Sedekah ketika Sehat, Gapai Pahala Besar di Akhirat

Kesehatan adalah hal terpenting bagi kelangsungan hidup manusia. Dengan kesehatan yang kita miliki tentu membuat kita mampu melakukan apapun. Oleh sebab itu, gunakanlah waktu sehat itu untuk selalu mengerjakan hal-hal baik. Semasa kita sakit mana mungkin kita seleluasa itu untuk beraktivitas itu, bukan? Maka dengan adanya kesehatan itu, perbanyaklah beramal dan menjalankan perintah dari Allah SWT dengan menyegerakannya. Hal baik yang harus segera dilakukan ketika sudah terbesit di hati niat untuk melakukannya salah satunya adalah bersedekah. Sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah SAW ketika ada seseorang bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling besar pahalanya?” Lalu beliau menjawab, “Bersedekahlah selama kamu masih sehat, bakhil (suka harta), takut miskin, dan masih berkeinginan untuk kaya. Dan, janganlah kamu menunda-nunda sehingga apabila nyawa sudah sampai di tenggorokan maka kamu baru berkata, ‘Untuk Fulan sekian dan untuk Fulan sekian’, padahal harta itu sudah menjadi hak si Fulan (ahli warisnya).” (HR. Bukhari dan Muslim). Sudah jelas bahwa hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah di atas menegaskan kepada kita untuk menyegerakan sesuatu yang baik seperti sedekah. Sebelum ajal menjemput, lakukanlah segala macam yang mendatangkan pahala dengan tidak menunda-nundanya, sebab syaitan akan dengan mudah membelokkan niat manusia untuk melakukan kebaikan dan akan mengarahkannya pada keburukan. Adapun waktu yang paling baik untuk bersedekah dan akan mendatangkan pahala yang besar adalah ketika badan masih sehat, artinya selagi badan kita diberi kesehatan oleh Allah SWT bersedekahlah baik dengan harta maupun dengan tenaga. Tidak ada batasan untuk itu. Kedua, saat krisis atau bencana alam. Sekarang ini banyak sekali bencana yang datang menimpa beberapa daerah di Indonesia, contohnya bencana gempa bumi di Cianjur yang menewaskan ratusan orang dan ratusan orang lainnya dalam kondisi terluka parah. Di saat seperti itu, mereka kehilangan harta bendanya, tempat tinggalnya bahkan keluarganya. Oleh karena itu, penting untuk kita memperhatikan mereka dengan jalan bersedekah melalui donasi dan menyalurkan berbagai bantuan yang dapat mendukung kehidupan mereka di dalam kondisi yang memprihatinkan. Ketiga, pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah SWT melebihi amal saleh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijjah). Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Rasulullah SAW menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR. Abu Daud, No. 2438) Keempat, bulan Ramadan. Waktu terbaik lainnya untuk bersedekah ada di bulan yang penuh rahmat dan salah satu bulan yang dianjurkan untuk mengerjakan ibadah puasa bagi umat muslim di seluruh dunia, yaitu bulan Ramadan. Dengan memperbanyak bersedekah, besar pula pahalanya sebab di bulan ini, Allah akan melipatgandakan pahala dari segala macam kebaikan yang hamba-Nya lakukan. Kelima, pada hari Jumat. Hari yang paling baik di antara hari-hari lainnya, dan akan Allah berikan pahala paling baik juga bagi seorang muslim yang bersedekah di hari Jumat. Sabda Rasulullah dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah: “Sebaik-baik hari yang matahari terbit padanya adalah hari Jumat, padanya Adam diciptakan, dimasukkan ke surga dan juga dikeluarkan darinya serta kiamat tidak akan terjadi melainkan pada hari Jumat.” (HR. Muslim, No. 585) Keenam, pada saat gerhana matahari atau bulan. Di waktu ini, Allah menunjukkan kekuasaan-Nya dengan sejajarnya orbit bumi, bulan dan matahari atau sebaliknya. Pada momen ini manfaatkan dengan bersedekah untuk orang-orang yang membutuhkan. “Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kekuasaan Allah. Gerhana ini tidak terjadi karena kematian seseorang atau lahirnya seseorang. Jika melihat gerhana tersebut, maka berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, kerjakanlah salat dan bersedekahlah.” (HR. Muslim, No. 901). sumber : kompasiana.com

Fenomena Hijaunya Pegunungan Arab

Belakangan ini media banyak memberitakan fenomena hijaunya gurun di tanah Arab, sebagaimana yang di publikasikan oleh Arabia weather pada tanggal 7 Januari bahwa American space agency (NASA) mengeluarkan dokumen pemandangan hijau yang ditangkap melalui citra satelit terra. Memang untuk kawasan Arab sendiri akhir-akhir ini aktivitas curah hujan tergolong tinggi, sejak Desember 2022 hujan terus turun di beberapa wilayah dengan volume tidak biasa dari tahun tahun sebelum nya. Jika kita berbalik kebelakang pada tanggal 24 November 2022 Arab Saudi sempat mengalami banjir bandang yang melanda bagian barat setelah hujan deras yang menurut laporan pusat meteorologi nasional Arab Saudi, kota Jeddah mencatat curah hujan 179mm antara pukul 08:00 dan pukul 14:00 waktu setempat. Ini lebih besar dari yang pernah terjadi pada tahun 2009 yang mana ketika itu curah hujan berada pada angka 90mm dalam periode 4 jam, peristiwa banjir bandang pada 2009 itu bahkan menewaskan sekitar 120 orang. Di tahun lalu (2022) Arab Saudi sampai meliburkan sekolah beberapa hari karena pertimbangan hujan yang akan turun deras sepanjang hari. Ali Yusuf salah satu pengurus lembaga penanggulangan bencana dan perubahan iklim Nahdlatul ulama (LPBINU) menjelaskan bahwa aktivitas curah hujan dengan intensitas tinggi serta terus menerus menyebabkan menghijaunya gurun gurun di Arab Saudi dan hal itu wajar saja terjadi. Selain karena curah hujan, rupanya Raja Salman pada tanggal 19 Maret 2019 meluncurkan proyek besar dibawah pengawasan komite pimpinan putra mahkota Muhammad bin Salman yaitu “Green Riyadh”. Sejauh ini proyek tersebut sudah berjalan di beberapa titik dan terus akan berlanjut sampai terwujud apa yang diharapkan selama ini oleh kerajaan Arab Saudi pimpinan raja Salman. Dikutip dari NU online (10 Januari 2022) media Al-Ekhbariya sempat mewawancarai direktur proyek Green Riyadh yaitu Abdulaziz Al-moqbel bahwa program ini bertujuan merehabilitasi sepenuhnya penghijauan 120 lingkungan perumahan serta target dari proyek besar ini adalah penghijauan sejumlah tempat di kota Riyadh seperti taman, jalan, dan lain nya. Mungkin dengan menghijau nya pegunungan Arab menjadi sebuah pencapaian penting dan bisa dikatakan prestasi, tapi di sisi lain seperti yang banyak diperbincangkan oleh umat muslim dunia fenomena berubahnya tanah Arab yang terkenal gersang menjadi subur seperti sekarang ini merupakan sebuah pertanda. Umat muslim dunia membuka kitab-kitab hadits Rasulullah Saw riwayat imam Muslim yang mana Baginda Nabi Muhammad Saw telah mepredeksikan kejadian ini sekitar 1400 tahun yang lalu. Dikutip dari buku berjudul fikih akhir zaman karangan Dr. KH. Rachmat morado Sugianto Lc. M.A. Al Hafidh. Bahwa negeri-negeri Arab atau kota-kotanya sejak dulu dikenal dengan tanah kering dan tandus seperti kota Mekkah yang disebut nabi Ibrahim as dalam doa Beliau yang termaktub dalam QS Ibrahim ayat 37. Namun keadaan itu akan berubah saat mendekati kiamat, negeri yang dikenal sebanyak 70 persen wilayahnya terdiri dari Padang pasir yang gersang itu akan menjadi hijau dan sungai sungai mulai bermunculan. Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadist nabi Muhammad Saw yang artinya “hari kiamat tidak berlaku sehingga tanah Arab menjadi subur makmur kembali dengan padang padang rumput dan sungai sungai”. Hadist ini menjelaskan suasana negeri Arab yang awalnya gersang menjadi negeri yang subur dengan tumbuhan dimana mana serta buah-buahan yang melimpah ruah. Dalam buku kiamat sudah dekat karya Dr. Muhammad al-Areifi sejumlah ilmuwan memberikan bukti bahwa sungai es sekarang mulai merambat ke arah jazirah Arab yang mana itu mempengaruhi wilayah tersebut dengan turun nya salju dan curah hujan yang ekstrem. Sekarang ini memang sudah begitu banyak peristiwa peristiwa yang sempat di katakan dalam Alquran maupun hadist nabi Muhammad Saw benar benar terjadi di muka bumi, lalu apakah kita akan menghindar dari fakta ini atau menjadikan nya sebagai pecutan untuk mengingat yang maha kuasa lebih kuat lagi itu tergantung pribadi masing masing. Kiranya fenomena yang semakin hari semakin jelas ini dapat meningkatkan nilai ketaqwaan kita kepada Allah SWT dan meneguhkan iman di dalam dada. Perihal hari akhir, itu bukan urusan kita yang mana kita hanyalah makhluk kecil umpama setetes air didalam luasnya samudra. Yang perlu kita lakukan sekarang kiranya mensyukuri nikmat yang telah diberikan dan menambah rasa cinta kita kepada -Nya. Wallahu a’lam.   Sumber Artikel : kompasiana.com

Hakikat Tawakal

Hakikat tawakal yang benar adalah dengan menjalankan sebab-sebab yang ada dengan tetap menyandarkan hati kepada Allah Ta’ala. Yakin bahwa segala sesuatu berada di bawah kehendak-Nya. Jika Allah berkehendak, maka akan Allah wujudkan dan kabulkan. Dan jika Allah tidak berkehendak, maka hal tersebut tidak akan terwujud dan tidak akan dikabulkan. Mukmin yang benar, tidak akan memasrahkan urusannya secara total hanya kepada sebab saja (bekerja keras dan meyakini bahwa kesuksesannya hanya bisa diraih dengan kerja kerasnya sendiri) tanpa campur tangan Allah Ta’ala. Mukmin yang benar juga tidak hanya berpangku kepada takdir Allah Ta’ala dan meremehkan usaha serta kerja keras. Mukmin yang benar memiliki sikap pertengahan dan bijaksana. Ia akan berusaha menjalani sebab-sebab yang ada, bekerja keras, lalu memasrahkan semua hasilnya kepada Allah Ta’ala. Allah memerintahkan kita untuk mengambil sebab dan menjalani langkah-langkah (sebab) yang ada. Di antaranya Allah Ta’ala berfirman, وَاَعِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ وَّمِنْ رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُوْنَ بِهٖ عَدُوَّ اللّٰهِ وَعَدُوَّكُمْ وَاٰخَرِيْنَ مِنْ دُوْنِهِمْۚ لَا تَعْلَمُوْنَهُمْۚ “Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda yang dapat menggentarkan musuh Allah, musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya.” (QS. Al-Anfal: 60) Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebaik-baik teladan dalam hal menjalankan sebab dan bertawakal kepada Allah Ta’ala. Keseimbangan dan sikap pertengahan beliau ini terlihat jelas dalam perjalanan hijrah beliau ke Madinah. Lihatlah bagaimana sempurnanya rencana beliau? Bagaimana hati-hatinya beliau hingga keluar untuk menemui Abu Bakar di waktu yang tidak biasa agar manusia tidak melihatnya? Bahkan, beliau menyewa orang yang ahli dan berpengalaman di dalam mengetahui peta jalan dan padang pasir untuk membantunya keluar dari kota Makkah, meskipun orang tersebut adalah seorang musyrik. Beliau rencanakan segala sesuatunya dengan cermat dan cerdik. Semua itu beliau lakukan dengan kondisi yakin bahwa Allah Ta’ala akan menolongnya dan membantunya! Bahkan, beliau juga pernah bersabda, لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَىٰ اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا “Sekiranya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah dengan tawakal yang sebenar-benarnya, sungguh kalian akan diberi rezeki (oleh Allah Ta’ala), sebagaimana seekor burung diberi rezeki. Ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi no. 2344, Ibnu Majah no. 4164 dan Ahmad no. 205) Burung yang notabene tidak memiliki akal saja, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kisahkan pergi di pagi hari dan pulang di sore hari untuk mendapatkan makanan. Lalu, bagaimana halnya dengan kita yang berakal?! Tentu saja berusaha dan mengambil sebab seharusnya sudah mengakar kuat pada diri kita. Salah dan keliru bila ada yang mengira bahwa makna tawakal adalah berserah diri total kepada Allah Ta’ala, tanpa perlu berusaha dan mencari sebab untuk mencapai tujuan. Ingin sukses dan memiliki harta, namun yang ia lakukan hanya berdoa kepada Allah tanpa bekerja. Sungguh ini adalah anggapan yang keliru. Bersumber dari muslim.or.id

Yuk Sholat

Salat merupakan perkara yang agung dan seharusnya menjadi perhatian kaum muslimin dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, banyak di antara kaum muslimin yang melalaikannya, dan tidak mempedulikannya sama sekali. Mereka inilah yang telah menyia-nyiakan salat sebagaimana yang Allah Ta’ala sebutkan dalam Al-Qur’an. Allah Ta’ala berfirman, فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيّاً  إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحاً فَأُوْلَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ شَيْئاً ”Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan salat dan memperturutkan hawa nafsunya. Mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh. Maka, mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikit pun.” (QS. Maryam: 59-60) Dalam ayat di atas, yang dimaksud dengan أَضَاعُوا الصَّلَاةَ (menyia-nyiakan salat) adalah semua bentuk perbuatan yang dinilai menyia-nyiakan salat. Termasuk di antaranya adalah menyia-nyiakan (tidak memperhatikan) syarat sah dan rukun salat, tidak khusyuk dalam salat, atau tidak salat wajib berjemaah di masjid bagi laki-laki tanpa uzur (tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat). Dan di antara bentuk menyia-nyiakan salat yang paling besar adalah tidak mendirikan atau mengerjakan salat. Surah Maryam ayat 59-60 di atas menjelaskan bahwa salah satu sifat generasi yang jelek adalah menyia-nyiakan salat. Orang yang menyia-nyiakan salat itu bisa disebabkan karena mengikuti syahwat yang terlarang. Dalam ayat yang lain, Allah Ta’ala mengancam orang-orang yang lalai dari ibadah salat bahwa mereka akan ditimpa kecelakaan. Allah Ta’ala berfirman, فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ”Maka, kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat,  (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4-5) Terdapat dua bentuk ”lalai” yang berkaitan dengan salat, yaitu: Pertama, lalai (lupa) ”dalam” salat. Lalai dalam salat ini bukanlah hal yang tercela. Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam pernah lupa telah mendapatkan berapa rakaat salat. Beliau pun kemudian melengkapi salatnya dan dilanjutkan dengan sujud sahwi. Kedua, lalai yang tercela adalah lalai ”dari” salat, yaitu semua bentuk kelalaian yang berkaitan dengan ibadah salat. Boleh jadi melalaikan syarat atau rukun salat, melalaikan waktu salat, tidak mengerjakan salat, atau baru mendirikan salat ketika sudah di akhir waktu salat. Maka, orang yang mengerjakan salat setelah selesai waktunya adalah pelaku dosa besar, sedang yang meninggalkan salat secara total walaupun hanya satu salat saja, baik di dalam waktu atau di luar waktunya, maka dia seperti orang yang berbuat zina dan mencuri. Karena orang yang meninggalkan salat adalah dosa besar. Jika hal ini dilakukan berkali-kali atau dengan kata lain terkadang salat dan terkadang tidak, maka dia termasuk pelaku dosa besar, kecuali jika dia bertobat. Jika terus menerus tidak salat, maka dia termasuk orang yang keji dan celaka dan orang yang melakukan tindak kejahatan. Allah Ta’ala berfirman, مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ وَلَمْ نَكُ نُطْعِمُ الْمِسْكِينَ وَكُنَّا نَخُوضُ مَعَ الْخَائِضِينَ وَكُنَّا نُكَذِّبُ بِيَوْمِ الدِّينِ حَتَّى أَتَانَا الْيَقِينُ فَمَا تَنفَعُهُمْ شَفَاعَةُ الشَّافِعِينَ “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam (neraka) Saqar?”  Mereka (orang-orang kafir) menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan salat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan kami membicarakan yang batil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan kami mendustakan hari pembalasan, hingga datang kepada kami kematian.” (QS. Al-Mudatsir: 42-48) Surah Al-Mudatsir ayat 42-28 di atas menunjukkan bahwa orang-orang kafir juga terkena kewajiban salat. Maksudnya, jika mati dalam kondisi kafir, mereka akan mendapatkan tambahan hukuman di neraka karena selama di dunia, mereka tidak mengerjakan (mendirikan) salat. Meskipun jika mereka salat dalam kondisi tidak beriman, maka salatnya tidak pernah sah sampai mereka masuk Islam terlebih dahulu. Hal ini menunjukkan bahwa mereka mendapatkan tambahan hukuman (azab) karena adanya kewajiban yang tidak mereka kerjakan. Ayat ini digunakan sebagai dalil dari sebagian ulama yang mengafirkan orang yang tidak mengerjakan salat. Lalu, apa sebab seseorang menyia-nyiakan (meninggalkan) salat? Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, وَمَنْ لَمْ يُحَافِظْ عَلَيْهَا لَمْ يَكُنْ لَهُ نُورٌ، وَلَا بُرْهَانٌ، وَلَا نَجَاةٌ ، وَكَانَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ قَارُونَ، وَفِرْعَوْنَ، وَهَامَانَ، وَأُبَيِّ بْنِ خَلَفٍ ”Barangsiapa yang tidak menjaga salat, maka dia tidak mendapatkan cahaya, tidak mendapatkan burhan (petunjuk), tidak mendapatkan keselamatan, dan di hari kiamat dia akan dikumpulkan bersama Qarun, Firaun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.” (HR. Ahmad 2: 169; Ad-Darimi 2: 301, dan lain-lain. Hadis ini dinilai sahih oleh Syekh Al-Albani) Dalam hadis di atas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan bahwa orang yang tidak menjaga alias menyia-nyiakan salat, akan dikumpulkan bersama Qarun, Firaun, Haman, dan Ubay bin Khalaf. Penyebutan tokoh-tokoh ini merupakan isyarat apakah penyebab seseorang meninggalkan salat. Sebab yang pertama, karena seseorang sibuk dengan hartanya. Qarun adalah simbol orang kafir yang memiliki harta yang melimpah. Sebab yang kedua, karena kekuasaannya. Firaun dan Haman adalah simbol orang kafir yang sangat berkuasa di zamannya. Kemudian sebab yang ketiga adalah karena sibuk dengan harta perdagangan atau perniagaannya. Dalam hal ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebutkan Ubay bin Khalaf sebagai simbol orang kafir yang berprofesi sebagai pedagang. Salat adalah ibadah yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat. Dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ”Hal pertama kali yang dihisab dari seorang hamba di hari kiamat adalah salatnya. Jika salatnya baik, maka dia telah beruntung dan selamat. Dan jika salatnya rusak, dia telah gagal dan merugi.” (HR. Tirmidzi no. 413 dan An-Nasa’i no. 465, dinilai sahih oleh Al-Albani) Semoga Allah Ta’ala memberikan petunjuk kepada kaum muslimin agar mereka istikamah dalam menjaga salatnya.   Bersumber dari muslim.or.id

Evaluasi Les Renang

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Evaluasi Les Renang dg couch wewin Indra selama 4 hari Hari ini mereka menempuh jarak 150 m. Dibagi 3 sesi. Tiap sesi 50m, dg jeda 25m bubbling karena jarak kolam panjangnya 25m. Yang berhasil tanpa berhenti ada dg capaian waktu : 1️⃣ Aziz 1.30 2️⃣ Baim 1.55 3️⃣ Punjabi 1.58 4️⃣ Anam 2.03 Yang menempuh sesi 150m namun di tiap sesi ada berhenti di tengah: 5️⃣ Husain 1.51 6️⃣ Zaid 2.24 7️⃣ Bara 2.25 8️⃣ Andika 2.34 9️⃣ Fahri 3.09 Yang hanya mencapai 2 sesi jadi total 100m : 🔟 Fatih 2.10 Yang hanya mencapai 1 sesi 50m : 1️⃣1️⃣ Sabi 3.28 Yang hanya mencapai 25m : 1️⃣2️⃣ Halqi ……..

Pengesahan RKT LAZDAI 2023

Assalamualaikum. Alhamdulillah kegiatan akhir tahun pengesahan RKT 2023 berjalan sukses. Kami ucapkan Trimakasih kpd seluruh Amil yg telah mensukseskan kegiatan tsb. Smg Allah SWT memberikan balasan kebaikan untuk kita smua dan Allah memudahkan pelaksanaan kegiatan 2023.