Sambut Ramadhan 1438 H, Siswa RPD Lazdai Baksos Di Dusun Sinar Tiga, Pesawaran
Sambut Ramadhan 1439 Hijriah, siswa Rumah Pemberdayaan Dhuafa (RPD) Lazdai melakukan bakti sosial di Dusun Sinar Tiga, Way Ratai, Pesawaran, dari tanggal 7 sampai 9 Mei 2018. Sebanyak 25 siswa RPD beserta penanggungjawab program turun langsung ke masyarakat melakukan pembagian paket Ramadhan sebanyak 52 paket. Selain itu, siswa RPD juga mengajar anak-anak dusun setempat belajar mengaji di Taman Pendidikan Alquran (TPA) setempat. Berikut beberapa foto dokumentasinya :
Zakat dan Perubahan Perilaku Muzaki
Oleh: Nana Sudiana *) “Kenali dirimu, kenali musuhmu, dan kenali medan tempurmu. Dan kau akan memenangi seribu pertempuran” (Sun Tzu) Dunia zakat bukan berada di ruang hampa. Selalu ada perubahan walau kadang tak terlihat nyata. Perubahan ini termasuk dalam hal perilaku sejumlah pihak yang berada di lingkup dunia zakat. Kali ini, kita ingin melihat sejauhmana perilaku muzaki dalam berdonasi maupun ketika memilih Organisasi Pengelola Zakat (OPZ) yang ada. Ini penting untuk diketahui oleh OPZ agar ia mampu mengimbangi trend ini sehingga bisa terus menjadi bagian dari dinamika yang terjadi, termasuk dalam hal meningkatkan penghimpunan zakatnya serta menjaga hubungan baik dengan para muzakinya. Di kurun waktu yang disebut era globalisasi seperti saat ini, ternyata teknologi informasi telah demikian tumbuh pesat bahkan menjadi suatu kebutuhan untuk dikonsumsi masyarakat. Kondisi ini tiada lain berkenaan dengan pentingnya sebuah informasi demi mempermudah segala macam kebutuhan hidup. Dalam sebuah hasil survey yang dilakukan oleh salah satu lembaga riset dunia yang bergerak dibidang teknologi informasi yaitu ”We Are Social”, pada 26 Januari 2017 merilis bahwa, Indonesia merupakan negara dengan pertumbuhan jumlah pengguna internet terbesar di dunia. Hal ini mengalami kenaikan hingga 51 persen, atau sejumlah 132,7 juta pengguna internet di Indonesia. Kenaikan trend menggunakan internet ini semakin hari semakin meningkat. Dan ini akan berimplikasi juga pada perilaku kehidupan saat berbelanja. Banyak orang kini mulai terbiasa dengan berbelanja secara online. Maraknya perilaku berbelanja dan bertransaksi secara onlineternyata berpengaruh pula pada muzaki. Banyak dari mereka mulai terbiasa dengan beragam kemudahan dalam melakukan transaksi keuangan maupun ketika berbelanja. Mereka juga mulai selektif untuk memilih model sistem pembayaran online, benefit yang didapatkan secara langsung maupun tidak langsung serta saat yang sama, mereka juga terus mengikuti segala inovasi lainnya yang diberikan lembaga pengelola keuangan. Hal yang diharapkan ini pada ujungnya bermuara pada kemudahan pengguna dalam melakukan berbagai macam pembayaran digital. Dari perilaku itulah, kemudian muncul tuntutan yang sama dari para muzaki, agar kebiasaan-kebiasaan mereka dengan kemudahan transaksi ini bisa juga diakomodir oleh OPZ. Mereka berharap zakat, infaq, sedekah dan bahkan pembelian hewan kurban oleh OPZ mekanisme dan sistemnya setara dengan kemudahan transaksi dan layanan di dunia perbankan. Pada awalnya trend masyarakat dan muzaki dalam penggunaan sistem digital ini lebih banyak untuk mencari informasi. Namun lambat laun berkembang ke arah transaksi keuangan. Masyarakat kini yang semakin di isi generasi milenial semakin cenderung ingin segala sesuatunya serba instan dan cepat. Misalnya, ketika masyarakat mendapat informasi tentang zakat, mereka lantas coba dengan cepat mencari OPZ-nya serta produk dan aktivitas programnya. Bukan itu saja, begitu mereka melihat proram yang ditawarkan, kadang mereka juga tak sabar ingin langsung membantu dengan cara langsung berdonasi. OPZ menjawab tantangan Dengan semakin kuatnya kebiasaan masyarakat menggunakan transaksi digital, mau tidak mau OPZ-OPZ juga berbenah. Mereka dengan cepat menangkap trend masyarakat yang juga sebagian adalah muzaki mereka untuk juga bisa barzakat digital. Sejumlah OPZ mulai mendesain dan membuat platform kemudahan zakat digital. Intinya OPZ ingin menjadi pihak yang juga bisa diterima dan dipercaya sebagai penyedia jasa untuk memudahkan masyarakat dalam berzakat, infak dan sedekah. Trend ini memang berharga mahal bagi OPZ. Mahal dari sisi finansial serta mahal dari sisi pembelajaran dan teknologinya. Ini semua kan sebenarnya masih lebih banyak untuk antisipasi di masa yang akan datang, namun saat ini juga platform ini harus tersedia dengan cepat serta langsung harus bisa teruji dalam implementasinya. Walau pada awalnya berat, namun bagi sejumlah OPZ, hal ini harus dilakukan untuk menangkap peluang terjadinya pergeseran perilaku dan dinamika masyarakat dalam melakukan proses transaksi. Mereka yang pada awalnya terbiasa dengan mekanisme konvensional kini secara perlahan namun pasti mulai beralih kepada mekanisme transaksi digital. Tuntutan pada OPZ semakin tidak mudah manakala muncul ekspektasi bahwa kemudahan ini tak boleh hanya berhenti dari sisi pengumpulan atau penghimpunan zakat semata. Tuntutan ini ingin lebih luas dari sekedar hal tadi, yakni adanya kemudahan dalam memilih program yang akan dibantu, orang atau mustahiknya yang akan dibantu serta lokasi atau wilayah sasaran yang ingin dibantu. Tuntutan dari trend kehidupan muzaki ini tak diingkari oleh sejumlah OPZ. Kebutuhan akan kemudahan transaksi justru pada akhirnya menantang OPZ untuk lebih termotivasi menciptakan inovasi baru dalam dunia zakat di Indonesia. Semua tiada lain didedikasikan demi peningkatan layanan zakat dan agar umat terus mendapatkan kemudahan dalam menunaikan ibadah zakat sebagai bagian rukun Islam yang lima. Inovasi ini pada akhirnya dijawab oleh sejumlah OPZ dengan mewujudkan berbagai inovasi platform yang memudahkan. Rumah Zakat misalnya, mereka meluncurkan ‘sharing happiness’, yaitu sebuah tagline dari gerakan memudahkan muzaki. Muzaki mereka diarahkan untuk bisa mengakses situs www.sharinghappiness.org. Dari sana muzaki bisa melihat dan memilih langsung profil orang-orang yang akan dibantu. Setelah mereka berdonasi, mereka akan mendapatkan laporan langsung melalui SMS. Dompet Dhuafa (DD) juga ternyata sama, ia menyadari trend ini dan kemudian berusaha melakukan inovasi juga. Karena itu DD membuat platform khusus agar masyarakat bisa membayar zakat secara online, melalui www.bawaberkah.org. DD sendiri meluncurkan ini didasari pembacaan akan trend yang ada, bahwa kini semakin banyak orang dan muzaki mereka yang ingin lebih terlibat dalam pengelolaan zakat. DD menyadari, bahwa semakin banyak pihak yang ikut andil dalam pengelolaan dana zakat dan sosial maka akan semakin memudahkan DD nantinya dalam menyalurkannya demi kepentingan dhuafa. Inisiatif Zakat Indonesia (IZI) sebagai OPZ yang lahir di zaman milineals tak ketinggalan untuk unjuk gigi dalam pensikapan trend serba digital ini. IZI akhirnya meluncurkan Zakatpedia.com. Zakatpedia ini dipersembahkan IZI untuk tetap memenuhi minat publik yang sudah terbiasa menyentuh teknologi informasi melalui smartphone agar dapat mempermudah muzaki untuk berdonasi zakat, infak dan sedekah. Bagi IZI yang memiliki tagline “memudahkan, dimudahkan” peluncuran www.zakatpedia.com bukan sekedar memenuhi trend. IZI justru ingin memastikan bahwa slogan atau tagline yang ia usung bukan sekedar jargon atau rangkaian kata. IZI benar-benar ingin berkhidmat di dunia zakat dengan tujuan mempermudah muzaki yang mau berzakat, maupun berdonasi kepada IZI. IZI berharap agar platform yang dibuat ini sekaligus menjawab minat publik yang mungkin belum sempat mendatangi gerai-gerai untuk menunaikan zakat, solusinya bisa langsung tunaikan melalui aplikazi zakatpedia IZI. Salah satu perbedaan atau keunggulan program zakatpedia juga diantaranya dapat mempermudah bertransaksi berbasis Internet, transparan dan Accountable, Instan untuk berzakat, berinfak maupun bersedekah. Platform ini juga dapat mengetahui update jumlah penghimpunan program, serta transaksinya didukung dengan menggunakan 14 rekening Bank ternama. Semua kembali kepada
Zakat dan Makhluk tak Berkepala
Oleh: Fuji Pratiwi, Jurnalis Republika untuk Isu-Isu Ekonomi Syariah Apa yang terbayang bila mendengar ada makhluk tanpa kepala? Setan? Demit? Apapun itu, makhluk tanpa kepala pastilah terdengar seram. Atau setidaknya buat saya yang dalam beberapa praktikum struktur otak hewan harus memisahkan kepala hewan dari badannya. Makhluk tanpa kepala tampak mengenaskan. Itu pula yang saya pikir terjadi pada zakat Indonesia. Bila potensi zakat yang diukur pada 2010 sebesar 1,7 persen hingga 3,4 persen dari PDB bangsa ini, nilai potensinya mencapai Rp 107 triliun hingga Rp 217 triliun per tahun. Bila itu acuannya 3,4 persen PDB, maka zakat terkumpul sebesar Rp 4,4 triliun di akhir 2016 baru sekitar satu persen saja dari potensinya. Menurut BPS, pada September 2016 warga miskin Indonesia sekitar 27,76 juta orang atau sekitar 10,70 persen dari total populasi. Bila zakat yang terhimpun dibagi habis, tiap warga miskin akan mendapat Rp 158.501 ribu per tahun. Angka itu mungkin sekadar buat dua tiga kali ngopi warga kelas menengah perkotaan zaman sekarang. Gelora zakat yang dikelola lebih akuntabel dan terprogram kemudian mengemuka di era 1990-an. Meskipun zakat oleh publik sendiri sudah dimulai sejak awal abad 20 oleh Muhammadiyah. Sejak itu, umat berhitung harta sebab bisa jadi penghasilannya sebenarnya sudah wajib zakat. Semangat berzakat, infak, sedekah, dan berwakaf itu terus meningkat. Edukasi dan sosalisasi membangun kesadaran zakat lewat rupa-rupa sisi juga berjalan dari sanak keluarga, kerabat, hingga kolega. Harusnya, berzakat tidaklah berat buat kita, umat Islam. Buat saya, ini seperti makan semangka atau jeruk, kita hanya makan yang bisa dimakan. Kulit dan biji biarkan terurai dan tumbuh kembali di alam. Kesadaran yang tergugah membuat angka pengumpulan zakat terus meningkat tiap tahunnya. Sayang, angka kemiskinan Indonesia masih di kisaran dua digit yang kemudian dinilai wajar oleh sebagian pihak. Semoga ini bukan yang dimaksud dalam frasa orang miskin dipelihara negara, sehingga jumlahnya stabil terjaga. Zakat naik, mengapa kemiskinan masih sulit ditumpas atau setidaknya dipangkas ke kisaran angka tunggal? Karena buat urusan kemiskinan, bangsa ini masih seperti makhluk tanpa kepala. Urusan mengentaskan kemiskinan masih seperti ekor cicak yang bergerak-gerak setelah berpisah dari badannya. Tak akan sampai tujuan bila cuma ada ekor, sementara kepala dan badan entah bergerak ke mana. Meski cuma ‘bagian belakang’, ekor tetap berfaedah bila masih tersambung dengan badan dan kepala. Apalagi, kalau kepala, badan, dan ekor bergerak ke tujuan yang sama. Terlepas dari itu semua, kita tentu amat mengapresiasi apa yang sudah lakukan lembaga pengelola zakat sampai hari ini dan sejauh ini. Zakat digunakan untuk mencukupi pendidikan, kesehatan, dan memberdayakan ekonomi kawula jelata. Dalam bukunya, “Mengelola Zakat Indonesia”, Yusuf Wibisono menulis, zakat hanya akan jadi kisah sukses parsial jika riba tidak dihentikan. Kemiskinan akan selalu ada dan zakat hanya akan jadi obat menghilang nyeri sementara bila sebab utamanya masih dilestarikan. Mengentaskan kemiskinan adalah bagian integral ekonomi syariah, bila migrasi ke sana memang benar mau dilakukan. Semua perpindahan selalu punya konsenkuensi baik yang enak maupun yang enek. Setelah zakat, kita bisa mulai dengan perlahan migrasi kekayaan menggunakan jasa keuangan syariah, dari tabungan misalnya. Terlepas dari kontroversi yang ada soal bank syariah, menarik mencemati perkataan Pak Adiwarman Karim: mau pilih mana, yang sudah 60 persen halal atau yang 100 persen haram? Hijrah dari sistem keuangan 100 nonhalal ke yang sudah relatif halal–meskipun kadar halal tentu harus 100 persen–tampaknya jadi opsi yang agak mendingan untuk saat ini. Dalam Islam ada kaidah, bila kita belum mampu melakukan semua kebaikan, jangan kita meninggalkan semua kebaikan itu. Tentu, kita semua ingin Indonesia punya ekonomi yang benar-benar berkualitas, yang merata dan adil. Perlu ikhtiar sama-sama untuk sampai ke sana. Perlu menanggung bahagia dan susah sama-sama. Bila tatanan yang besar belum bisa diubah, langkah-langkah kecil bersama dan tertata mungkin perlu berawal dari kita. Sumber : http://republika.co.id
Membersihkan Usus Secara Alami
Masalah pencernaan adalah kondisi yang sepertinya sudah umum dialami oleh orang-orang. Kita tahu, kondisi seperti maag kronis, asam lambung, dan penyakit infeksi seperti tipes sudah tak asing lagi kita dengar dari teman atau orang terdekat kita. Tak mengherankan, karena usus adalah bagian yang tak terlepas dari paparan racun setiap hari, plus kurangnya asupan nutrisi dan serat yang umumnya kurang pada makanan modern. Inilah alasan yang paling mungkin, kenapa banyak orang memiliki masalah pada sistem pencernaan mereka. Tapi jangan khawatir karena beberapa jenis makanan secara alami bermanfaat menjaga sistem pencernaan termasuk membantu membersihkan dari hal yang bisa menyebabkan sakit. Membersihkan usus Anda adalah cara yang bagus untuk meningkatkan kesehatan tubuh secara keseluruhan, serta mengurangi risiko penyakit terutama kanker usus besar. Jika Anda membersihkan usus Anda dari racun dan sisa makanan, maka Anda akan merasa lebih ringan, berenergi, dan penuh memiliki kesehatan yang lebih baik. Mengapa kita harus peduli untuk selalu menjaga kebersihan usus besar? Ada beberapa manfaat yang baik, sbb : Memperbaiki pencernaan Menurunkan risiko kanker usus besar Bagus untuk membantu penurunan berat badan Menjaga pH tubuh Meningkatkan konsentrasi Meningkatkan energi Meningkatkan kesuburan Lalu apa saja makanan alami yang berkhasiat membersihkan usus besar dan mencegah penyakit pencernaan, berikut di antaranya : BROKOLI Supaya memiliki tubuh yang indah dan tubuh yang super sehat, kita perlu menjaga kesehatan sistem pencernaan dengan mempercepat pergerakan makanan. Salah satu cara yang terbaik adalah untuk makan lebih banyak serat. Brokoli, dan bunga kol adalah sayuran sumber yang kaya serat. Sayuran ini juga memiliki kemampuan besar untuk mendetoksifikasi usus besar setiap kali Anda memakannya. Lebih dari 500 studi menunjukkan bahwa sayuran adalah makanan pencegah kanker yang paling kuat. Hal ini karena tingkat kandungan antioksidannya yang sangat tinggi. JERUK LEMON DAN AIR HANGAT Lemon bermanfaat merangsang hati untuk memproduksi empedu, yang secara keseluruhan membantu fungsi sistem pencernaan menjadi lebih baik. Produksi empedu yang baik akan membuat perut juga bekerja lebih baik, termasuk pergerakan dan membersihkan. Minum segelas air hangat dan air lemon setiap pagi akan mendetoksifikasi tubuh sekaligus membantu usus membersihkan diri. BAWANG PUTIH Bawang putih tidak hanya membatu sirkulasi darah oleh jantung, tetapi juga bersifat bisa menghilangkan racun oleh bakteri dan parasit dari usus besar. Bawang putih juga mengandung antioksidan kuat yang bermanfaat mengurangi peradangan. Dengan demikian akan meningkatkan penyerapan nutrisi makanan, meningkatkan pencernaan, dan menghilangkan zat/bahan sisa dan racun dari dalam usus. AIR MINUM Usus yang dehidrasi secara terus-menerus dapat menyebabkan sembelit, kondisi yang akan menyebabkan penumpukan racun dalam usus besar. Inilah sebabnya mengapa pentingnya memastikan bahwa diri Anda sudah mendapatkan minum yang cukup setiap hari. ALPUKAT Alpukat Kaya akan jenis serat larut dan tidak larut, yaitu senyawa yang akan merangsang pergerakan usus yang sehat dan membersihkan usus besar. Serat secara umum mengurangi risiko terkena kanker usus besar. Serat larut bersifat menyerap air dan mengikat zat lain yang ada dalam usus besar untuk dikeluarkan secara bersama-sama SAYURAN BERDAUN HIJAU TUA Sayuran berdaun hijau tua, seperti kangkung dan bayam bersifat melindungi pencernaan dan melindungi usus besar. Klorofil yang larut dalam lemak akan menempel pada lapisan dinding usus besar, menangkap bakteri, dan menghilangkannya dari usus besar, serta menjaga lapisan lendir dalam dinding saluran pencernaan. Sayuran hijau lainnya adalah seledri dan kacang polong. Sayuran hijau tinggi klorofil, yang akan membersihkan usus besar sekaligus membantu mendetoksifikasi hati Anda. MAKANAN FERMENTASI Sistem pencernaan terdapat bakteri jenis menguntungkan yang bertugas membantu pencernaan makanan, keseimbangan, penyerapan nutrisi, dan pembuangan zat sisa dan racun. Pada saat keseimbangan bakteri dari sistem pencernaan terganggu, maka kesehatan seluruh tubuh keseluruhan juga bisa terganggu . Lebih dari 80 persen sistem kekebalan tubuh berada pada usus Anda, jadi ketika flora usus tidak seimbang, maka sistem kekebalan tubuh Anda tidak akan bekerja dengan baik. Makan banyak makanan fermentasi seperti yoghurt, acar, tempe, dan kimchi akan membantu keseimbangan bakteri usus besar. Semuanya adalah makanan probiotik yang akan membantu menjaga sistem pencernaan seimbang dan sehat. LIDAH BUAYA Lidah buaya baik untuk tubuh, untuk luar dan dalam – sehingga bisa menjadi suplemen alami yang meredakan peradangan dalam tubuh, dan membantu mencegah masalah pencernaan. Aloe vera juga merupakan cara yang bagus untuk meringankan sembelit dan melegakan sistem pencernaan. KACANG -KACANGAN Kacang-kacangan memiliki kemampuan membersihkan usus besar, serta kaya nutrisi dan antioksidan. Kacang-kacangan dan bijian adalah makanan kaya akan zat besi, seng, kalium, kalsium, vitamin B, dan protein. Kacang adalah protein nabati yang bersih bebas steroid, hormon pertumbuhan, atau antibiotik. APEL Apel adalah buah super yang paling terkenal kuat dalam hal kesehatan tubuh. Apel kaya serat, sehingga mempromosikan pencernaan yang sehat. Pektin dalam kulit apel adalah jenis karbohidrat yang menebalkan dinding usus. Pada dosis terapi, pektin menghilangkan racun yang mengumpul dalam usus besar(termasuk logam berat) sekaligus memperkuat lapisan usus. Buah lain yang kaya Pektin adalah pisang dan buah jeruk. TEH HIJAU Teh hijau tak hanya bisa menurunkan berat badan, detoksifikasi, juga berkemampuan membersihkan usus besar . Teh hijau kaya akan antioksidan, yang meningkatkan fungsi usus dan pembersihan usus besar . Minum tiga cangkir teh hijau setiap hari juga akan meningkatkan metabolisme, menjaga tubuh fit, dan membakar lemak. Sumber artikel : https://www.muslimahzone.id
Sedekah untuk Orang Tua yang Telah Wafat
Islam merupakan agama yang sangat menjunjung tinggi penghormatan dan pemuliaan kepada kedua orang tua, sebagaimana dijelaskan Allah SWT dalam firman-Nya. “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu dan bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara kesiangan atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Al-Isra: 23). Dalam Islam, penghormatan dan pemuliaan kepada kedua orang tua tidak dilakukan pada saat mereka masih hidup saja, tetapi juga ketika mereka sudah meninggal. Salah satu bentuk penghormatan kepada orang tua yang telah meninggal adalah bersedekah atas nama mereka. Menurut hadis yang diriwayatkan Buraidah RA ketika sedang bersama Rasulullah SAW, Buraidah berkata, “Saat itu aku sedang bersama dengan Rasulullah lalu datang seorang perempuan. Dia berkata, ‘Aku bersedekah kepada seorang budak perempuan atas nama ibuku yang telah wafat.’ Lantas, Rasulullah menjawab, ‘Kamu pasti mendapat pahala dan warisnya diberikan kepadamu.’ “Perempuan itu bertanya, ‘Ya Rasulullah, ibuku memiliki kewajiban untuk mengqada puasa selama sebulan, bolehkah aku berpuasa atas namanya?’ Lalu, Rasul menjawab, ‘Berpuasalah atas namanya.’ Lalu, perempuan itu bertanya lagi, ‘Ibuku juga belum menunaikan ibadah haji, bolehkan aku berhaji atas namanya?’ Lalu, Rasul menjawab lagi, ‘Berhajilah atas namanya.’” (HR Bukhari-Muslim). Sumber : http://khazanah.republika.co.id
Sejarah Zakat
Seluruh umat Islam yang sudah dewasa pasti mengenal zakat, yakni suatu ibadah yang diwajibkan oleh Allah SWT atas setiap Muslim yang mampu. Tujuannya untuk pengentasan kemiskinan, bentuk kepedulian sosial, dan sebagai wujud bakti kepada Allah atas harta yang dimiliki agar harta tersebut menjadi bersih dan suci (zakiyyun).Dan, pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” (Adz-Dzariyat [51]: 19). Karena itu, banyak sekali ayat Alquran yang memerintahkan umat Islam untuk senantiasa menolong fakir miskin dengan memberikan atau menafkahkan sebagian yang dimiliki. “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya, doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (At-Taubah [9]: 103). Perintah berzakat ini juga terdapat dalam Surah Al-Baqarah [2]: 3, 110, 177; Ali Imran [3]: 180; An-Nisa’ [4]: 37; Al-Maidah [5]: 12, 55; Al-An’am [6]: 141; At-Taubah [9]: 5, 11, 18, 34, 71, dan 103; Maryam [19]: 13; Al-Hajj [22]: 78; An-Nur [24]: 21; Al-Ahzab [33]: 33; Al-Fushilat [41]: 7; Al-Mujadalah [58]: 13; Al-Ma’arij [70]: 24 dan 25, serta masih banyak lagi ayat lainnya. Makna zakat Secara bahasa, kata zakat berarti suci, berkembang, dan berkah. Dalam surah Maryam [19] ayat 13, digunakan kata zakat dengan arti suci. Kemudian, dalam surah An-Nur [24] ayat 21 menggunakan kata zaka yang berarti bersih (suci) dari keburukan dan kemungkaran. Surah At-Taubah ayat 103 menggunakan kata tazakki dengan arti menyucikan dan dapat berarti menyuburkan dan mengembangkan karena mendapat berkah dari Allah. Menurut istilah fikih, zakat berarti harta yang wajib dikeluarkan dari kepemilikan orang-orang kaya untuk disampaikan kepada orang yang berhak menerimanya dengan aturan-aturan yang telah ditentukan dalam syariat. Dalam Islam, zakat baru disyariatkan pada tahun kedua Hijriyah. Meskipun dalam Alquran, khususnya ayat-ayat yang diturunkan di Makkah (Makkiyah), zakat sudah banyak disinggung. Namun, secara resmi baru disyariatkan setelah Nabi Muhammad SAW hijrah dari Makkah ke Madinah.
Jangan Pisahkan Zakat dan Sedekah dari Ekonomi Syariah
Foto: Republika/Tahta Aidilla Perbankan dan keuangan syariah saja belum cukup memenuhi kewajiban Muslim dalam menggelorakan ekonomi syariah. Zakat dan sedekah juga jadi elemen tak terpisahkan dari ekonomi syariah yang berfungsi untuk memberantas kemiskinan dan menolong dhuafa. Pakar ekonomi syariah dari Malaysia, Abdul Halim bin Ismail, menyarankan adanya ‘Sadaqah House‘ untuk membantu warga miskin dan yang membutuhkan. Selama ini, pemerintah dan sektor privat sudah difasilitasi dengan perbankan dan keuangan syariah. Tapi belum ada fasilitasi untuk sektor kesejahteraan warga miskin. Padahal umat Islam adalah sebuah kesatuan dan semua lapisan harus difasilitasi dengan sistem yang inklusif. Ia mengusulkan Sadaqah House berupa bank atau lebih baik grup bank, yang dilisensi dan disupervisi oleh bank sentral setiap negara. Sadaqah House bertugas mengumpulkan dana dari sektor privat untuk dikelola bagi warga miskin dan membutuhkan. Kepada The National, Desember lalu, penerima Royal Award for Islamic Finance 2014 ini mengatakan dana dikumpulkan oleh individu-individu Muslim dalam dua bentuk, zakat dan sedekah. Zakat merupakan kewajiban dengan ukuran perhitungan yang sudah ditentukan. ”Di beberapa negara, zakat didorong juga oleh aturan negara. Di Malaysia, zakat dikumpulkan Departemen Agama dan sebaiknya memang seperti itu,” kata Abdul Halim. Sementara sedekah merupakan donasi sukarela. Secara global, nilai kedua donasi ini bisa mencapai triliunan dolar. Inilah yang menjadi fokus Abdul Halim sebab selama ini banyak sedekah yang tidak terorganisir. Bank pengumpul sedekah atau Sadaqah House inilah yang akan menginvestasikan dana sedekah untuk jangka panjang. Keuntungan tahunan yang diperoleh yang nantinya didistribusikan sementara modal inti terus diputar untuk usaha. Sumber : http://republika.co.id
Sedekah, Do It & Forget It
Di zaman yang sulit ini, sedekah menjadi sebuah kata yang cukup langka. Jangankan untuk bersedekah, untuk keperluan sehari-haripun, Mas Tugiman sering mengeluh dikarenakan bahan pokok yang harganya semakin hari semakin menanjak terus. “Saya mah orang yang nggak punya Den, boro-boro sedekah,” begitu ujarnya. Bila kita pahami sedekah berasal dari kata shadaqah sama dengan akar kata sidiq, yang artinya membenarkan. Apa yang sebenarnya yang dibenarkan, yaitu hukum Allah SWT. “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa serta membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. (QS. Al Lail, 92 : 5-7) Sedekah dalam ayat ini adalah membenarkan balasan yang terbaik, karena itu sedekah adalah semangat untuk memberi dan berbagi. Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW menyebutkan bahwa senyum adalah sebuah bentuk sedekah. Jika senyum saja sebagai tindakan yang paling mudah untuk membuat orang lain senang sudah termasuk sedekah, apalagi tindakan yang lain. Rasullullah SAW menegaskan, “Setiap kebajikan adalah sedekah” (HR Bukhari). Secara luas kita dapat saja bersedekah lewat ucapan yang baik, budi pekerti, ilmu, tenaga, dan lain sebagainya termasuk harta. Dan jangan takut harta kita akan habis bila bersedekah, karena Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Jika dunia mendatangimu, sedekahkanlah karena yang kau sedekahkan itu tidak akan habis”, ini sesuai sabda Rasullullah, “sedekah itu tidak akan mengurangi harta” (HR Muslim). Karena itu segera lakukan dan lupakan, DO IT & FORGET IT ! Mengapa karena jika kita tidak segera melupakannya sedekah kita biasanya akan terganggu. Niat ikhlas bisa saja menjadi riya (ingin dilihat) atau sum’ah (ingin dibicarakan). Maka dari itu Alquran menegaskan, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. (QS Al Baqoroh, 2 ; 264). Kemudian seorang lelaki bertanya kepada Rasullullah, “Ya Rasullullah, sedekah apakah yang paling utama?” Beliau bersabda, ‘bahwa engkau bersedekah ketika engkau masih sehat dan segar bugar, ketika masih memiliki kekayaan dan sangat khawatir terhadap kemiskinan, dan jangan ditunggu-tunggu hingga nafasmu sampai ke tenggorokan. Ketika itu engkau akan berkata, “Untuk si fulan sekian… untuk si fulans sekian, padahal harta tersebut sudah menjadi hak si fulan (ahliwaris).” (HR Bukhari, dari Abu Hurairah RA). Oleh karena itu sebelumnafas sampai kerongkongan, ketika hayat masih di kandung badan, Mari segera lakukan dan lupakan, do it & forget it !, Insya Allah. Tidaklah lebih baik dari yang berbicara ataupun yang mendengarkan, karena yang lebih baik disisi ALLAH adalah yang mengamalkannya. Ustaz Erick Yusuf: Pemrakarsa Training iHAQi (Integrated Human Quotient) Sumber artikel : http://khazanah.republika.co.id
Rela Berbagi
Kesadaran untuk berbagi begitu ditekankan Rasulullah SAW. Jika objek yang dituju jelas dan amat butuh, maka jangan ragu untuk mengeluarkan harta terbaik yang kita miliki. “Siapa saja yang memiliki makanan untuk dua orang,” sabda Nabi SAW suatu kali, “bawalah orang ketiga dan siapa saja yang memiliki makanan untuk empat orang bawalah orang kelima dan seterusnya.” (HR Bukhari). Ikatan sosial dalam bingkai amal menjadi sebuah pondasi yang amat kuat dalam masyarakat Islam. Yang punya dan mampu tidak harus dipaksa dengan berbagai aturan-aturan. Mereka memiliki kesadaran agar rela berbagi. Kesadaran ini berkelindan dengan seberapa tinggi keyakinannya kepada Allah SWT. Balasan-balasan orang yang berinfak adalah balasan-balasan ukhrawi. Sementara orang yang menerima, mereka tetap bisa beraktivitas dengan bantuan dari saudaranya. Mereka fokus mendalami Alquran dan berjihad di jalan Allah jika panggilan itu datang. Bantuan tak membuat mereka malas diri dan tergantung. Mereka tak memanfaatkan kemurahan hati saudaranya untuk berleha-leha. Ahlu Suffah adalah murid-murid yang senantiasa hadir dalam setiap majelis-majelis ilmu Rasulullah. Mereka semakin rajin meraih keutamaan dan amal nyata. Berharap balasan yang agung membuat setiap insan tergerak untuk mengalokasikan pengeluaran untuk amal-amal di jalan Allah. Pengeluaran yang sunah dan wajib dalam bentuk zakat ditunaikan demi mengharap ganjaran yang setimpal. Di sisi lain, kesadaran orang untuk berbagi “dimanfaatkan” beberapa pihak dengan menyengaja menjadi kaum papa. Mereka mengulurkan tangan dengan aktif, sesekali memaksa. Mereka menahbiskan diri sebagai orang yang paling pantas untuk dibantu. Pekerjaan mereka bukan berjihad atau fokus beribadah sehingga tak sempat berkarya. Namun, mereka fokus meminta sehingga tak sempat beribadah. Jika yang terjadi seperti itu, pemberian hanya tinggal pemberian. Tak ada penguatan ikatan. Yang satu hanya sebatas memberi, sementara yang menerima hanya berharap menerima. Berinfak seharusnya memberikan efek kuatnya ikatan. Ada hubungan erat antara sang pemberi dan yang menerima. Infak harus menguatkan bangunan peradaban. Infak menjadi pengokoh dasar terbentuknya masyarakat Islam dalam bentuknya yang paling sederhana, ukhuwah. Sumber : http://khazanah.republika.co.id
