengan mendapat ridho dari Allah, maka hati kita akan merasa damai dan tentram dalam menjalani hidup ini. Salah satu manfaat membaca membaca surat Al Kahfi dengan rutin di hari Jum’at atau malam Jum’at adalah agar Allah selalu melindungi hidup kita dengan cahaya keberkahan dan petunjuk dalam kehidupan ini. Sehingga walaupun ujian dan cobaan datang, kita tetap sabar dan kuat menghadapinya. Dalam sebuah hadits diriwayatkan, “Siapa yang membaca surat Al-Kahfi, maka jadilah baginya cahaya dari kepala hingga kakinya, dan siapa yang membaca keseluruhannya maka jadilah baginya cahaya antara langit dan bumi.” (HR Ahmad). 3. Kita Akan Mendapatkan Ampunan dari Allah SWT Setiap manusia pasti tak luput dari dosa dan khilaf. Begitulah lihainya setan dalam menjebak manusia untuk berdosa kepada Allah agar mereka kelak mendapat teman-teman di neraka Jahanam. Na’udzubillah. Untuk itulah, manusia harus senantiasa bertaubat agar Allah mengampuni dosa-dosa kita dan tidak memasukkannya ke neraka Jahanam, seburuk-buruk tempat kembali di akhirat kelak. Salah satu waktu yang paling baik saat memohon ampunan kepada Allah adalah di hari Jum’at, dengan taubatan nasuha yang tulus, serta membaca surat Al Kahfi. Dalam sebuah riwayat Dari Abu Sa’id al-Khudri ra., dari Ibnu Umar ra., “Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at maka akan memancar cahaya dari bawah kakinya sampai ke langit, akan meneranginya kelak pada hari kiamat, dan diampuni dosanya antara dua Jum’at.’” 4. Dapat Menghindarkan Kita dari Gangguan Setan Setan dan segala keburukan yang dibawa olehnya adalah sebuah ancaman hidup yang harus kita waspadai. Karena jika kita telah jatuh dalam bujuk rayu setan dan termakan oleh semua godaannya, maka kita akan menjadi pengikut setan dan tergelincir dalam keburukan. Kita harus senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dan meminta perlindungan dari setan dan segala keburukan kepadaNya. Salah satu cara melindungi diri dari godaan setan dan segala keburukannya, menurut anjuran Rasulullah SAW adalah dengan membaca surat Al Kahfi pada malam Jum’at atau di hari Jum’at. Diriwayatkan dari Ibnu Mardawaih dari Abdullah bin Mughaffal, bahwa sebuah rumah yang dibacakan surat Al-Khafi dan surat Al-Baqarah tidak akan dimasuki setan sepanjang malam itu. Source : https://www.boombastis.com/baca-al-kahfi-hari-jumat/56455
Bersegera Ke Masjid
Pada zaman sekarang ini, banyak orang yang terbiasa terlambat datang ke masjid untuk melaksanakan shalat, mereka tidak datang kecuali pada waktu dikumandangkan iqamah atau sesudahnya. Kebanyakan mereka tidak mendapatkan shalat berjamaah secara sempurna atau mendapatkan sebagiannya saja. Terkadang, ketika dikumandangkan iqamah, kita lihat di beberapa masjid cuma ada empat atau lima orang. Setelah iqamah selesai, baru mereka berdatangan, sehingga kita lihat banyak shaf, padahal mereka sudah menunggu setelah adzan sekitar seperempat jam atau lebih sedikit. Dengan keterlambatan ini, mereka kehilangan banyak kebaikan. Berikut ini beberapa kebaikan yang tidak mereka dapatkan antara lain: Pertama: tidak berjalan dengan penuh ketenangan menuju masjid. Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu meriwayatkan, sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, إِذَا سَمِعْتُمُاْلإِقَامَةَ فَامْشُواإِلَى الصَّلاَةِوَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِيْنَةِوَالْوَقَارِ “Apabila kamu mendengar iqamah maka berjalanlah untuk mendirikan shalat dengan penuh ketenangan dan tidak tergesa-gesa.” (Muttafaq Alaih). Kebanyakan orang tidak berjalan dengan penuh ketenangan. Kedua: kehilangan keutamaan pergi ke masjid pada pagi dan sore hari. Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu meriwayatkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bahwasanya beliau bersabda, مَنْ غَدَاإِلَى الْمَسْجِدِأَوْ رَاحَأَعَدَّ اللَّهُلَهُ فِي الْجَنَّةِنُزُلاً كُلَّمَاغَدَا أَوْرَاحَ “Barangsiapa yang pergi pada pagi atau sore hari ke masjid, maka Allah menyediakan hidangan di surga setiap ia pergi baik pagi atau sore.” (Muttafaq Alaih). Ketiga: tidak mendapatkan keutamaan banyak melangkah ke masjid. Firman Allah Ta’ala, وَنَكْتُبُ مَاقَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ”Dan Kamilah yang mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka (tinggalkan).” (QS.Yaasiin: 12) Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, يَا بَنِيسَلِمَةَ دِيَارَكُمْتُكْتَبْ آثَارُكُمْ “Wahai Bani Salamah, tetaplah di rumah kalian, bekas-bekas langkah kalian (menuju masjid) tercatat sebagai amal kalian.”(HR. Muslim) Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda, وَكُلُّ خَطْوَةٍيَمْشِيْهَا إِلَىالصَّلاَةِ صَدَقَةٌ “Dan setiap langkah menuju shalat adalah sedekah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda, أَلاَ أَدُلُّكُمْعَلَى مَا يَمْحُواللَّهُ بِهِالْخَطَايَا وَيَرْفَعُبِهِ الدَّرَجَاتِقَالُوا بَلَىيَا رَسُولَاللَّهِ قَالَإِسْبَاغُ الْوُضُوءِعَلَى الْمَكَارِهِوَكَثْرَةُ الْخُطَاإِلَى الْمَسَاجِدِوَانْتِظَارُ الصَّلاَةِبَعْدَ الصَّلاَةِفَذَلِكُم ُالرِّبَاطُ “Maukah kalian saya tunjukkan apa yang dapat menghapuskan dosa dan meninggikan derajat?” mereka menjawab, “Tentu kami mau wahai Rasulullah” Nabi bersabda, “Menyempurnakan wudhu dalam masa keberatan (merasa dingin), dan memperbanyak langkah ke masjid dan menantikan shalat sesudah shalat, maka inilah yang disebut Ar-Ribath”[1] (HR. Muslim) Keempat: tidak mendapatkan istighfar para malaikat bagi orang yang menunggu shalat di masjid sebelum iqamah, karena pahalanya sama dengan orang yang shalat. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, فَإِنَّ أَحَدَكُمْإِذَا تَوَضَّأَفَأَحْسَنَ وَأَتَىالْمَسْجِدَ لاَيُرِيْدُ إِلاَّالصَّلاَةَ لَمْيَخْطُ خَطْوَةًإِلاَّ رَفَعَهُاللَّهُ بِهَادَرَجَةً وَحَطَّعَنْهُ خَطِيْئَةًحَتَّى يَدْخُلَالْمَسْجِدَ وَإِذَادَخَلَ الْمَسْجِدَكَانَ فِي صَلاَةٍمَا كَانَتْتَحْبِسُهُ وَتُصَلِّييَعْنِي عَلَيْهِالْمَلاَئِكَةُ مَادَامَ فِي مَجْلِسِهِالَّذِي يُصَلِّيفِيْهِ اللَّهُمَّاغْفِرْ لَهُاللَّهُمَّ ارْحَمْهُمَا لَمْيُحْدِثْ فِيهِ “Sesungguhnya jika seseorang berwudhu, lalu menyempurnakan wudhunya, lalu datang ke masjid, tidak ada yang ia inginkan kecuali shalat. Maka tidaklah ia melangkahkan kaki selangkah melainkan Allah mengangkatnya satu derajat dan dihapus satu dosa darinya sampai ia masuk ke masjid. Dan apabila ia masuk ke masjid, maka ia dianggap dalam shalat selama shalat menahannya, dan para malaikat mendoakannya selama ia berada di tempat duduknya. Para malaikat berdoa, ’Ya Allah, ampunilah ia, Ya Allah, kasihanilah ia.’” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Di dalam satu riwayat disebutkan, لاَ يَزَالُأَحَدُكُمْ فِيصَلاَةٍ مَا دَامَتِالصَّلاَةُ تَحْبِسُهُلاَ يَمْنَعُهُأَنْ يَنْقَلِبَإِلَى أَهْلِهِإِلاَّ الصَّلاَةُ “Salah seorang di antara kamu tetap dianggap dalam shalat selama shalat menahannya, tidak ada yang menahannya dari kembali ke keluarganya kecuali shalat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) Kelima: Kehilangan keutamaan shaf pertama. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, لَوْ يَعْلَمُالنَّاسُ مَا فِيالنِّدَاءِ وَالصَّفِّاْلأَوَّلِ ثُمَّلَمْ يَجِدُواإِلاَّ أَنْيَسْتَهِمُوْا عَلَيْهِلاَسْتَهَمُوا وَلَوْيَعْلَمُونَ مَافِي التَّهْجِيْرِلاَسْتَبَقُوا إِلَيْهِ “Seandainya orang-orang mengetahui besarnya pahala mendatangi adzan dan shaf pertama, kemudian seumpama untuk mendapatkan itu mereka harus mengundi, tentu akan mereka akan mengundinya. Seandainya mereka mengetahui keutamaan datang lebih awal niscaya mereka akan berlomba-lomba untuk mendapatkannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Keenam: tidak mendapatkan keutamaan takbiratul ihram yang merupakan takbir paling utama. Al-Bazzar meriwayatkan dalam Al-Kasyf nomor 521 dari Abu Ad-Darda` ia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah bersabda, إِنَّ لِكُلِّشَيْءٍ أُنْفَةٌوَ إِنَّ أُنْفَةَالصَّلاَةِ التَّكْبِيْرَةُاْلأُوْلَى فَحَافِظُوْاعَلَيْهَا “Sesungguhnya bagi tiap-tiap sesuatu itu ada permulaannya dan sesungguhnya permulaan shalat adalah takbir yang pertama (takbiratul ihram), maka peliharalah ia (berusahalah untuk mendapatkannya).” Dia juga meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, لِكُلِّ شَيْءٍصَفْوَةٌ وَصَفْوَةُالصَّلاَةِ التَّكْبِيْرَةُاْلأُوْلَى “Untuk tiap-tiap sesuatu ada yang terpilih dan yang terpilih dari shalat adalah takbir yang pertama (takbiratul ihram).” Ketujuh: kehilangan shalat sunah rawatib qabliyah, seperti qabliyah subuh. Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, رَكْعَتَا الْفَجْرِخَيْرٌ مِنَالدُّنْيَا وَمَافِيهَا “Dua rakaat shalat sunah sebelum subuh lebih baik dari dunia seisinya.” (HR. Muslim) Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam juga bersabda, لاَ تَدَعُوْهُمَاوَإِنْ طَرَدَتْكُمُالْخَيْلُ “Jangan kamu meninggalkan untuk mengerjakannya meskipun kuda mengusirmu.” (HR. Abu Dawud) Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat dua rakaat sebelum Zhuhur dan terkadang empat rakaat, sebagaimana yang diriwayatkan dari Ummu Habibah Radhiyallahu Anha bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, مَنْ صَلَّىقَبْلَ الظُّهْرِأَرْبَعًا وَبَعْدَهَاأَرْبَعًا حَرَّمَهُاللهُ عَلَىالنَّارِ “Barangsiapa shalat empat rakaat sebelum Zhuhur dan empat rakaat sesudahnya, maka Allah mengharamkannya dari neraka.”(HR. At-Tirmidzi, An-Nasa`i dan Ibnu Majah) Dan dari Ibnu Umar Radhiyallahu Anhuma, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, رَحِمَ اللهُامْرَأً صَلَّىقَبْلَ الْعَصْرِأَرْبَعًا “Allah menyayangi orang yang shalat empat rakaat sebelum Ashar.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dengan sanad bagus). Kedelapan: kehilangan waktu dikabulkannya doa, yaitu waktu antara adzan dan iqamah. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, الدُّعَاءُ لاَيُرَدُّ بَيْنَاْلأَذَانِ وَاْلإِقَامَةِ “Doa tidak ditolak antara adzan dan iqamah.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi) Kesembilan: tertinggal dalam menjawab adzan yang dikumandangkan oleh muadzin serta doa setelah adzan. Mengikuti muadzin dalam menjawab adzan dengan penuh keikhlasan dapat menjadi penyebab masuk surga, sebagaimana diterangkan dalam hadits yang diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu Anhuma, sesungguhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, قَالَ مَنْقَالَ حِيْنَيَسْمَعُ النِّدَاءَاللَّهُمَّ رَبَّهَذِهِ الدَّعْوَةِالتَّامَّةِ وَالصَّلاَةِالْقَائِمَةِ آتِمُحَمَّدًا الْوَسِيْلَةَوَالْفَضِيْلَةَ وَابْعَثْهُمَقَامًا مَحْمُودًاالَّذِيْ وَعَدْتَهُحَلَّتْ لَهُشَفَاعَتِيْ يَوْمَالْقِيَامَةِ “Barangsiapa yang membaca sesudah mendengar adzan, ‘Ya Allah, Tuhan yang menguasai seruan yang sempurna ini, dan shalat yang akan ditegakkan, berilah pada Muhammad wasilah dan keutamaan, dan bangkitkanlah ia pada tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan kepadanya.’ Maka orang itu pasti akan mendapat syafaatku pada hari kiamat.”(HR. Al-Bukhari) Kesepuluh: tidak mendapatkan kesempatan untuk membaca dzikir, doa dan membaca beberapa ayat dari Al-Qur`an. Orang yang lebih awal datang ke masjid pada waktu sebelum adzan
Bantu Naufal Melawan Kanker
Bismillah…Assalamu’alaikum 🙏🏻 Ayoo Peduli NaufalNaufal saat ini harus melawan Kanker Kelenjar Stadium 3 😥 Mari ulurakan tangan kita untuk berbagi dan peduli sesama.Sedikit rezeki yg kita berikan sangat berarti untuk kesembuhan Naufal. Bersih Hati, Peduli Sesama… 🤝🏻 Donasi dapat disalurkan pada rekening Lembaga Amil Zakat Dompet Amal Insani berikut. Rekening DonasiBNI SYARIAH028 5076 892a.n. Yayasan Amal Insani Konfirmasi ke082176019865 Jazakallah khoir atas kepeduliannya sahabat Lazdai yg budiman. ☘☘☘☘☘☘☘☘🌱🌱🌱🌿🌿🍃🔷@lazdai_peduli🔷@lazdai_peduli🔷@lazdai_peduli
Do’a Bila Mendapat Pujian
Perilaku manusia adalah wujud dari penampakan sikap batin manusia itu sendiri. Poros perintahnya dari hati terus ke otak untuk memperagakannya. Dari poros ini, maka banyak kalangan berpendapat bahwa bening dan keruhnya itu pasti bersumber dari hulunya. Hulunya manusia itu adalah hati. Sehingga perintah menjaga hati itu bermaksud memproteksi diri manusia agar hulunya itu jangan sampai kemasukan sesuatu yang merugikan. Dan upaya ini juga untuk membuka hati menerima segala yang baik. Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadist-nya menyebut : “Ketahuilah di dalam tubuh terdapat sepotong daging apabila ia baik, maka baiklah seluruh tubuh apabila ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh itu, itulah “hati”. Hadist ini mengandung pelajaran untuk manusia agar selalu menjaga hatinya supaya tetap baik sehingga melahirkan perilaku yang baik pula jangan sampai terjadi sebaliknya. Bagi kita yang beragama tentunya memandang bahwa peringatan tersebut sesungguhnya perintah untuk menjaga kepribadian kita dari berbagai perangkai buruk. Dan dalam pada itu perilaku baik/positif akan secara otomatis mengalir dan melekat pada diri kita. Sehingga penampakannya pun boleh dikatakan positif/konstruktif dalam realitas kehidupan masyarakat. Persoalan terpenting adalah dengan cara apa kita menjaga hati itu. Terhadap persoalan ini Al-Qur’an secara tegas menjawab “hanya dengan dzikir”. Sebagaimana firman-Nya : (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah ingatlah, hanya dengan mengingati Allah lah hati menjadi tentram (QS. Al-Ra’du : 28) Ternyata dzikrullah menjadi solusi teramat penting untuk mewujudkan hati yang tentram/damai lalu dzikrullah seperti apa yang bisa menentramkan hati kita? Sholat merupakan bentuk dzikrullah yang sangat ampuh menjaga ketentraman hati, sebagaimana firman-Nya : Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikan sholat untuk mengingat Aku (QS. Thaha : 14) Mengapa sholat menjadi puncak dzikrullah? Karena dengan mendirikan sholat kita dapat tercegah dari perbuatan keji dan munkar (baca QS. Al-ankabut: 45) Jadi dzikrullah yang diwujudkan dalam bentuk mendirikan sholat itu ujung-ujungnya adalah memelihara kepribadian kita dari segala bentuk perbuatan buruk. Ini berarti hati orang-orang sholat (mushollin) selamanya tetap terjaga dan ada ketentraman untuk melahirkan perilaku yang shahih (benar) dan shalih (baik). Oleh karenanya ada orang yang sudah sholat mencapai puncak dzikrullah, lalu perilakunya tidak baik maka pastikan bahwa dia hanya sholat secara simbolik bukan otentik. Artinya sholat yang didirikan itu hanya sekedar basa-basi saja sehingga bukan mustahil pribadi orang seperti ini akan menjadi biang menimbulkan kerusakan. Begitu pentingnya menjaga hati karena dari hati yang tentram, damai dan bersih akan melahirkan perilaku yang shalih secara individual maupun shalih secara sosial. Dan hal-hal seperti inilah yang diinginkan oleh masyarakat agar terciptanya ketentraman kolektif untuk kepentingan bersama pula. Jadi begitu indahnya kita menjaga hati dan karenanya kita harus berhati-hati, jangan sampai hati, sakit hati, apalagi makan hati. Ingat, dibalik kebaikan kita ada kepentingan bersama, yaitu terciptanya lingkungan sehat dan negeri yang damai (dar al salam). Ini semua bisa tejadi dan pasti terjadi kalau kita semua menjaga hati. Semoga! Source : http://athohirluth.lecture.ub.ac.id/2014/02/menjaga-hati/comment-page-1/
Indahnya Berbagi
Siapa bilang bermurah hati dan kebiasaan berbagi tidak ada hubungannya dengan kesehatan? Penelitian terbaru pun menyebutkan berbagi makanan dengan orang lain dapat membuat seseorang jadi lebih baik. Sebuah studi yang baru saja dipublikasikan di jurnal Appetitemengaitkan hubungan antara berbagi makanan saat masih kecil dengan perilaku tidak egois saat dewasa. Hasilnya, orang yang suka berbagi makanan dengan keluarga cenderung lebih altruistik (tidak mementingkan diri sendiri). Dalam riset ini, peneliti University of Antwerp, Belgia melakukan survei terhadap 466 pelajar. Setiap partisipan ditanya seberapa sering mereka makan di rumah ketika masih anak-anak dan perilaku prososial (altruistik) mereka saat ini. Hasilnya cukup mengejutkan, mereka yang lebih sering makan bersama orang lain serta berbagi makanan lebih banyak melakukan perbuatan baik di masa remajanya. Mulai dari menawarkan kursi di transportasi umum, membantu teman, sampai menjadi relawan. Menurut Charlotte De Backer, pemimpin penelitian, berbagi makanan membuat orang berpikir tentang keadilan. “Berbagi makanan mengajarkan tentang ke adilan, melayani, tidak mengambil makanan sesuai keinginan,” terang De Backer seperti dilansir laman TIME pada Selasa (11/11/2014). “Warm Glow” Effect Secara fisik berbagi dan bermurah hati terlihat merugikan. Namun fakta lain justru sebaliknya. Sebelum ini, peneliti sudah menemukan istilah “warm-glow-effect’, sebuah fenomena ekonomi yang pernah dijelaskan oleh James Andreoni tahun 1989, dimana menunjukkan orang yang beramal, berbagi dan bermurah hati justru berdampak positif atas kemurahan hati mereka atau disebut “warm-glow effect” (efek-cahaya pemberi). Perasaan positif ini didapatkan atas tindakannya memberi atau membantu orang lain. Studi tahun 2006 oleh Jorge Moll dari National Institutes of Health menemukan bahwa ketika seseorang melakukan donasi kepada suatu yayasan, beberapa area di otak yang terkait dengan kenyamanan, koneksi sosial, dan rasa percaya turut aktif dan menciptakan efek “warm glow”. Para peneliti juga percaya bahwa ketika melakukan tindakan altruistik, otak akan melepaskan endorfin, memproduksi perasaan positif yang disebut “helper’s high.”Fenomena tersebut dapat terjadi karena ketika menolong orang, otak memproduksi hormon dopamine (yang memberi perasaan bahagia dan keyakinan bahwa yang kita lakukan adalah hal yang benar) serta hormon oxytocin yang dikenal dapat mengurangi stres, meningkatkan fungsi imunitas, dan mengembangkan rasa percaya dalam interaksi antar manusia. Banyak penelitian menunjukkan sikap dermawan ternyata berkorelasi dengan kesehatan. Salah satunya adalah penelitian Stephanie Post yang dimuat dalam bukunya, Why Good Things Happen To Good People, yang menyatakan bahwa berbagi dengan sesama dapat meningkatkan kesehatan penderita penyakit kronis seperti HIV. Studi lainnya yang terkait dilakukan oleh Stephanie Brown dari University of Michigan pada tahun 2003 terhadap beberapa pasangan manula. Dalam penelitian tersebut, Stephanie menemukan bahwa manula yang menolong tetangga, teman, dan saudara, ataupun yang memberikan dukungan secara emosional kepada pasangannya, ternyata memiliki risiko lebih rendah untuk meninggal dunia di 5 tahun ke depan, dibandingkan dengan manula yang tidak memberikan bantuan praktikal maupun emosional kepada sesama Menolak 70 Macam Bencana Sebelum para peneliti menemukan bukti manfaat bermurah hati dan berbagi pada sesama, Islam telah menganjurkan umatnya untuk menafkahkan harta kepada orang lain dalam bentuk infaq, zakat dan shadaqah. Bedanya infaq/zakat/shadaqah melibatkan perintah karena Allah, sedangnya bermurah hati saja bagi orang Barat tidak melibatkan Allah Subhanahu Wata’ala. آَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ فَالَّذِينَ آَمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ “Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (QS: Al Hadiid: 7) Al Qurthubi menjelaskan, “Ayat ini merupakan dalil bahwa pada hakekatnya harta itu milik Allah. Hamba tidaklah memiliki apa-apa melainkan apa yang Allah ridhoi. Siapa saja yang menginfakkan harta pada jalan Allah, maka itu sama halnya dengan seseorang yang mengeluarkan harta orang lain dengan seizinnya. Dari situ, ia akan mendapatkan pahala yang melimpah dan amat banyak.” [Dalam Tafsir Al Qurthubi, Jaami’ Li Ahkamil Qur’an]. Dalam Islam, berbagi dan bersedekah justru manfaatnya lebih luas dibanding hasil penelitan di atas. Setidaknya ada empat manfaat sedekah yang sering dikutip Rasulullah; Pertama,membukakan pintu rezeki, kedua, mengobati orang sakit, ketiga, mampu meredakan kemarahan Allah dan mengurangi kesakitan saat sakaratul maut dan terkhiar sedekah mampu menjadi ‘naungan’ di hari kiamat. “Sesungguhnya tidak akan berkurang harta yang disedekahkan, kecuali bertambah dan bertambah.” (HR. Tirmidzi). Rasulullah Shallahu ‘alaihi Wassallam bersabda: “Sedekah dapat menolak 70 macam bencana, yang paling ringan diantara bencana itu adalah penyakit kusta dan sopak.” (HR. Thabrani). “Hiasilah waktu pagimu dengan sedekah, niscaya bala’ tidak menghampiri.” (at – Targhin wa at – Targhib 2/20,39). “Obatilah orang yang sakit diantara kalian dengan sedekah.” (HR. Thabrani dan Baihaki). INDAHNYA BERBAGI Siapapun kita,dimanapun kita berada kita bisa berbagi dengan semua makhluk tuhan,apalagi kepada sesama manusia,bukankah kedudukan kita semua sama,,,yang kaya akan mati yang miskinpun mati,yang punya pangkat mati,pejabat mati,rakyat biasa juga mati,yang cerdas, akan mati yang kurang cerdas juga mati,,,yang membedakan kita adalah seberapa besar keimanan dan ketaqwaan kita kepada Nya. siapapun kita,dimanapun kita tinggal,dan apapun profesinya,kita bisa menjadi salah satu makhluk-Nya yg berkedudukan mulia dan terhormat baik dihadapan manusia lebih – lebih dihadapan tuhan.Bagaimana caranya agar kita bisa meraih kemuliaan di dunia dan akhirat…? siapapun kita dan apapun suku,agama dan negaranya pasti sepakat bahwa sesama makhluk tuhan harus saling menghormati dan menghargai satu dengan yang lain,baik kepada alam semesta seperti tumbuh- tumbuhan,hewan,alam,lautan,gunung – gunung,langit okoknya segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, apalagi kepada sesama manusia,kita tidak bisa hidup sendiri,karena kita adalah makhluk sosial,seberapapun kayanya kita atau setinggi apapun pangkat dan jabatan yang kita sandang,,,pasti kita tetap membutuhkan orang lain,,, apalagi bagi kita yang muslim,islam memberikan tuntunan sekaligus ajakan bahwa manusia yg paling baik adalah manusia yang mau dan banyak memberi manfaat bagi sesamanya,,, semua agama pasti mengajarkan itu,karena itu,kita harus selalu berusaha agar bisa menjadi orang – orang yang bermanfaat bagi siapapun dialam semesta ini,supaya hidup dan mati kita membawa berkah bagi sesama dan pasti berkah dan kebaikan yang telah kita lakukan sekecil apapun akan kembali kepada kita… karena itu berbagilah dengan apapun yg telah tuhan karuniakan kepada kita,,,walaupun hanya dengan kata – kata atau tulisan atau bahkan hanya dengan tegur sapa dan senyuman,,,mungkin menurut kita itu kecil tapi hal tersebut memberi dampak sangat besar kepada orang lain,,, misalnya orang yang tadinya putus asa menjadi semangat menjalani hidupnya,orang yang tadinya sedih berubah menjadi bahagia walaupun hanya kata – kata,tulisan atau senyman,benar bukan,,,sahabatku mulai detik ini,,, janganlah ragu untuk terus bebagi,,,lakukanlah lebih banyak lagi,,,berbagi dengan apapun yg kita mampu,baik tenaga,pikiran,harta atau kasih sayang kepada sesama makhluk dialam semesta
