Sedekah tak Pernah Salah
OLEH DR HASAN BASRI TANJUNG Sahabat kesayangan Nabi SAW, Abu Hurairah RA meriwayatkan sebuah hadis mengenai ketulusan seorang dermawan pada masa lampau. Suatu hari lelaki itu berkata, “Malam ini aku akan bersedekah.” Lalu, ia pun memberi sedekah kepada orang yang ditemuinya. Keesokan hari, rupanya menjadi buah bibir orang karena yang menerima adalah seorang pelacur.Ia pun menyesalinya dan berdoa, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu yang menakdirkan sedekahku jatuh ke tangan pelacur. Aku akan bersedekah lagi.” Pada malam berikutnya, ia memberi sedekah kepada orang yang dijumpai. Namun pada pagi hari, lagi-lagi menjadi bahan cemoohan karena sedekahnya diterima oleh orang berada. Lelaki itu pun tambah gundah dan berkata, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, ternyata sedekahku jatuh ke tangan orang kaya. Aku akan bersedekah lagi.” Berharap tidak keliru lagi, malam itu, ia pun berse dekah kepada seseorang. Namun, esok hari ramai lagi dibicarakan khalayak dan menyayangkan sedekahnya diterima oleh seorang pencuri. Mendengar hal itu, ia merasa gagal untuk bersedekah kepada orang yang tepat. Lalu berucap, “Ya Allah, segala puji bagi-Mu, rupanya sedekahku diterima oleh seorang pelacur, orang kaya, dan pencuri.” Suatu malam, ia bermimpi didatangi seorang malaikat dan berkata, “Sedekahmu telah diterima Allah. Adapun sedekah yang jatuh ke tangan pelacur, semoga ia berhenti melacurkan diri. Sedekahmu kepada orang kaya, kiranya ia sadar dan mau berbagi. Sementara, sedekahmu kepada pencuri akan membuatnya berhenti mencuri.” (HR Bukhari). Kisah inspiratif ini relevan sekali dalam upaya kita membangun karakter kedermawanan pada anak-anak. Paling tidak, ada tiga pesan berharga di dalamnya, yakni:Pertama, dasar utama segala perbuatan baik adalah ketulusan (ikhlas), semata karena Allah SWT (QS.98: 5).Menjaga keikhlasan dalam berbuat kebajikan sering kali dinodai oleh penyaki hati, yakni selalu ingin dilihat (riya`)dan ingin dipuji (sum’ah), yang akhirnya menjadi `ujub (kagum pada diri sendiri). Kedua, jika sedekah itu untuk seseorang, lebih utama sembunyi. Seseorang akan mendapat perlindungan Allah pada hari kiamat karena bersedekah diam-diam sehingga tangan kiri tidak tahu apa yang diberikan tangan kanan (HR Bukhari). Namun, jika mampu menjaga hati, sedekah terbuka tetap dianjurkan (QS. 93: 11). Ketiga, sedekah yang tulus tidak akan diabaikan dan pasti mendapat ganjaran dari Allah SWT. Sebab, sedekah akan memberikan dampak positif tersendiri bagi penerimanya, apa pun latar belakang, status sosial, bahkan agamanya. Kisah di atas menegaskan, walaupun diterima seorang pelacur, orang kaya, dan pencuri, terselip secercah harapan di dalamnya. Demikian pula halnya, ketika kita bersedekah untuk korban bencana Lombok NTB yang menelan korban 300 orang lebih meninggal dunia, luka-luka berat, dan kehilangan harta benda. Begitu pun, ketika kita memberi sumbangan dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan ke-73 RI. Tak usah risau siapa yang akan menerimanya karena sedekah kita akan bernilai kebajikan dalam merajut kebersamaan anak bangsa dan tanda syukur atas nikmat Allah SWT. Sungguh, sedekah yang tulus tak akan pernah salah sasaran dan selalu memberi maslahat bagi penerimanya.Tentulah, Allah SWT akan memberikan balasan yang berlipat ganda di dunia dan akhirat kelak (QS. 2: 261-262). Insya Allah, kedermawanan itu pula yang akan menjadi karakter anak-anak kita, amin. Allahu a’lam bish-shawab. Sumber : https://www.republika.co.id
Romantika Kemanusiaan Kurban
ANTARA FOTO/Ampelsa/foc/16. Saat Hari Raya Idul Adha, jutaan keluarga miskin yang masih ada di negeri ini bisa menikmati gurihnya rasa daging. Kurban yang diterima merupakan sambungan tali kasih dari shohibul kurban kepada fakir miskin. Sebuah romantika kemanusiaan yang diajarkan dalam agama ini. Sebagai ibadah yang mengandung unsur hablun minallah dan hablun minannas, kurban merupakan ibadah yang mengambil hikmah dari kisah Nabi Ibrahim AS. Pengorbanan Ibrahim yang hendak menyembelih putranya, Ismail AS, kemudian digantikan Allah SWT dengan seekor kambing gibas putih bertanduk panjang. “Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia, ‘Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan, Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian’.” (QS as-Shafat: 103-108). Pada sejarahnya, kurban merupakan kisah-kasih antara Ismail, Ibrahim, dan Tuhannya. Kurban yang berasal dari istilah qaruba atau pendekatan diri mengukuhkan bahwa prosesi ini merupakan upaya seorang hamba yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ikhtiar ini pun dibalas dengan kasih sayang Allah berupa penggantian Ismail dengan seekor kambing gibas. Setelah menunggu puluhan tahun lamanya, Ibrahim dikaruniakan anak yang tampan lagi saleh, Ismail. Allah SWT menguji kesetiaan Ibrahim. Adakah dia akan berpaling setelah mendapat nikmat menjadi ayah dari seorang putra? Allah pun memberi pesan kepada Ibrahim lewat mimpi bahwa Ismail harus dikurbankan. Ibrahim lantas berkomunikasi dengan ananda kesayangan bahwa dia bermimpi diperintahkan untuk menyembelih putra kesayangannya itu. Alih-alih mendapat ketakutan Ismail, Ibrahim mendapatkan jawaban mengejutkan. “Hai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah, kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”(ash-Shaffat: 102). Mendengar keikhlasan anaknya, Ibrahim pun luluh. Dia lantas membawanya untuk pergi ke tempat penyembelihan. Setelah melempar setan dengan batu di tiga tempat, jumratul ula, jumratul wusta, dan jumratul aqabah, Ibrahim sampai mengantarkan putranya itu ke tempat yang dituju. Ibrahim kemudian merebahkan Ismail yang sudah mengenakan kain gamis putih. Ismail berwasiat kepada ayahnya. Hai ayah, sesungguhnya aku tidak memiliki pakaian untuk kain kafanku selain dari yang kukenakan ini. Maka, lepaskanlah kain ini agar engkau dapat mengafaniku kelak. Saat hendak menanggalkan baju gamis putranya, Ibrahim lalu menoleh ke belakang. Dia melihat seekor kambing gibas yang gemuk untuk dikurbankan sebagai pengganti Ismail. Romantisme prosesi kurban berlanjut pada masa Rasulullah. Kurban menjadi sebuah hajat untuk merayakan nilai-nilai sosial dan kemanusiaan. Ketika umat Islam bergotong royong untuk menyembelih hewan kurban dan membagikannya kepada fakir miskin. “… Maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta-minta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepada kamu agar kamu bersyukur.” (QS al-Hajj: 36). Ketika berkurban, Rasulullah melakukan dengan kedua tangannya sendiri. Tercatat Rasulullah setiap tahun berkurban dua ekor kambing gibas berwarna putih dan hitam. Seusai haji wada, Rasulullah malah berkurban 100 ekor unta. Sebanyak 67 di antaranya disembelih sendiri. Daging kurban itu kemudian dibagikan kepada para sahabat dan fakir miskin. “Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata: Rasulullah SAW menugaskan saya mengurus kurbannya dan membagi-bagikan daging, kulit, dan bagian-bagian lainnya kepada fakir miskin dan saya tidak boleh memberi apa pun dari hewan kurban itu kepada penyembelihnya.” Sumber : https://www.republika.co.id
Begini Anjuran Memproses Daging Kurban Agar Sehat Dikonsumsi
Pakar Kesehatan Masyarakat Veteriner FKH IPB Denny Widaya Lukman menganjurkan agar masyarakat,khususnya pelaksana kegiatan kurban, tidak menggunakan kantong plastik hitam untuk membungkus daging kurban sebelum didistribusikan. “Keresek hitam yang bahan pembuatannya dari daur ulang memang tidak dianjurkan bersentuhan dengan makanan karena takut terjadi perpindahan bahan plastik ke dalam daging dan membahayakan jika dikonsumsi,” kata Denny. Ia mengajurkan panitia pelaksana kurban dapat menggunakan kantong plastik transparan atau lebih baik lagi plastik pembungkus gula daripada keresek hitam yang juga tidak disarankan oleh BPOM sebagai pembungkus makanan. Selain itu, daging kurban juga tidak boleh terkena lantai, bersentuhan dengan kaki yang kotor maupun alas kaki. Setelah dipotong-potong, daging perlu diletakkan di tempat penyimpan agar tidak berpotensi terinjak manusia. Anjuran lainnya yang perlu diperhatikan adalah memisahkan jeroan hewan dengan bagian daging karena jumlah kuman jeroan jauh lebih banyak. “Di tempat pemotongan hewan juga jeroan tidak dibersihkan terlebih dahulu. Makanya sebaiknya dipisahkan dari kantong plastik berisi daging,” ungkapnya. Denny menjelaskan, ada dua jenis jeroan yang sebaiknya dipisah, yakni jeroan merah terdiri dari hati, kantong limpa, paru dan ginjal serta jeoran hijau terdiri dari babat dan usus. Menurut dia, pelaksana kurban harus memperhatikan tiga aspek kegiatan kurban yang sesuai prinsip kesejahteraan hewan, yakni tempat penampungan hewan sementara, tempat penyembelihan, dan tempat penanganan daging. Dengan memperhatikan persiapan fasilitas kegiatan kurban dan penyajian daging yang baik, masyarakat bisa menikmati daging kurban yang memenuhi aspek aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH). Sumber : Antara
LAZDAI Galang Dana Untuk Korban Gempa Lombok
Indonesia kembali berduka, gempa dengan kekuatan 7 Skala Richter kembali mengguncang wilayah Lombok, Nusa Tenggara Barat, Minggu ( 5/8) malam. Hingga Senin sore kemarin, , korban meninggal 98 orang, 236 orang luka, ribuan rumah rusak, dan ribuan warga mengungsi. Demikian menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugrohodi, Senin (06/08). Untuk mengurangi beban para korban gempa, Lazdai bersama siswa Rumah Pemberdayaan Dhuafa (RPD) melakukan penggalangan dana dibeberapa titik di kota Bandar Lampung. Koordinator penggalangan dana untuk Lombok, Rusdiyan, mengatakan kegiatan penggalangan dana akan dilakukan selama 3 hari berturut-turut. Hari pertama, Senin kemarin, penggalangan dana di lakukan di bundaran Tugu Adipura. “Alhamdulillah, kemarin terkumpul dana sumbangan dari masyarakat Bandar Lampung yang melintasi Tugu Adipura sebesar Rp. 1.270.000. Insyaa Allah, hari Selasa dan Rabu penggalangan dana akan dilakukan ditempat yang berbeda”, kata Rusdiyan, Senin (6/8). Untuk hari Selasa ini, rencananya Lazdai dan siswa RPD akan melakukan penggalangan dana di sekitar Pasar Tengah. Rusdiyan berharapkegiatan penggalangan dana tersebut mampu menggugah warga Bandar Lampung untuk menyisihkan sebagian rezeki yang dimilikinya untuk membantu saudara-saudara kita yang terkena musibah Gempa. “Semoga yang sedikit kita sumbangkan ini bisa meringankan beban terhadap saudara-saudara kita di Lombok,” pungkasnya.
Tips Menyimpan Daging Kurban agar Tetap Berkualitas Baik
Daging kurban yang tidak langsung dikonsumsi bisa disimpan di dalam lemari beku atau freezer. Akan tetapi, ada cara tertentu agar daging kurban yang disimpan tetap dapat dikonsumsi dengan kualitas baik. Direktur Halal Centre Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Nanung Danar Dono, mengatakan daging kurban memang bisa disiasati dengan disimpan ke dalam lemari pembeku atau freezer. Masa simpan daging kurban bisa lebih dari satu tahun jika dilakukan dengan tepat. “Pertama, sebelum disimpan, daging kurban jangan dicuci,” kata Nanung. Nanung menerangkan, jika dicuci dengan air, kuman-kuman bisa masuk dan tinggal di dalam pori-pori daging. Hal itu justru bisa merusak kualitas daging kurban tersebut. Karenanya, ia menyarankan agar proses pencucian daging dilakukan saat ingin memasaknya saja. Kemudian, jika jumlah daging relatif banyak, disarankan tidak menyimpan daging utuh 2-4 kilogram di dalam freezer. “Cara yang benar potong-potong daging berukuran lebih kecil, lalu simpan di dalam plastik-plastik berukuran setengah atau satu kilogram,” ujar Nanung. Jika ingin dimasak, ambil satu kantong kecil, biarkan yang lain tetap beku di dalam freezer. Menurut Nanung, daging-daging kurban yang dalam keadaan beku dapat disimpan lebih dari satu tahun. Sebelum disimpan di freezer, simpan daging terlebih dulu di dalam kulkas yang sejuk selama 20-24 jam atau sehari semalam. Setelah dinginnya rata di luar dan dalam, baru dimasukkan ke dalam freezer. “Jika mau masak daging beku, jangan mencairkan es daging atau daging beku menggunakan air panas,” kata Nanung. Cara yang benar, letakkan daging beku tersebut di bawah air keran dengan suhu normal, dalam keadaan daging masih terbungkus plastik. Setelah daging empuk, buka plastik dan cuci hingga bersih, tiriskan, baru daging siap dimasak. Sumber : https://www.republika.co.id
Program Satequ Lazdai Jangkau Pelosok Desa di Lampung
Lembaga Amil Zakat Dompet Amal Insani (Lazdai) bersiap menyambut hari raya Idul Adha 1439 H dengan program Salur Tebar Qurban (Satequ). Salur tebar qurban merupakan program Lazdai dalam mendistribusikan hewan qurban hingga ke pelosok desa di wilayah Lampung. Manager Lazdai, Prihtiono mengatakan berkurban pada saat hari raya Idul Adha selalu menumpuk di area perkotaan. Sebab, menurutnya, kehidupan masyarakat perkotaan lebih tinggi secara ekonomi. “Karena secara ekonomi, masyarakat perkotaan lebih tinggi kemampuannya untuk berkurban dibanding masyarakat pedesaan. Karenanya, memindahkan lokasi penyaluran kurban ke desa adalah salah satu pilihan untuk memeratakan daging qurban,” ungkap Prihtiono, Rabu (1/8). Prihtiono melanjutkan, bahwa kurangnya konsumsi daging bagi warga desa juga merupakan salah satu alasan kenapa Lazdai memprioritaskan masyarakat desa sebagai sasaran distribusi kurban. Dengan begitu walaupun setahun sekali masyarakat desa bisa menambah gizi. Selain itu, Lazdai juga melakukan kerja sama dengan beberapa masjid dan instansi serta perusahaan. Hal itu ditujukan untuk pengadaan hewan kurban sesuai syar’i dan membantu penyaluran daging kurban tepat sasaran. “Dengan dukungan kegiatan ini diharapkan kegiatan dakwah terutama di pelosok desa di wilayah Lampung bisa lebih semarak dan masyarakat desa pun bisa menikmati daging walau hanya setahun sekali,” tutur Prihtiono.
Lazdai Salurkan Paket Perlengkapan Sekolah di Desa Berundung Parit 7
Lembaga Amil Zakat Dompet Amal Insani (Lazdai) melakukan penyaluran paket sekolah kepada anak dhuafa dan yatim di desa Berundung Parit 7, Lampung Selatan. Sebanyak 22 paket sekolah yang telah disiapkan Lazdai merupakan sumbangan dari para donatur yang kemudian dibagikan kepada siswa yang terpilih mendapatkan paket berupa tas sekolah berisi buku, dan peralatan alat tulis. Manager Lazdai Prihtiono mengatakan, program ini bertujuan memfasilitasi dhuafa dan yatim untuk memenuhi paket Perlengkapan Sekolah. Agar mereka dapat memenuhi kebutuhan sekolah dan termotivasi untuk semangat belajar, serta harapannya mereka bisa meraih cita-citanya. “Semoga seragam sekolah yang disalurkan dapat memenuhi kebutuhan sekolah mereka, memotivasi semangat belajar mereka, serta mereka juga bisa termotivasi untuk mencapai cita-citanya untuk masa depan yang lebih baik” ujar Prihtiono. Penyaluran paket sekolah ini merupakan program rutin Lazdai setiap tahun ajaran baru. Diberikan kepada dhuafa dan yatim yang membutuhkan uluran tangan kita dari para mitra yang terus mendonasikan bantuannya melalui Lazdai. Lazdai sebagai salah satu lembaga yang konsen dalam dunia pendidikan terus berupaya membantu dhuafa untuk mendapatkan pendidikan yang lebih baik.
Cacat Hewan Kurban
Sumber gambar : http://upakarti.com Assalamu’alaikum. Langsung saja, cacat apa saja yang menyebabkan hewan itu tidak boleh digunakan untuk kurban?Cukup jelas, trimakasih. ArriqaJawaban: Wa ‘alaikumus salam Cacat hewan kurban dibagi menjadi 3 macam: Pertama, cacat yang menyebabkan tidak sah untuk digunakan berkurban.Disebutkan dalam hadis, dari Al-Barra’ bin Azib radliallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda –sambil berisyarat dengan tangannya-, أَرْبَعَةٌ لَا يَجْزِينَ فِي الْأَضَاحِيِّ : العَوْرَاءُ البَيِّن عَوْرُهَا و الـمَرِيضَةُ البَيِّنُ مَرَضُهَا و العَرجَاءُ البَيِّنُ ظَلْعُهَا وَ الكَسِيرَةُ الَّتِي لَا تُنْقِي “Ada empat hewan yang tidak boleh dijadikan kurban: buta sebelah yang jelas butanya, sakit yang jelas sakitnya, pincang yang jelas pincangnya ketika jalan, dan hewan yang sangat kurus, seperti tidak memiliki sumsum.” (HR. Nasai, Abu Daud dan disahihkan Al-Albani). Keterangan: – Buta sebelah yang jelas butanya.Jika butanya belum jelas –orang yang melihatnya menilai belum buta– meskipun pada hakikatnya kambing tersebut satu matanya tidak berfungsi maka boleh dikurbankan. Demikian pula hewan yang rabun senja. Ulama’ madzhab syafi’i menegaskan hewan yang rabun boleh digunakan untuk berkurban karena bukan termasuk hewan yang buta sebelah matanya. – Sakit yang jelas sakitnya.Jika sakitnya belum jelas, misalnya, hewan tersebut kelihatannya masih sehat maka boleh dikurbankan.Pincang dan tampak jelas pincangnya.Artinya, pincang yang tidak bisa berjalan normal. Akan tetapi jika baru kelihatan pincang, namun bisa berjalan dengan baik maka boleh dijadikan hewan kurban. – Hewan yang sangat kurus, seperti tidak memiliki sumsum.Dan jika ada hewan yang cacatnya lebih parah dari empat jenis cacat di atas maka lebih tidak boleh untuk digunakan berkurban.(Shahih Fiqih Sunnah, II:373 dan Syarhul Mumti’ 3:294). Sebagian ulama menjelaskan bahwa isyarat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tangannya ketika menyebutkan empat cacat tersebut menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membatasi jenis cacat yang terlarang. Sehingga yang bukan termasuk empat jenis cacat sebagaimana dalam hadis boleh digunakan sebagai kurban. (Syarhul Mumthi’ 7:464). Kedua, cacat yang menyebabkan makruh untuk dijadikan kurban, ada 2:– Sebagian atau keseluruhan telinganya terpotong– Tanduknya pecah atau patah(Shahih Fiqih Sunnah, II:373). Terdapat hadis yang menyatakan larangan berkurban dengan hewan yang memilki dua cacat, telinga terpotong atau tanduk yang pecah. Namun hadisnya dhaif, sehingga sebagian ulama menggolongkan cacat jenis kedua ini hanya menyebabkan makruh dipakai untuk kurban. (Syarhul Mumthi’ 7:470). Ketiga, cacat yang tidak berpengaruh pada hewan kurban (boleh dijadikan untuk kurban) namun kurang sempurna. Selain 6 jenis cacat di atas atau cacat yang tidak lebih parah dari itu maka tidak berpengaruh pada status hewan kurban. Misalnya tidak bergigi (ompong), tidak berekor, bunting, atau tidak berhidung. Wallahu a’lam(Shahih Fiqih Sunnah, II:373). Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina Konsultasi Syariah) Sumber artikel : https://konsultasisyariah.com
Inilah Kurban yang Diterima Allah
Allah SWT telah memilih empat hari yang istimewa. Pertama, Jumat karena di dalamnya ada waktu dikabulkannya doa. Siapa saja yang berdoa kepada Allah, baik mengenai urusan dunia maupun akhirat, Allah pasti akan mengabulkannya. Kedua, hari Arafah. Allah berfirman kepada malaikat, “Lihatlah hamba-hamba-Ku yang datang dari berbagai penjuru dunia dengan berlumuran debu. Mereka telah menafkahkan hartanya dan melelahkan badannya. Saksikanlah bahwa Aku telah mengampuni mereka.” Ketiga, hari Idul Fitri. Ketika kaum Muslimin berpuasa pada bulan Ramadhan, mereka mengakhirinya dengan merayakan hari raya Idul Fitri dan melaksanakan salat Id. Keempat, hari Idul Adha. Inilah hari keempat yang dipilih Sang Khalik. Pada hari itu, seorang hamba berkurban kepada Allah SWT. Setiap tetes darah dari hewan kurban yang disembelihnya adalah penghapus dosa-dosanya. Allah berfirman kepada para malaikat, “Setiap orang yang beramal pasti mengharapkan balasan. Oleh karena itu, saksikanlah bahwa Aku telah mengampuni mereka semua.” Para malaikat berseru, “Wahai umat Muhammad, pulanglah karena Allah telah mengganti keburukan kalian dengan kebaikan.” Riwayat yang disarikan dari buku Menyingkap hati, Menghampiri Ilahi: Ziarah Ruhani Bersama Imam al-Ghazali itu menjelaskan bahwa Idul Kurban adalah hari yang istimewa di sisi Allah. Setiap Muslim yang memiliki keluasan rezeki disunahkan untuk menyembelih hewan kurban sebagai upaya untuk mendekatkan diri dengan Sang Maha Pencipta. Sesungguhnya, ada dua tipe manusia yang berkurban. Dalam Alquran dijelaskan, ada seseorang yang berkurban dengan tulus sehingga kurbannya diterima Allah SWT. Ada pula yang berkurban dengan setengah hati sehingga kurbannya sia-sia, tanpa mendapatkan ridha Allah. Tipe pertama diwakili oleh Habil anak Nabi Adam yang mengorbankan harta miliknya yang paling berharga, yaitu kambing yang gemuk dan besar. Ia mempersembahkannya kepada Allah dengan tulus ikhlas untuk mendapatkan ridha Sang Khalik. Tipe kedua adalah Qobil anak Nabi Adam yang lain. Meski ia seorang petani kaya, Qabil berkurban dengan segenggam gandum yang kering dengan niat setengah-setengah. Hasilnya, Allah menerima kurban Habil dan menolak persembahan Qabil. Kisahnya dijelaskan dalam surah al-Maidah [5] ayat 27. Mudah-mudahan ibadah kurban kita pada Idul Kurban 1431 H ini, termasuk pada tipe Habil yang berkurban dengan ikhlas dan tulus untuk mendapatkan ridha Allah SWT. Semoga. Sumber : https://www.republika.co.id
