Saudi akan Kirim Daging Kurban 17 Ribu Domba ke Indonesia

Pemerintah Kerajaan Arab Saudi akan mengirimkan potongan daging kurban dari 17 ribu ekor domba yang dikumpulkan dari jamaah haji pada musim Haji 1439 Hijriyah (2018) kepada masyarakat Muslim Indonesia. “Beberapa hari yang lalu kami menandatangani nota kesepahaman dengan Pemerintah Indonesia tentang hal tersebut. Dan ini adalah yang pertama kali kami mengirimkan daging kurban untuk Muslim Indonesia,” kata Pengawas Umum Proyek Pengelolaan Daging Kurban Dari Jamaah Haji, Rahimi Ahmed Rahimi kepada sejumlah wartawan dari enam negara saat mengunjungi Kantor Pemerintah Kota Suci Mekkah, baru-baru ini. Dia menambahkan bahwa setiap musim Haji Pemerintah Saudi menerima dan mengelola lebih dari satu juta hewan kurban dari para jamaah haji. Mereka mendistribusikan daging kurban dalam lingkup lokal dan global di bawah program “the Saudi Project for Utilization of Hajj Meat” atau Proyek Pengelolaan Daging Kurban Jamaah Haji. Sejak 2003, Pemerintah Kerajaan mengirimkan potongan daging kurban kepada masyarakat Muslim yang tidak mampu secara ekonomi. Sejauh ini telah ada 35 negara yang telah menandatangani nota kesepahaman dengan Pemerintah Kerajaan terkait pendistribusian daging kurban. Selain ke Indonesia, daging kurban dari jamaah haji juga dikirim ke Mesir, Tunisia, Mauritania, Ethiopia, dan Suriah. “Kami hanya memiliki waktu sekitar 48 jam untuk menyembelih semua hewan kurban tersebut,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa setelah daging kurban didistribusikan bagi masyarakat Saudi sendiri dan para jamaah haji, proses pengiriman daging ke luar negeri dilakukan mulai akhir bulan Muharram hingga awal bulan Ramadhan atau sekitar sembilan bulan. Sebagian besar daging kurban yang telah dikemas dengan teknologi tinggi guna menjaga kebersihan dan pengawetan tersebut, dikirim melalui jalur laut, dan sebagian lain melalui jalan darat. Rahimi, yang juga merupakan Kepala Direksi Perusahaan Gelatin dan Kapsul Saudi, mengatakan proses pengiriman membutuhkan waktu lima hingga sepuluh hari, tergantung pada lokasi negara sasaran. Guna mengelola lebih dari satu juta hewan kurban tersebut, Pemerintah Saudi telah menyiapkan delapan rumah penyembelihan hewan yang dilengkapi teknologi pemotongan yang canggih sehingga proses tersebut dapat dilakukan dengan cepat dan tetap memenuhi aturan Islam. Setiap rumah penyembelihan juga memiliki penyembelih, teknisi dan sejumlah pekerja lainnya yang bekerja secara professional. Seluruh biaya penyembelihan dan pengiriman daging kurban ke luar negeri ditanggung oleh Pemerintah Saudi dan didukung oleh Bank Pembangunan Islam (IDB). Sumber : https://www.republika.co.id

Agar Kurban Kian Berkah, Begini Kiatnya

Foto: Republika/Musiron Berkurban memiliki pahala dan keutamaan yang besar. Karena itu, tuntunan berkurban disandingkan dengan perintah shalat seperti tertuang di surah al-Kautsar ayat 2. Sebuah hadis menyebut pula, berkurban sangat dicintai Allah SWT. Dan, hewan yang dikurbankan kelak akan menjadi saksi dan bukti ketulusan di hadapan-Nya. Guru besar ilmu hadis Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, Prof Abdurrahman al-Barr, mengatakan atas dasar keistimewaan itu pulalah berkurban tak sekadar menyembelih hewan lalu selesai dan gugur kesunatannya. Lebih dari itu, di balik anjuran berkurban terdapat sejumlah etika yang penting dipenuhi. Itu agar kurban yang ditunaikan lebih bermakna dan tentunya potensial diterima oleh Allah. Dalam takaran dan kacamata manusia, tentunya. Beberapa etika di antaranya berkorelasi langsung dengan teknis dan prosedur penyembelihan, yaitu meliputi waktu, tata cara, dan fikih pemotongan. Tetapi, sebagian lain adalah dasar moral etika berkurban yang tidak berkaitan langsung dengan prosesi atau teknis kurban. Pembahasan kali ini mencoba fokus pada jenis etika yang kedua. Apa sajakah adab dan etika berkurban yang perlu diperhatikan? Prof Abdurrahman memaparkan bahasan ini dalam makalahnya yang berjudul “Al-Udhhiyah Fadhluha wa Ahkamuha”. Menurut dia, poin pertama yang mutlak harus ditekankan oleh mereka yang hendak berkurban ialah meluruskan niat. Akibat inkonsistensi niat, pahala berkurban terancam sia-sia. Motif utama pekurban seyogianya bukan perkara duniawi seperti menarik pujian atau simpati. Melainkan, sudah semestinya kurban yang ditunaikan murni ditujukan untuk-Nya. Sebab, hakikat dan esensi berkurban ialah tercapainya ketakwaan dalam diri seseorang. “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. al-Hajj [22]: 37). Abdurrahman mengemukakan, agar pekurban tidak memotong kuku atau mencukur rambutnya ketika memasuki tanggal 10 Dzulhijjah, seperti yang dianjurkan dalam hadis Muslim dari Ummu Salamah. Rasulullah menganjurkan agar orang yang ingin berkurban tidak mengambil sedikit pun dari rambut atau kukunya. Hikmah di balik tuntunan ini, antara lain, agar pembebasan dirinya dari api neraka bisa lebih sempurna. Pandangan lain mengatakan, larangan adalah bentuk pengilhaman ritual oleh para jamaah haji.   Guna menyempurnakan ibadah kurban, Rasulullah menganjurkan agar daging hewan kurban didistribusikan kepada sesama. Anjuran berbagi akan menjadikan ibadah ini semakin bermakna. Mengingat tak sedikit dari masyarakat yang jarang mengonsumsi dan merasakan kenikmatan daging.  Cara pembagiannya, sepertiga bagi keluarga, sepertiga untuk disimpan, dan sepertiganya lagi dibagi ke sesama.  Abdurrahman menerangkan, para pekurban dianjurkan untuk menyembelih sendiri hewan kurbannya atau menyaksikan langsung proses penyembelihan. Rasulullah, seperti hadis az-Zuhri dari Aisyah RA, melakukan pemotongan hewan kurban sendiri. Nabi kerap pula memerintahkan isteri dan puteri-puterinya supaya melihat proses pengurbanan hewan. Soal jenis hewan dan sumber harta, Abdurrahman menegaskan bahwa binatang yang dikurbankan mesti berupa hewan berkualitas dan tidak ada kekurangan, seperti cacat di salah satu bagian tubuhnya. Abu Amamah bin Sahal mengatakan, para sahabat di Madinah selalu berkurban dengan hewan yang sehat dan gemuk. Sebagaimana teladan Rasul kala mengurbankan dua domba yang bermutu tinggi. Demikian juga dengan sumber hartanya. Uang yang dipergunakan untuk membeli kurban mesti berasal dari sumber nafkah yang halal. Ini lantaran Allah adalah Mahabaik dan tidak akan menerima sedekah atau ibadah apa pun kecuali yang dihasilkan dari muasal yang halal dan baik pula. Sumber : https://www.republika.co.id

Rumah Pemberdayaan Dhuafa Lazdai Spirit Center

Bandar Lampung (20/7) – Memasuki bulan ke 5 belajar, anak-anak RPD LSC mendapatkan materi multi media berupa video editing dan lain sebagainya. Kursus komputer gratis untuk anak-anak yatim, dhuafa dan putus sekolah ini memiliki durasi waktu belajar selama 8 bulan (6 bulan0 materi kelas dan 2 bulan praktek kerja di lapangan). Selain materi multimedia, materi utama yang masuk dalam kurikulum belajar di kelas RPD adalah ms. office, desain grafis dan materi-materi lain yang menjadi penunjang untuk menyiapkan lulusan yang siap kerja dan atau membuka usaha sendiri, diantaranya materi softskill dan lifeskill (public speaking, motivasi, kewirausahaan, dan olah raga) dan materi keagamaan (tahsin dan tahfidz al qur’an) sejauh ini RPD LSC sudah banyak meluluskan siswa-siswa yang siap untuk memasuki dunia kerja. Rencananya, untuk bisa memberikan kemanfaatan yang lebih, Lazdai akan membuka RPD LSC kelas menjahit untuk wanita. ===================== *_mari bantu mereka yang membutuhkan_* Transfer Donasi: *BSM 700 704 8108* *BNI Syariah 028 5076 122* an Lazdai (yusuf effendi) informasi & konfirmasi: 0821 7601 9865 0812 7946 227 www.lazdai.org “Bersih Hati Peduli Sesama”

SATEQU LAZDAI

Assalamu’alaikum wr.wb  Semoga Bapak dan Ibu senantiasa dalam keberkahan Allah untuk terus menjalankan ibadah secara maksimal di  tahun ini serta diberi kelapangan rezeki. Aamiin Kepada Ykh Bapak/ Ibu Donatur yang mulia Tak terasa, tidak akan lama lagi kita akan berjumpa dengan hari raya Iedul Adha atau hari raya Qurban. Perbandingan jumlah hewan qurban yang disembelih di kota dan di desa sangat jauh berbeda, sehingga masih banyak sekali masyarakat,  kaum dhu’afa yang belum merasakan kebahagiaan qurban, maka perkenankanlah kami Lembaga Amil Zakat Dompet Amal Insani (LAZDAI) Lampung  bermaksud mengajak  kepada Bapak / Ibu / Saudara / i untuk melaksnakan ibadah qurban melalui lazdai. dan kami memberikan peluang menjadi Donatur / Muzakki/ Munfiq LAZDAI  Lampung terkhusus dalam program SATEQU (Salur Tebar Qurban) hingga ke pelosok desa dan program pemberdayaan lainnya. Insya Allah hewan qurban yang bapak/ibu titipkan kepada kami, akan kami salurkan ke berbagai daerah membutuhkan di Lampung. Bapak ibu bisa memilih berdonasi Program SATEQU bersama LAZDAI sbb : 1. *Qurban Kambing tipe A*  Rp2.300.000/ekor 2. *Qurban Kambing tipe AA* Rp2.750.000/ekor 3. *Qurban Sapi utuh* Rp17.500.000/ekor 4. *Qurban Sapi retail (1/7)* Rp2.500.000 5. *Qurban Sapi Istimewa utuh* Rp23.240.000/ekor 6. *Qurban Sapi Istimewa retail (1/7)* Rp3.320.000 7. *Sedekah Patungan Hewn Qurban* mari siapkan Qurban terbaik kita dari sekarang. Pemesanan hewan qurban bisa transfer ke rekening BANK SYARIAH MANDIRI 7007048108 an. LAZDAI bukti transfer mohon kirim via WhatsApp ke 0812 7946 227 (Esa Efriyani) #BersihHatiPeduliSesama *HappyIedAdhaForAllMuslim* #IngatZakatIngatLazdai #QurbandiLazdiaja #satequ #qurbankepelosokdesa

Lazdai dan Baznas Salurkan Qur’an Untuk Ponpes Di Lampung

Bandar Lampung (20/7) –  Lazdai lampung bekerjasama dengan baznas pusat menyalurkan bantuan al qur’an untuk para santri pondok pesantren tahfidz M. Natsir yang bertempat di Desa Margomulyo kecamatan Jati agung Lampung selatan. Prastiyo selaku penanggungjawab program wakaf qur’an dari Lazdai menyerahkan secara langsung bantuan al qur’an kepada ustadz Eko Susanto, S.Pd.I (pimpinan pondok dan panti asuhan M. Natsir). Tak hanya menyerahkan bantuan secara simbolis, tim Lazdai juga menyapa dan berinteraksi dengan para santriwati yang sedang melaksanakan aktivitas menghafal dan menulis al qur’an di salah satu Saung Qur’an di area pondok tersebut. “Kami mengucapkan terimakasih kepada Lazdai Lampung dan Baznas pusat atas bantuan al qur’an hafalannya, semoga ini bisa membuat para santri lebih bersemangat dalam menghafal al qur’an”, tutur ustadz Eko. ====================== *_mari bantu mereka yang membutuhkan_* Transfer Donasi: *BSM 700 704 8108* *BNI Syariah 028 5076 122* an Lazdai informasi & konfirmasi: 0821 7601 9865 0812 7946 227 www.lazdai.org “Bersih Hati Peduli Sesama”

Mengapa Mengeluh?

Mengapa kau mengeluh rezekinya sempit, padahal pekerjaan yang kau lakukan kualitasnya memang hanya “recehan” dan kau terjebak pada rutinitas yang menjemukan? Rezeki memang datang dari Allah tetapi bagaimana agar rezeki datang kepadamu dengan deras, tugasmulah yang menciptakan jalannya. Jangan berharap sesuatu yang besar bila nyalimu kecil, pekerjaanmu tak berkualitas dan kau tak berani melakukan terobosan. Mengapa kau mengeluh banyak hutang, padahal itu ulah perilakumu yang lebih mengedepankan keinginan dari pada kebutuhan? Lebih mengedepankan gengsi dibandingkan esensi. Lebih mengedepankan pujian orang daripada menata dan memperbaiki kehidupanmu. Mengapa kau mengeluh karir atau bisnismu stagnan, bukankah itu akumulasi dari perilakumu selama ini? Kerja asal kerja, bisnis asal bisnis. Sesuatu yang dilakukan asal-asalan hasilnya merugikan. Terlihat kerja tetapi menyiksa. Terlihat sibuk tapi tak menghasilkan. Lelah tapi tak dapat rupiah. Lelah tapi tak tercatat sebagai ibadah. Mengapa kau mengeluh ini dan itu padahal perilakumu juga cuma ini dan itu. Tahu diri dong kalau mau ngeluh. Semua yang terjadi itu karena ulahmu. So, mengapa kau harus mengeluh? Bukankah itu berarti “menepuk air di dulang terpercik muka sendiri?” Mengeluh itu manusiawi tetapi bila terlalu banyak mengeluh itu artinya hidupmu sedang jatuh ke dasar bumi. Sumber : http://www.jamilazzaini.com

MISKIN – LAYAK – BERADAB

Oleh : M IMRON ROSADI  Ide tulisan ini muncul setelah sekitar 50 menit melihat dan mendengarkan nasihat-nasihat singkat Cak Nun via chanel Youtube. Khusus nya pada topik-topik yang menyindir tentang makna kesyukuran, kepedulian dengan orang lain dan hakikat kehidupan. Selesai melihat dan mendengarkan nasihat-nasihat tersebut, entah kenapa di benak ini muncul tiga kata, anehnya bila ketiganya disambungkan membentuk satu frase yang saling berkaitan. Tiga kata tersebut adalah ; Miskin, Layak, dan Beradab. Setelah kurang lebih 10 menit merenungkannya, kami mencoba menuangkan dalam sebuah ide dan gagasan, semoga ada manfaat yang dapat kita peroleh. Kita mulai dari sini : Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis Januari 2018, angka kemiskinan Indonesia per September 2017 mencapai 26,58 juta orang. Angka kemiskinan turun dibanding periode sama 2016 yang mencapai 27,77 juta orang. Akan tetapi, jika dihitung berdasarkan standar Bank Dunia, jumlah orang miskin di Indonesia diperkirakan lebih banyak dari yang dirilis BPS. Pasalnya, dalam menghitung angka kemiskinan, BPS menggunakan garis kemiskinan sebesar Rp 387.160 per kapita per bulan. Sementara itu, garis kemiskinan Bank Dunia adalah sebesar USD 1,9 per hari, atau setara Rp 775.200 per bulan (kurs 13.600).  Institute for Development of Economics and Finance (Indef) merilis, jika diukur dengan standar Bank Dunia, maka angka kemiskinan bisa lebih dari dua kali lipat, yaitu bisa mencapai 70-an juta orang. Bila kita mengacu pada standar BPS Indonesia, seseorang atau sebuah keluarga dikatakan miskin apabila memenuhi 14 kriteria ini 1. Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8m2 per orang 2. Jenis lantai tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan 3. Jenis dinding tempat tinggal dari bambu/ rumbia/ kayu berkualitas rendah/tembok tanpa diplester. 4. Tidak memiliki fasilitas buang air besar/ bersama-sama dengan rumah tangga lain. 5. Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunakan listrik. 6. Sumber air minum berasal dari sumur/ mata air tidak terlindung/ sungai/ air hujan. 7. Bahan bakar untuk memasak sehari-hari adalah kayu bakar/ arang/ minyak tanah 8. Hanya mengkonsumsi daging/ susu/ ayam dalam satu kali seminggu. 9. Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun 10. Hanya sanggup makan sebanyak satu/ dua kali dalam sehari 11. Tidak sanggup membayar biaya pengobatan di puskesmas/ poliklinik 12. Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah: petani dengan luas lahan 500m2, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan dan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan dibawah Rp. 600.000,- per bulan 13. Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga: tidak sekolah/ tidak tamat SD/ tamat SD. 14. Tidak memiliki tabungan/ barang yang mudah dijual dengan minimal Rp. 500.000,- seperti sepeda motor kredit/ non kredit, emas, ternak, kapal motor, atau barang modal lainnya. Jika minimal 9 variabel terpenuhi maka suatu rumah tangga miskin. Bila kita mengaju pada Islam, penentuan seseorang atau keluarga yang dikategorikan miskin akan dilihat dari seberapa jauh terpenuhinya kebutuhan pokok atau konsumsi nyata yang meliputi: pangan, sandang, pemukiman, pendidikan dan kesehatan. Konsumsi nyata ini dinyatakan secara kuantitatif (dalam bentuk uang) berdasarkan hanya pada tahun tertentu. Kebutuhan pokok merupakan kebutuhan yang sangat penting, guna kelangsungan hidup manusia. Islam menganggap kemiskinan sebagai suatu masalah yang memerlukan penyelesaian, bahkan merupakan bahaya yang wajib diperangi dan diobati. Usaha-usaha mencari penyelesaian perlu dilakukan, tetapi ini bukan berarti kita menafikan qada’ dan qadar Allah SWT terhadap setiap makhluk-Nya. Di antara prinsip Islam, setiap permasalahan ada penyelesaiannya. Setiap penyakit ada obatnya. Dia yang menjadikan penyakit, dan Dia jugalah yang mencipta obatnya. Jika kemiskinan ditakdirkan oleh Allah SWT, maka pembebasan dari belenggu kemiskinan juga merupakan takdir Allah SWT juga. Kembali ke pokok gagasan. Melihat data kemiskinan di Indonesia baik yang mengacu pada data BPS dan Bank Dunia. Kemudian mencoba mengkaitkan dengan cara pandang Islam melihat kemiskinan dan hakikat  dalam menjalani kehidupan. Muncul sebuah pemikiran mendasar untuk secara bertahap merubah kondisi individu maupun kelompok yang masuk dalam kategori miskin, naik beranjak menuju kondisi layak dan pada akhirnya bisa tergolong menjadi individu maupun kelompok yang beradab. Pertama sekali yang harus sama-sama kita lakukan adalah merubah mindset atau cara pandang orang-orang yang tergolong dalam kelompok miskin tersebut. Cara pandang tentang dalamnya melihat setiap takdir kehidupan serta luasnya hati dalam memaknainya. Saat ini kita boleh miskin harta, namun kita tidak boleh miskin jiwa. Hanya dengan jiwa yang kaya dan lapang, maka energi positif dan sikap optimisme akan hadir untuk menaklukan setiap fase kehidupan yang menurut sebagian orang berat untuk di hadapi. Bila kita tanya, siapa manusia yang tidak ingin hidup layak, dan bahagia? Kita semua tentu bersepakat, tidak akan ada, karena dari mulai anak kecil hingga dewasa pasti ingin merasakan hidup yang lebih baik Tapi ingat, yang harus jadi pemahaman bersama, bahwa rasa senang dan bahagia itu bersifat unconditional. Kedua rasa itu bisa muncul tiba-tiba dan menghilang begitu saja. Tergantung seperti apa yang ada dalam pikiran  kita saat itu. Sedikit mengutip beberapa nasihat Cak Nun, bahwa setiap kondisi ataupun takdir yang kita alami, disana banyak terdapat hikmah dan rizki yang Allah SWT berikan kepada kita. Ketika kita sedang diberi kesempatan untuk mendapatkan rezeki yang banyak, contoh bonus kerjaan sedang naik, laba dari usaha sedang bagus, saat itulah Allah SWT sedang memberikan rizky kepada kita berupa kesenangan dan kebahagiaan. Namun ingat disana pula Allah SWT sedang memberikan rizky kepada kita berupa hikmah untuk senantiasa bersyukur, rendah hati dan tidak sombong. Sebaliknya, apabila kita sedang diberi kesempatan untuk berada dalam kondisi yang kurang menyenangkan, contoh uang hilang, ditipu orang, dagangan sepi dan rugi. Disanalah Allah SWT sedang memberikan rizky kepada kita berupa hikmah untuk senantiasa mematangkan jiwa, berproses menjadi orang yang bersabar dan senantiasa mengevaluasi diri. Disinilah kekuatan sikap berperan. Bila mengutip syair legendaris dari Imam Syafi’i siapapun dan dalam kondisi apapun kita saat ini, tentu akan ada energi positif yang kita dapatkan. Beliau berkata ; ” Biarkan dunia berlaku semaunya, yang terpenting pastikan hati dan diri ini ikhlas ketika takdir itu datang. Jangan takut akan kelamnya malam, karena peristiwa duniawi tak ada yang abadi “ Hidup senang dan bahagia itu sebenarnya relatif tidak sulit. Hal yang membuat sulit adalah kadangkala kita sudah membuat benteng terlebih dahulu, sehingga bahagia sulit untuk datang.  Tahap selanjutnya setelah cara pandang kelompok masyarakat yang tergolong miskin tadi berubah. Energi positif dalam memaknai kehidupan telah mampu mensupplay fisik untuk bergerak dan

Jangan Asal Kurban! Ini Cacat Hewan Kurban yang Membuat Tidak Sah

Ada empat cacat yang membuat hewan kurban tidak sah: (1) buta sebelah dan jelas sekali kebutaannya, (2) sakit dan tampak jelas sakitnya, (3) pincang dan tampak jelas pincangnya, (4) sangat kurus sampai-sampai tidak punya sumsum tulang. Kalau dianggap tidak sah, berarti statusnya cuma daging biasa, bukan jadi kurban. Hal inilah yang disebutkan oleh Ibnu Hajar selanjutnya pada kajian Bulughul Marom. Dalam hadits no. 1359, disebutkan, وَعَنِ اَلْبَرَاءِ بنِ عَازِبٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَامَ فِينَا رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَ: – “أَرْبَعٌ لَا تَجُوزُ فِي اَلضَّحَايَا: اَلْعَوْرَاءُ اَلْبَيِّنُ عَوَرُهَا, وَالْمَرِيضَةُ اَلْبَيِّنُ مَرَضُهَا, وَالْعَرْجَاءُ اَلْبَيِّنُ ظَلْعُهَا  وَالْكَسِيرَةُ اَلَّتِي لَا تُنْقِي” – رَوَاهُ اَلْخَمْسَة ُ . وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَابْنُ حِبَّان َ Dari Al Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdiri di tengah-tengah kami dan berkata, “Ada empat cacat yang tidak dibolehkan pada hewan kurban: (1) buta sebelah dan jelas sekali kebutaannya, (2) sakit dan tampak jelas sakitnya, (3) pincang dan tampak jelas pincangnya, (4) sangat kurus sampai-sampai tidak punya sumsum tulang.” Dikeluarkan oleh yang lima (empat penulis kitab sunan ditambah dengan Imam Ahmad). Dishahihkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Hibban. Hadits di atas menunjukkan bahwa jika di antara empat cacat tersebut ditemukan, maka tidak sah dijadikan kurban. 1- Buta sebelah yang jelas butanya, yang dimaksud adalah buta yang sampai nampak matanya keluar atau tercungkil. Sedangkan jika di matanya putih dan tidak bisa hilang, maka itu tetap sah. Karena butanya bukanlah buta yang jelas dan tidak berpengaruh akan kurangnya dagingnya. Sedangkan jika kedua matanya buta, itu jelas lebih parah. Karena jika sampai dua matanya buta, sulit untuk berjalan, sulit mencari teman dan tidak bisa berkumpul ketika makan. 2-  Sakit yang jelas sakitnya, artinya sakit yang nampak sakitnya yang menyebabkan tambah kurus dan kualitas daging menurun. Di antara penyakit tersebut adalah kudis karena dapat merusak kualitas daging dan kegemukannya. 3- Pincang dan tampak jelas pincangnya artinya tampak jeleknya. Berkaitan dengan pincang adalah bagian kaki atau tangan terpotong. Jelas hal ini tidak sah karena sudah melebihi pincang. Termasuk juga dalam hal ini jika ada bagian yang cacat dan membuat sulit berjalan karena ada penyakit yang menyerang pada bagian tertentu. 4- Sangat kurus hingga tidak memiliki sumsum tulang sampai-sampai tidak enak dipandang. Adapun jika tidak terlalu kurus dan masih memiliki daging pada tulangnya, maka tidak sampai membuat cacat. Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, وَأَجْمَعُوا عَلَى اِسْتِحْبَاب اِسْتِحْسَانهَا وَاخْتِيَار أَكْمَلهَا ، وَأَجْمَعُوا عَلَى أَنَّ الْعُيُوب الْأَرْبَعَة الْمَذْكُورَة فِي حَدِيث الْبَرَاء ، وَهُوَ : الْمَرَض ، وَالْعَجَف وَالْعَوْرَة وَالْعَرَج الْبَيِّن ، لَا تُجْزِي التَّضْحِيَة بِهَا ، وَكَذَا مَا كَانَ فِي مَعْنَاهَا ، أَوْ أَقْبَح كَالْعَمَى ، وَقَطْع الرَّجُل ، وَشَبَهه . وَحَدِيث الْبَرَاء هَذَا لَمْ يُخَرِّجهُ الْبُخَارِيّ وَمُسْلِم فِي صَحِيحَيْهِمَا ، وَلَكِنَّهُ صَحِيح رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيّ وَالنَّسَائِيُّ وَغَيْرهمْ مِنْ أَصْحَاب السُّنَن بِأَسَانِيد صَحِيحَة وَحَسَنَة ، قَالَ أَحْمَد بْن حَنْبَل : مَا أَحْسَنه مِنْ حَدِيث ، وَقَالَ التِّرْمِذِيّ : حَدِيث حَسَن صَحِيح “Para ulama sepakat akan disunnahkannya dan dianggap baik memilih hewan kurban yang terbaik (sempurna). Para ulama pun sepakat bahwa empat cacat yang disebutkan dalam hadits Al Bara’, yaitu sakit, sangat kurus, buta sebelah, dan pincang tidak sah berkurban dengan hewan semacam ini. Begitu pula yang semakna dengannya atau lebih jelek cacatnya juga tidak sah, seperti kedua matanya buta, kakinya terpotong atau semacam itu. Sedangkan hadits Al Bara’ tidak dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim dalam kitab shahih mereka berdua. Akan tetapi hadits tersebut adalah hadits yang shahih diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmidzi, An Nasai, dan selain mereka dari penulis kitab sunan dengan sanad yang shahih dan hasan. Imam Ahmad bin Hambal berkata bahwa hadits tersebut bagus (hasan). Tirmidzi mengatakan bahwa hadits tersebut hasan shahih.” (Syarh Shahih Muslim, 13: 110-111) Sedangkan cacat yang ringan dimaafkan dan akan dijelaskan dalam hadits lainnya di kitab Bulughul Marom, moga Allah memudahkan untuk mengkajinya lebih lanjut. Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik. Referensi: Minhatul ‘Allam fii Syarhi Bulughil Marom, Syaikh ‘Abdullah bin Sholih Al Fauzan, terbitan Dar Ibnil Jauzi, cetakan pertama, tahun 1431 H, 9: 286-289. Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, Abu Zakariya Yahya bin Syarf An Nawawi, terbitan Dar Ibni Hazm, cetakan pertama, tahun 1433 H. Sumber : https://rumaysho.com

Ragu untuk Berkurban?

ilustrasi qurban Sebentar lagi Idul Adha. Berarti sebentar lagi harus menyiapkan hewan qurban. Bagi Pepi, seorang kepala rumah tangga yang hidup dengan 1 anak gaji pas – pasan, harga kambing minimal Rp. 1.500.000 sudah tergolong lumayan “memukul” untuk ukuran kantongnya.  Terutama untuk saat ini. Banyak kebutuhan rumah tangga yang harus dibeli untuk bulan ini. Diantaranya adalah Pepi sudah terlanjur berjanji untuk membelikan sepeda untuk ulang tahun anaknya. Walau sebenarnya uang di tabungan masih cukup untuk beli kambing, jika dipaksakan tentunya. Namun pada suatu siang, Pepi menerima BBM dari seorang teman, dan langsung merubah pikiran Pepi untuk 100% berniat membeli kambing qurban. Saat itu juga. Sebelumnya, juga sudah disentil oleh seorang ustad pada sebuah pengajian. “Tahun lalu nggak qurban kambing. Tahun ini nggak qurban juga? Kemana aja lho selama setahun ini? Dikemanain aja rejeki lho selama setahun kemarin? Anda termasuk yang masih merasa ragu untuk berqurban karena uang pas – pasan? Baca cerita yang menusuk ini (kisah ini terjadi beberapa tahun yang lalu) : Cerita Penjual Hewan Qurban (oleh: Bobby Herwibowo) Setelah melayani pembeli, Saya melihat seorang ibu sedang memperhatikan dagangan kami. Dilihat dari penampilannya sepertinya dia tidak akan beli. Namun Saya coba hampiri dan menawarkan. ‚” Silahkan bu..” “Kalau yang itu berapa bang?‚ Ibu itu menunjuk kambing yang paling agak kecil. “Kalau yang itu harganya Rp 600ribu bu”, jawab Pepi. “Harga pasnya berapa?” “500ribu deh. Kalau mau silahkan..” “Uang Saya Cuma ada 450ribu, boleh gak?” Waduh..Saya bingung, karena itu harga modal kami, akhirnya Saya berembug. ”Bismillah ambilah Bu,“ kata Saya. Saya pun mengantar kambing ibu. Ketika sampai di rumah ibu tersebut, Saya terkejut..! “Astaghfirullaah.. Allahu Akbar..!” Terasa mengigil seluruh badan Saya ketika melihat keadaan rumah ibu tersebut. Ibu itu hanya tinggal bertiga dengan ibu dan satu orang anaknya di rumah gubuk berlantai tanah. Saya tidak melihat tempat tidur/kasur, yang ada hanya dipan kayu beralas tikar lusuh. Diatas dipan, sedang tertidur seorang nenek tua kurus. ”Mak.. bangun mak, nih liat Sumi bawa apa…” Perempuan tua itu terbangun. “Mak, Sumi udah beliin kambing buat emak qurban, ntar kita bawa ke Masjid ya mak…” Orang tua itu kaget namun terlihat sorot bahagia di matanya. Sambil mengelus-elus kambing, orang tua itu berucap, “Alhamdulillah… akhirnya kesampaian juga emak berqurban…” “Nih bang duitnya, maaf ya kalau Saya nawarnya kemurahan, Saya hanya kuli cuci, Saya sengaja kumpulkan uang untuk beli kambing yang mau Saya niatkan buat qurban ibu saya…” Duh GUSTI… Ampuni dosa hamba… Hamba malu berhadapan dengan hambaMU yg satu ini. HambaMU yang Miskin Harta tapi dia kaya Iman. Seperti bergetar bumi ini setelah mendengar kalimat dari ibu ini. “Bang nih ongkos bajajnya.!” panggil si Ibu. “Sudah bu, biar ongkos bajaj Saya yang bayar.” Saya buru buru pergi sebelum ibu itu tahu kalau mata ini sudah basah karena tak sanggup mendapat teguran dari Allah swt Semoga cerita ini bermanfaat.. ———– Hati Pepi bergetar setelah membaca. Ada rasa bersalah didalam dirinya. Air mata pun menitik pelan. Rasa sesal yang selalu hadir di saat-saat kebimbangan seperti ini. Tanpa pikir panjang lagi, Pepi pun segera bergegas berlari ke ATM dan menghampiri pedagang kambing di dekat rumahnya. Kita yang punya uang pas–pasan, malu banget ya kalau baca cerita tadi? Lebih malu lagi kalau habis baca ini tidak segera membeli kambing. Lebih malu lagi kalau habis baca ini cuma mengambil tisu dan mewek saja. BERGERAAAAKKK…..!!!! AMBIL UANGMUUU…..!!!!! BELI KAMBING….!!!!! SERAHKAN KE MASJID atau LEMBAGA ZAKAT TERDEKAT….. Bismillah….. Semoga Allah akan mengganti dengan yang lebih baik….. Sekian. Sumber : http://www.jamilazzaini.com