Termasuk Beruntung atau Rugikah Kita? Begini Ukurannya

Kebanyakan umat manusia itu sebenarnya masuk dalam kategori merugi. Hanya sedikit saja yang beruntung. Bagaiamana bisa menakar seseorang termasuk merugi atau beruntung?  Izzuddin ‘Abd al-Aziz Ibn Abd as-Salam as-Sulami dalam karyanya yang berjudul Akhwal an-Nass wa Dzikr al-Khasirin wa ar-Rabihin berpendapat tolak ukurnya cukup sederhana. Untuk mengukur merugi atau tidaknya seseorang cukup dilakukan dengan merefleksikan secara jujur tingkah lakunya dengan Alquran dan sunah. Bila ternyata telah sesuai, maka ia beruntung. Lain halnya, kalau ia tak jujur saat proses refleksi itu.  Sebagaimana disebut dalam Surah al-‘Ashr, bahwa sesungguhnya semua orang merugi kecuali mereka yang memiliki empat kriteria yaitu iman, amal shaleh, saling berwasiat kepada kebenaran dan terakhir ialah berwasiat agar tetap bersabar. Tetapi, jarang sekali keempat sifat ini kumpul dalam diri seseorang. Sangat nadir di jaman dengan tingkat kompleksitas hidup seperti ini.  Ada orang bergelimang maksiat, tetapi ia mengira penuh ketaatan. Ia telah jauh, tapi berpikir sangat dekat dengan-Nya. Ada yang bangga paling pintar, padahal sebenarnya ia bodoh. Banyak yang beramal, tetapi hanyalah pepesan kosong. Hanya dengan takaran syariatlah (Alquran dan sunah), kesemuanya itu bisa diukur. Dan, dengan ukuran itu pula lah kerugian dan keberuntungan sesorang dapat dinilai dengan gambling. “Jika beruntung, sungguh, dia adalah wali Allah,”tulisnya.    Karena itu, Izzuddin yang merupakan guru ulama terkenal, Ibnu Daqiq al ‘Id tersebut menegaskan hendaknya tidak mudah percaya jika melihat manusia bisa terbang, jalan kaki di permukaan air atau bisa melihat dunia ghaib, tetapi di saat yang sama perilakunya menyimpang dari ajaran agama dengan cara melanggar perkara haram tanpa sebab yang diperbolehkan agama.  Atau, misalnya, ia meninggalkan kewajiban tanpa alasan syar’i, maka ketahuilah bahwasanya orang yang demikian ialah setan berwujud manusia yang di peruntukkan Allah sebagai ujian bagi orang-orang bodoh. Layaknya Dajjal, ia bisa menghidupkan dan mematikan makhluk.  Soal alam barzah, Izzuddin yang merupakan penulis Kitab Ahkam al-Jihad tersebut mengemukakan bahwa alam barzah adalah tempat singgah bagi semua umat manusia, baik yang beriman atau kufur. Ada empat lokasi singgah bagi anak manusia, yaitu di kandungan seorang ibu, alam dunia, alam barzah, dan terakhir akherat yang kekal dan abadi. Kondisi dan ganjaran yang akan dialami dan diperoleh selama di barzah, ditentukan oleh baik buruk amalnya selama hidup di dunia. Sumber : https://www.republika.co.id

Kelas Menjahit Lazdai. Hari Pertama KBM, 10 Siswi RPD Lazdai ikuti pembelajaran dengan penuh semangat

Bandar Lampung, Senin (5/11) Rumah Pemberdayaan Dhuafa Lazdai mulai hari pertama kegiatan belajar untuk kelas menjahit gratis. Sebanyak 10 siswi kelas menjahit mengikuti pelajaran dengan baik dan sangat bersemangat dalam mendengarkan arahan dari tutor kelas. hari pertama belajar, tutor memberikan pelajaran mengenai dasar-dasar menjahit serta cara melakukan pengukuran. selain belajar tentang menjahit, nantinya para siswi juga akan mendapatkan pelajaran lain yang berbentuk sofskill seperti belajar membaca al-qur’an dengan baik dan benar. belajar kewirausahaan, motivasi, serta materi keislaman. Joni Warman selaku penanggung jawab program Rumah Pemberdayaan Dhuafa LAZDAI mengatakan harapannya agar program ini bisa terus dikembangkan guna menciptakan masyarakat yang lebih berdaya dan mandiri. Untuk itu Warman mengajak kepada seluruh masyarakat untuk bersama-sama mensukseskan program ini dengan menyalurkan dana Zakat, Infaq dan Sedekahnya melalui LAZDAI. Rekening Donasi:BNI Syariah 028 5076 892 an Yayasan Amal InsaniKonfirmasi ke 0812 7946 227 (Esa) Layanan Jemput Zakat, Infaq dan Sedekah.0821 7601 9865 (Nurul) Info Program : 0815 4090 3717 (Joni Warman) www.lazdai.org fb. lazdai lampungIG.lazdaizakat

Ustaz Somad Ajak Umat Ubah Cara Pandang Hidup Miskin

(Foto : KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG) Ustaz Abdul Somad mendapat kesempatan untuk menyampaikan tausiyah di Masjid Andalusia Sentul, Bogor, Jumat (2/11). Pada tabligh akbar kali ini, ceramah mengangkat tema “Menuju Indonesia Baru Dengan Kekuatan Ekonomi Ummat.” Dalam tausiyahnya, Ustaz Somad mengatakan, Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT untuk meluruskan pemahaman. Karena pemahaman yang benar akan menghasilkan perbuatan yang benar. UAS, sapaan akrabnya, pun mengajak umat Islam untuk mengubah cara pandang tentang ‘miskin’. Ia  menjelaskan, kata ‘miskin’ dalam bahasa Arab diambil dari kata ‘sakana’ atau sakinah, yang artinya tenang atau diam. Umumnya, masyarakat berpikir lebih baik hidup miskin. Padahal, menurutnya, Islam mengajarkan umat untuk banyak bersedekah. Dengan demikian, orang yang banyak bersedekah itulah orang yang mampu dan mempunyai harta. “Kita harus mengubah mindset tentang miskin. Karena Nabi Muhammad SAW juga orang yang kaya. Nabi memberikan mahar dengan 20 ekor unta saat menikahi Siti Khadijah, itu setara dengan lebih dari Rp 1 Milyar,” kata Ustaz Somad saat memberikan tausiyah di hadapan jamaah di Masjid Andalusia Sentul, Jumat (2/11). Dalam sejarah, sejumlah sahabat Nabi SAW juga merupakan orang yang kaya. Salah satunya adalah Abdurrahman bin Auf. Ketika pindah dari Makkah ke Madinah, Abdurrahman bertemu dengan Sa’ad bin Rabi Al-Anshari. Sa’ad termasuk orang kaya di antara penduduk Madinah. Saat itu, Rasulullah mempersaudarakan antara orang-orang Muhajirin dan Ansor. Rasul berkata,  “Orang Muhajirin adalah saudara yang diikat dengan Ukhuwah Islamiyah. Sa’ad lantas bergegas menawarkan hartanya kepada Abdurrahman, karena ia berniat membantu saudaranya. Namun, Abdurrahman menolak dan meminta ditunjukkan di mana pasar kota Madinah.” Sa’ad kemudian menunjukkan padanya di mana letak pasar. Maka, mulailah Abdurrahman berniaga di sana. Belum lama menjalankan bisnisnya, Abdurrahman sudah mampu mengumpulkan uang yang cukup untuk mahar nikah. Ia pun mendatangi Rasulullah seraya berkata, “Saya ingin menikah, ya Rasulullah,” katanya. “Apa mahar yang akan kau berikan pada istrimu?” tanya Rasul SAW. “Emas seberat biji kurma,” jawabnya. Rasulullah bersabda, “Laksanakanlah walimah (kenduri), walau hanya dengan menyembelih seekor kambing. Semoga Allah memberkati pernikahanmu dan hartamu.” Bahkan dengan hartanya, Abdurrahman banyak membantu perjuangan umat Islam kala itu. Ia tidak lantas terobsesi dengan dunia. “Jangan jadikan dunia obsesi kami, dan jangan sampai dunia jadi harga bagi ilmu kami.” Dari kisah Abdurrahman bin Auf ini, Ustaz Somad mengatakan bahwa sahabat Nabi tersebut tidak berpikir untuk ingin meminta-minta. Bahkan, Abdurrahman justru berupaya dengan berniaga dan memperoleh kesuksesan dari usahanya. Selanjutnya, Nabi SAW menganjurkan agar pernikahan tidak dilakukan secara diam-diam dan justru sebaiknya diadakan walimah agar tidak terjadi fitnah.  “Saat meninggal, harta Abdurrahman bin Auf bahkan mencapai Rp 4 triliun,” lanjut Ustaz Somad. Nabi SAW mengajarkan umatnya, bahwa amal itu terbagi dua, yaitu amal badan dan harta. Ustaz Somad mengatakan, amal badan dilakukan dengan cara beribadah seperti shalat, puasa, dzikir, dan lainnya. Sedangkan amal yang tidak akan putus meskipun orang tersebut telah meninggal dunia adalah amal harta, seperti sedekah jariyah. “Sedangkan yang bisa sodaqoh itu siapa? adalah orang kaya,” lanjut UAS.  Dalam hal ini, Ustaz Somad mendorong untuk membangkitkan ekonomi umat. Ia mengatakan, umat Islam harus memiliki semangat untuk berwirausaha, kemudian senantiasa berdo’a dan bertawakkal kepada Allah. Selanjutnya dalam hal jual beli, Ustaz mengatakan, membeli seyogyanya dengan niat ibadah dan bukan sekedar membeli. Misalnya, membeli barang jualan dari orang-orang yang juga memiliki ikatan agama dan mendatangkan keberkahan bagi yang lainnya. “Maka bangkitkan ekonomi umat, agar politik umat tidak bisa dibeli,” ujarnya.  Selain itu, Ustaz Somad menekankan agar menghindari riba. “Hai orang-orang yang beriman, takutlah kalian pada Allah dan tinggalkanlah riba,” (QS. Al-Baqarah: 278). Ustaz Somad menceritakan bahwa dirinya pernah diundang di bank konvensional yang telah berubah menjadi bank syariah di Malaysia. Ia mengatakan dirinya heran mengapa bank syariah bisa sukses di Negeri Jiran dengan penduduk Muslim yang tidak sebesar di Indonesia. “Karena itu, umat Islam perlu mengkaji fiqih mudarabah atau ekonomi umat yang mengatur hal-hal seperti muamalah dan riba,” lanjutnya. Sumber : https://www.republika.co.id

Keteguhan dan Doa Seorang Ulama

ANTARA FOTO/Anis Efizudin/aww/16 Oleh: Muhamamd Muslih Aziz Ketika Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi berkuasa di Irak, berbagai tindakan kesewenang-wenangan dan kezaliman kerap terjadi. Di bawah pemerintahannya, kriminalisasi ulama dan persekusi para aktivis yang kritis menjadi pemandangan biasa. Adalah Imam Hasan al-Bashri (lahir 21 H/642 M) termasuk dalam bilangan sedikit ulama yang berani menentang dan mengecam keras kezaliman Hajjaj, sang pembunuh berdarah dingin. Keteguhannya dalam menyurakan kebenaran menjadi lembar sejarah tersendiri bagi begawan tabiin kelahiran Madinah ini. Suatu ketika, Hajjaj membangun istana yang megah untuk dirinya di Kota Wasit. Ketika pembangunan selesai, diundangnya orang-orang untuk melihat dan mendoakannya. Hasan al-Bashri yang diundang secara khusus untuk memberikan tausiyah dan berdoa tentu tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang baik ini. Dalam ketakjuban orang-orang yang hadir di istana yang megah dan baru, Imam Hasan al-Bashri mulai dengan tausiyahnya, Kita mengetahui apa yang dibangun oleh manusia yang pa ling kejam dan kita dapati Fir’aun yang membangun istana yang lebih besar dan lebih megah daripada bangunan ini. Namun, kemudian Allah membinasakan Fir’aun beserta apa yang dibangunnya. Andai saja Hajjaj tahu bahwa penghuni langit telah membencinya dan penduduk bumi telah memperdayakannya… Tausiyah tanpa tedeng aling-aling, lantang, dan kritis. Beliau terus mengkritik dan mengecam hingga beberapa orang mengkhawatirkan keselamatannya dan memintanya berhenti, Cukup wahai Abu Sa’id, cukup! Namun, Hasan al-Bashri yang punya panggilan Abu Sa’id ini berkata, Wahai saudaraku, Allah Jalla wa ‘Alaa telah mengambil sumpah dari ulama agar menyampaikan kebenaran kepada manusia dan tak boleh menyembunyikannya. Keesokan harinya, Hajjaj menghadiri pertemuan bersama para pejabatnya dengan memendam amarah dan berkata keras, Celakalah kalian! Seorang dari budak-budak Basrah itu memaki-maki kita dengan seenaknya dan tak seorang pun dari kalian berani mencegah dan menjawabnya. Demi Allah, akan kuminumkan darahnya kepada kalian wahai para pengecut! Hajjaj memerintahkan pengawalnya untuk menyiapkan pedang beserta algojonya dan menyuruh pihak keamanan negara untuk menangkap Hasan al- Bashri. Dibawalah putra Khairah, budak Ummu Salamah (istri Rasulullah SAW), ini di hadapan Hajjaj. Semua mata mengarah kepadanya dan hati mulai berdebar menunggu nasibnya. Begitu Hasan al-Bashri melihat algojo dan pedangnya yang terhunus, dekat tempat hukuman mati, beliau menggerakkan bibirnya membaca sesuatu, lalu berjalan mendekati Hajjaj dengan keteguhan seorang mukmin, kewibawaan seorang Muslim, dan kehormatan sang penyeru kebaikan, ad-da’i ila Allah. Melihat izah yang demikian, mental Hajjaj menjadi ciut. Terpengaruh oleh wibawa sang Imam, dia berkata ramah, Silakan duduk di sini wahai Abu Sa’id, silakan! Seluruh yang hadir terheran-heran melihat sikap amirnya yang mempersilakan Hasan al-Bashri duduk di kursinya. Sementara itu, dengan tenang dan penuh wibawa, Hasan al-Bashri duduk di tempat yang disediakan. Hajjaj menoleh kepadanya lalu menanyakan berbagai masalah agama. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab Hasan al-Bashri dengan jawabanjawaban yang menarik dan mencerminkan pengetahuannya yang luas. Merasa cukup dengan pertanyaan yang diajukan, Hajjaj berkata, Wahai Abu Sa’id, Anda benar-benar tokoh ulama yang hebat. Dia semprotkan minyak ke jenggot Hasan al-Bashri, sebagai sebuah penghormatan akhir, lalu diantarkan sampai di depan pintu. Sesampainya di luar istana, pengawal yang mengikuti Hasan al-Bashri berkata, Wahai Abu Sa’id, sesungguhnya Hajjaj memanggil Anda untuk suatu urusan yang lain. Ketika Anda masuk dan melihat algojo dengan pedangnya yang terhunus, saya lihat Anda membaca sesuatu, apa sebenarnya yang Anda lalukan ketika itu? Wahai Yang Maha Melindungi dan tempatku bersandar dalam kesulitan, jadikanlah amarahnya menjadi dingin dan menjadi keselamatan bagiku sebagaimana Engkau jadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Ibrahim, jawab sang Imam yang sangat zuhud ini. Wallahu A’lam. Sumber : https://www.republika.co.id/

Zakat City Bandar Lampung, Lazdai turut beri kontribusi dengan program sekolah komputer gratis

Bandar Lampung, Rabu (31/10) Kemenag Kota dan LAZ se Kota Bandar Lampung Luncurkan program zakat terpadu Kota Zakat (Zakat City) di Kelurahan Suka maju, Teluk Betung Timur, Bandar Lampung. Dimulai pukul 13.00 wib, acara launching program zakat terpadu Kota Zakat ini diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan laporan dari penyelenggara dan sambutan dari Kepala Kemenag Kota serta perwakilan Kemenag Provinsi. Drs. Seraden, MH. selaku Kepala Kemenag Kota Bandar Lampung menyampaikan bahwa program terpadu Kota Zakat yang diselenggarakan di Kecamatan Teluk Betung Timur ini merupakan sebuah pilot project yang akan dievaluasi setelah 6 bulan kedepan dan akan terus dikembangkan apabila ternyata hasilnya cukup memuaskan. Sebanyak 13 LAZ Se Kota Bandar Lampung  turut berkontribusi dalam program Kota Zakat yang mengangkat tema “Sinergitas Program Zakat Terpadu Melalui Pemberdayaan Ekonomi Umat dan Kecakapan Hidup (lifeskill)”. Salah satu dari belasan program yang akan dilaksanakan dalam zakat city adalah sekolah komputer gratis yang dilaksanakan oleh LAZDAI.  selain itu juga ada program pelatihan menjahit, belajar al-qur’an metode qiro’ah, produksi makanan dan masih banyak lagi. Program Zakat Terpadu Kota Zakat Bandar Lampung diresmikan langsung oleh perwakilan Kemenag Provinsi Lampung. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan harapannya agar program ini dapat dikembangkan di tempat lain dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta meningkatkan pendapatan dana Ziswaf yang mampu dikelola secara lebih produktif.

Narasi Untuk Pemuda Di 90 Tahun Sumpah Pemuda

Pemuda dan PerubahanOleh. Anisa Nur Fadila Pemuda merupakan individu yang bila dilihat secara fisik sedang mengalami perkembangan, baik secara emosional maupun cara berfikir. Sehingga pemuda menjadi tonggak perubahan pada bangsa. Namun sangat disayangkan akhir-akhir ini para pemuda telah diperbudak dengan kemajuan teknologi. Meskipun tidak semua pemuda berkarakter demikian. Melihat kondisi Indonesia saat ini peran pemuda sangat diperlukan untuk mewujudkan perubahan di masa yang akan datang. Pemuda seharusnya memiliki semangat untuk berubah dan kemampuan untuk melakukan perubahan, jika kita melihat lagi sejarah Indonesia, kita akan melihat begitu dominannya peran pemuda dalam melakukan perubahan, seperti contohnya saja sumpah pemuda yang menjadi cikal bakal persatuan negri ini. Negri yang kita cintai ini tidak akan pernah dapat bangkit dari keterpurukan, kecuali oleh pemuda yang cinta terhadap Al-Qur’an, karena Al-Qur’an merupakan pedoman hidup bagi manusia. Seseorang yang sudah menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya, maka kehidupannya akan terarah sehingga memiliki potensi untuk berubah dan membuat perubahan dalam hidupnya. Jika kita sebagai pemuda dapat memulai perubahan dari diri kita, maka kedepannya kita akan berpotensi membuat perubahan di negri yang kita cintai ini. Oleh karena itu, mulailah dari sekarang belajar mencintai Al-Qur’an dan menjadikannya pedoman hidup.

Milad ke-17, LAZDAI Wisuda Siswa RPD Angkatan 11 Sekaligus Launching Angkatan 12 dan Launching Angkatan 1 Kelas Menjahit

Bandarlampung – Tanggal 29 Oktober 2018 menjadi hari yang spesial bagi Lembaga Amil Zakat Dompet Amal Insani (LAZDAI), karena pada tahun ini LAZDAI tepat berusia 17 tahun. Bersamaan dengan Milad ke-17 ini LAZDAI menggelar Wisuda Siswa RPD LSC (Rumah Pemberdayaan Dhu’afa LAZDAI Spirit Centre) angkatan ke-11 sejumlah 21 orang dan Launching siswa angkatan baru ke-12. Selain itu pada tahun ini pula juga dibuka kelas Menjahit Gratis angkatan baru  untuk 10 orang muslimah dhu’afa. Joni Warman selaku Kepala Program RPD, dalam sambutannya mengatakan, selama 8 bulan para siswa RPD tak hanya dididik untuk memiliki keahlian terkait jurusan yang diambilnya yakni Desain Grafis, tetapi juga memiliki wawasan pengetahuan dan keagamaan yang luas, berakhlak baik dan memiliki kepedulian sosial. “alhamdulillah siswa RPD angkatan ke-11 yang di wisuda ini sudah banyak yang langsung bekerja di tempat mereka magang atau praktek kerja lapangan karena skill mereka baik serta memiliki attitude yang bagus, mitra kita langsung mengajak mereka untuk langsung bekerja. Terimakasih Lazdai ucapkan kepada semua pihak, mitra magang dan donatur semoga tercatat sebagai amal sholih ”, kata Joni Warman. Manajer Harian Lazdai Prihtiono menjelaskan, program RPD merupakan program unggulan Lazdai dalam memberdayakan masyarakat khususnya anak-anak muda. Lazdai telah mewisuda 11 angkatan dan kini telah tersebar diberbagai instansi dan ada juga yang membuka usaha ini. Tentunya ini menjadi kabar gembira mengingat sulitnya mencari pekerjaan dimasa sekarang ini. “Jumlah pengangguran di Indonesia saja saat ini sebanyak 7,1 juta jiwa. Sementara LAZDAI baru meluluskan 330 siswa shoeh berdaya mandiri. Meskipun baru sedikit, inilah bukti konkrit LAZDAI Lampung memberdayakan dana zakat, infak sedekah para donatur  dalam membantu mengentaskan kemiskinan di Indonesia berupa Sekolah Life Skill yakni Komputer dan Menjahit”, ujar Prihtiono. Salah satu donatur Lazdai Hantoni Hasan, yang juga anggota DPRD Provinsi Lampung, saat diminta memberikan tausiah mengatakan, RPD adalah salah satu bukti keberhasilan LAZDAI Lampung dalam memperluas manfaat dana zakat, infaq, dan sedekah secara komprehensif. Terbukti alumni RPD mampu berdaya dan mandiri. Alumni RPD Lazdai rata-rata diserap perusahaan yang membutuhkan tenaga kerja yang memiliki skill baik sekaligus berahlak baik. Jikapun alumni RPD tidak bekerja diinstansi atau perusahaan, biasanya mereka membuka usaha sendiri dan alhamdulillah berhasil. Hantoni pun berpesan kepada siswa RPD LAZDAI baik alumni maupun yang baru masuk diangkatan terbaru agar menjadi generasi terbaik dan mampu menjaga sikap jujur, integritas, dan etos kerja yang tinggi agar tidak mudah tergoda dan terjerumus ke dalam kehidupan yang tidak baik.

Berhala Zaman Now

OLEH: Muhammad Arifin Ilham Di hadapan para sahabatnya yang mulia, Rasulullah SAW tercinta menuturkan dauh nubuwwat, sebuah sabda yang kontennya menjangkau peristiwa yang akan datang. “Akan datang suatu zaman atas manusia, perut-perut mereka menjadi Tuhan-Tuhan mereka. Perempuan-perempuan mereka menjadi kiblat mereka. Dinar-dinar (uang) mereka menjadi agama mereka. Dan kehormatan mereka terletak pada kekayaan mereka. “ Para sahabat menyimak penuh khidmat. Lanjut Sang Nabi, “Waktu itu, tidak tersisa dari iman kecuali namanya saja. Tidak tersisa dari Islam kecuali ritual-ritualnya saja. Tidak tersisa Alquran kecuali sebatas kajiannya saja. Masjid-masjid mereka makmur, tetapi hati mereka kosong dari petunjuk (hidayah- Nya). Ulama-ulama mereka menjadi makhluk Allah yang paling buruk di permukaan bumi.” Tergurat dari wajah para sahabat, rasa sedih dan cemas.  Dipandanginya lekat-lekat wajah Rasul, disimaknya kalam-kalam bertutur manusia pilihan tersebut. Hingga sampailah Sang Murabby Agung itu menggambarkan keadaan apa yang akan terjadi nanti jika sudah sedemikian menyedihkan kondisi umatnya. “Kalau sudah terjadi zaman seperti itu, Allah akan menyiksa mereka dan menimpakan kepada mereka empat perkara (azab). Pertama, kekejaman tak berperi dari para penguasa.  Kedua, kekeringan tak terhingga yang sangat lama. Ketiga, beraneka kezaliman para pejabat kepada rakyat jelata. Dan keempat, pisau hukum para hakim tumpul, sekarat, dan berkarat.” Atas tuturan ini, para sahabat pun terheran-heran. Mereka bertanya, “Wahai Rasul Allah, apakah mereka ini para penyembah berhala?” “Ya! Bagi mereka, setiap dirham (uang) menjadi berhala (dipertuhankan/disembah),” pungkas Nabi SAW. Hadis yang cukup panjang riwayat Bukhari Muslim yang muttafaq alaih ini pun akhirnya menjadi renungan kita semua. Berhala itu bukan lagi patung- patung atau arca. Berhala zaman now itu berupa uang. Kini, kita lihat bagaimana keadaan kita. Hari-hari kita fokusnya selalu uang. Detik, menit, dan jam dihitungnya dengan standar uang. Berangkat pagi pulang malam, bahkan hingga tidak pulang, yang dicari dan dikejar adalah uang. Pemimpin dan para pejabatnya berusaha mati- matian untuk mengekalkan zona nyamannya; ternyata pengorbitnya adalah uang. Para hakim kehilangan muruah agungnya. Hukum dipermainkan atas kepentingan pemilik modal. Jika modal kuat, pisau hukum kelihatan tumpul. Sebaliknya terhadap pihak yang tidak ada modal pisau hukum sangat tajam. Ujung-ujungnya bisa ditebak semua karena uang. Ikhwah fillah, mari sadarkan diri kita semua. Uang memang bisa membeli rumah, tapi tidak bisa membeli ketenangan. Uang bisa membeli dunia, tapi tidak akan pernah bisa membeli bahagia. Bahagia dan surga hanya bisa dibeli dengan ‘sekadar uang’ yang dikuasakan oleh ketaatan yang sempurna kepada Allah dan rasul-Nya.Wallahu a’lam. Sumber : https://www.republika.co.id

LAZDAI Lampung Gulirkan program Jum’at Sedekah Makanan

Bandar Lampung (19/10) Lazdai mulai menggulirkan program Jum’at Sedekah Makanan bagi para dhuafa dan tunawisma di seputaran kota Bandar Lampung. Sebanyak 5 orang relawan lazdai berkeliling di jalanan kota bandar lampung untuk membagikan nasi bungkus kepada para tunawisma, tukang becak, dan petugas kebersihan yang sedang bekerja melaksanakan kewajibannya. Program jum’at berbagi makanan ini dilakukan pada pagi hari setelah subuh dan atau sore hari menjelang waktu maghrib. Tujuannya adalah untuk memberikan kebahagiaan kepada sesama dan saling mengingatkan kepada para donatur bahwa di luar sana masih banyak orang kurang beruntung yang membutuhkan bantuannya. Diharapkan program ini akan terus berjalan dan membawa kebaikan serta keberkahan bagi seluruh orang yang terlibat di dalamnya. Mari bantu mereka yang membutuhkan…. Transfer Donasi ke Rek BNI Syariah 028 5076 892an Yayasan Amal Insani.Konfirmasi ke 0812 794 6227Dokumentasi Kegiatan