Istimewanya Sedekah di Bulan Sya’ban

Bulan Sya’ban adalah bulan yang istimewa bagi umat Islam. Di dalam bulan ini, terdapat banyak amalan dan ibadah yang dianjurkan, salah satunya adalah sedekah. Sedekah di bulan Sa’ban memiliki nilai yang sangat besar karena bulan ini dianggap sebagai persiapan menuju bulan Ramadan yang akan datang. Sedekah merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Sedekah bisa diartikan sebagai pemberian harta atau bantuan kepada orang lain yang membutuhkan, tanpa mengharapkan imbalan dari mereka. Sedekah merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT serta sebagai bentuk kepedulian kepada sesama. Dalam bulan Sa’ban, ada banyak amalan sedekah yang bisa dilakukan. Beberapa di antaranya adalah memberikan sumbangan ke masjid, memberikan bantuan ke panti asuhan, memberikan santunan kepada anak yatim, serta memberikan makanan atau minuman kepada orang yang membutuhkan. Dalam melakukan sedekah, kita juga perlu memperhatikan niat dan cara melakukan sedekah tersebut. Niat yang tulus dan ikhlas adalah kunci penting dalam melakukan sedekah. Selain itu, sedekah juga harus dilakukan dengan cara yang benar, yaitu dengan memberikan harta secara langsung dan tanpa merendahkan orang yang diberi sedekah. Dalam hadits riwayat Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Sedekah itu bisa memadamkan api kemarahan Allah SWT.” Hal ini menunjukkan betapa besar nilai sedekah dalam Islam, dan betapa pentingnya untuk kita melakukan sedekah dalam kehidupan sehari-hari. Dalam bulan Sa’ban, di mana pahala dari amalan sedekah menjadi lebih besar, mari kita berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan dan membantu sesama yang membutuhkan. Dengan melakukan sedekah dengan niat yang tulus dan ikhlas, kita bisa mendapatkan keberkahan dan kebahagiaan dari Allah SWT serta menjadi lebih baik sebagai seorang muslim. Oleh karena itu, jangan ragu untuk melakukan sedekah di bulan Sa’ban. Jadilah orang yang dermawan dan selalu membantu sesama dengan cara yang benar. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan berkah dan keberkahan atas amalan kita. Aamiin. Mari kita manfaatkan bulan Sa’ban ini sebagai momentum untuk meningkatkan amalan sedekah dan membantu sesama, sehingga kita bisa mendapatkan keberkahan dan rahmat dari Allah SWT. Yuk sedekah bersama kami: Rekening Zakat : *Bank BSI* 16.1020.1403 a.n Yys LAZDAI Lampung Rekening Infaq : *Bank BSI* 70.0704.8108 a.n Yys LAZDAI Lampung
Isimewanya Bulan Sya’ban

Bulan Syaban merupakan bulan yang sangat istimewa dalam agama Islam. Bulan ini dianggap sebagai bulan yang penuh berkah dan rahmat dari Allah SWT. Pada bulan Syaban, umat muslim dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan amalan baik untuk memperoleh pahala yang berlimpah di bulan Ramadan yang akan datang. Selain itu, ada beberapa amalan yang dianjurkan untuk dilakukan pada bulan Syaban, seperti puasa sunnah pada tanggal 13, 14, dan 15 Syaban. Puasa sunnah ini sangat dianjurkan karena memiliki banyak manfaat dan keutamaan, di antaranya dapat membersihkan jiwa dan meraih ampunan Allah SWT. Selain itu, pada bulan Syaban juga dianjurkan untuk memperbanyak doa dan dzikir kepada Allah SWT. Bulan Syaban juga merupakan waktu yang tepat untuk memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Kita dapat memperbaiki hubungan dengan keluarga, teman, atau bahkan musuh. Kita dapat meminta maaf jika pernah melakukan kesalahan atau memberikan maaf kepada orang yang telah menyakiti kita. Hal ini sangat dianjurkan dalam Islam, karena memperbaiki hubungan dengan sesama manusia juga merupakan bagian dari ibadah yang dapat mendekatkan kita kepada Allah SWT. Dalam kesimpulannya, bulan Syaban merupakan bulan yang sangat istimewa dalam agama Islam. Kita dapat memperbanyak ibadah, melakukan amalan baik, puasa sunnah, dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Semoga teman-teman LAZDAI dapat memanfaatkan bulan Syaban dengan sebaik-baiknya untuk meraih pahala dan keberkahan dari Allah SWT.
Menyambut Isra’ Mi’raj 1444H

Menyambut peringatan Isra’ Mi’raj, umat muslim di seluruh dunia mempersiapkan diri dengan melakukan amalan-amalan kebaikan. Di Indonesia, peringatan Isra’ Mi’raj biasanya dirayakan dengan berbagai macam kegiatan seperti pengajian, tausiyah, dan bakti sosial. Beberapa pesantren di Indonesia juga mengadakan acara Isra’ Mi’raj dengan mengundang tokoh agama untuk memberikan tausiyah dan pengajian mengenai peristiwa Isra’ Mi’raj. Acara ini biasanya dihadiri oleh santri-santri pesantren dan umat muslim dari sekitar lingkungan pesantren. Selain itu, beberapa masjid juga mengadakan acara Isra’ Mi’raj dengan mengadakan pengajian dan shalat malam berjamaah. Di beberapa kota besar, terdapat pawai obor yang diadakan oleh pemuda-pemuda muslim sebagai wujud syukur atas peristiwa Isra’ Mi’raj. Selain kegiatan keagamaan, pada peringatan Isra’ Mi’raj juga dilakukan kegiatan sosial seperti berbagi makanan dan sumbangan untuk orang yang membutuhkan. Dalam rangka menyambut peringatan Isra’ Mi’raj, sejumlah lembaga sosial dan ormas Islam mengadakan bakti sosial, penggalangan dana, serta pembagian makanan dan pakaian untuk masyarakat yang membutuhkan. Peringatan Isra’ Mi’raj menjadi momentum penting bagi umat muslim untuk memperkuat rasa keimanan dan meneladani sifat-sifat Nabi Muhammad saw. Melalui kegiatan keagamaan dan sosial, umat muslim diharapkan semakin memahami pentingnya nilai-nilai keagamaan dan semakin siap dalam menghadapi tantangan hidup yang semakin kompleks.
Kucing itu Hewan Istimewa loh

Kucing adalah hewan yang memiliki keistimewaan tersendiri dalam Islam. Sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, bahwa kucing adalah hewan yang sangat terhormat dan disayangi oleh Allah SWT. Ada beberapa keistimewaan kucing dalam Islam yang perlu diketahui oleh umat Muslim, antara lain: Pertama, kucing dianggap sebagai hewan yang suci. Dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW pernah menceritakan bahwa suatu ketika beliau sedang memberikan kuliah, lalu datanglah seekor kucing ke masjid dan naik ke pangkuan Rasulullah SAW. Beliau kemudian memeluk kucing tersebut dan melanjutkan kuliahnya. Dari hadits ini, dapat disimpulkan bahwa kucing dianggap sebagai hewan yang suci dan dihormati. Kedua, kucing dianggap sebagai hewan yang dapat membersihkan dirinya sendiri. Dalam Islam, bersih dan suci adalah hal yang sangat penting, karena hal ini berkaitan dengan kebersihan jiwa dan fisik. Oleh karena itu, kucing yang mampu membersihkan dirinya sendiri dianggap sebagai hewan yang bersih dan layak untuk dijadikan sebagai hewan peliharaan. Ketiga, kucing dianggap sebagai hewan yang dapat menjaga rumah dari gangguan setan. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Ketika kamu melihat kucing, maka berilah dia makan dan janganlah mengusirnya, karena kucing adalah makhluk yang diutus oleh Allah SWT untuk menjaga rumah dari gangguan setan.” Dari hadits ini, dapat disimpulkan bahwa kucing memiliki peran penting dalam menjaga keamanan dan keberkahan rumah. Dalam kesimpulannya, keistimewaan kucing dalam Islam seharusnya menjadi suatu hal yang perlu dipahami dan dihargai oleh umat Muslim. Kucing bukan hanya sebagai hewan peliharaan biasa, namun memiliki makna yang lebih dalam dalam kehidupan seorang Muslim. Maka, kita sebagai manusia harus menghargai dan menjaga kucing dengan baik, sehingga kita dapat merasakan manfaat dan keberkahan yang diberikan oleh Allah melalui hewan yang satu ini.
Belajar Berlapang Dada

Berlapang dada adalah sikap yang sangat penting dalam Islam. Lapang dada bermakna menerima kenyataan apapun yang terjadi, baik itu kesuksesan maupun kegagalan, dengan hati yang tenang. Allah SWT mencintai hamba-Nya yang lapang dada, sehingga lapang dada menjadi karakteristik penting bagi orang-orang yang mengikuti ajaran Islam. Ketika seseorang bersikap lapang dada, ia akan mampu menghadapi kesulitan dan cobaan hidup dengan lebih baik, tanpa kehilangan rasa syukur dan keyakinan pada Allah SWT. Lapang dada juga membantu seseorang untuk tidak mudah tersinggung, marah, dan terluka karena perkataan atau tindakan orang lain. Sebagai muslim, kita diajarkan untuk selalu bersikap lapang dada, mengampuni kesalahan orang lain, dan menghargai perbedaan pendapat. Dengan bersikap lapang dada, kita dapat menciptakan suasana yang harmonis dan penuh cinta kasih di antara sesama manusia, serta memperoleh pahala dari Allah SWT.
Cara Bahagia Sebagai Muslim

Sebagai seorang Muslim, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencapai kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari. Berikut adalah tiga cara berbahagia sebagai seorang Muslim: Mengembangkan hubungan yang kuat dengan Allah SWT. Salah satu cara untuk merasa bahagia sebagai seorang Muslim adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan ibadah seperti shalat, membaca Al-Quran, zikir, dan puasa. Selain itu, dengan selalu berdoa dan meminta pertolongan kepada Allah SWT, seseorang dapat merasa tenang dan yakin bahwa segala sesuatunya telah direncanakan dengan baik. Berbuat baik kepada orang lain. Sebagai seorang Muslim, penting untuk membantu orang lain dan berbuat baik kepada sesama manusia. Dalam Islam, amalan seperti sedekah, berbagi makanan, dan membantu orang yang membutuhkan, dianggap sebagai cara yang paling mulia untuk mencapai kebahagiaan. Dengan membantu orang lain, seseorang dapat merasa puas dan merasa bermanfaat bagi orang lain. Menjaga hubungan dengan keluarga dan teman-teman. Menjaga hubungan dengan keluarga dan teman-teman juga merupakan cara penting untuk mencapai kebahagiaan sebagai seorang Muslim. Dalam Islam, hubungan keluarga dan teman-teman dianggap sangat penting, dan dianjurkan untuk selalu menjaga hubungan baik dengan mereka. Dengan memiliki hubungan yang kuat dengan keluarga dan teman-teman, seseorang dapat merasa diterima dan merasa memiliki tempat yang aman di dunia ini.
Istimewa Sedekah di Bulan Rajab

Bulan Rajab adalah salah satu bulan yang sangat mulia di dalam Islam. Di bulan ini, umat Muslim dianjurkan untuk melakukan berbagai amalan kebaikan, salah satunya adalah sedekah. Menurut sejumlah hadis, sedekah yang diberikan di bulan ini memiliki keutamaan dan pahala yang besar. Sedekah di bulan Rajab dianggap sebagai ibadah yang sangat dianjurkan dan sangat mendatangkan keberkahan. Salah satu keistimewaan sedekah di bulan Rajab adalah bahwa pahalanya akan terus mengalir sepanjang masa. Sedekah yang diberikan di bulan ini dapat memberikan manfaat yang besar, baik bagi orang yang menerima maupun bagi yang memberikan sedekah. Sedekah juga dianggap sebagai sarana untuk membersihkan diri dari dosa-dosa, sehingga keberkahan dan kebahagiaan dapat mengalir dengan mudah dalam hidup kita. Di bulan Rajab, banyak lembaga sosial dan organisasi amal yang bergerak aktif dalam melakukan berbagai program sedekah. Mereka mengajak umat Muslim untuk berpartisipasi dalam amalan sedekah dengan memberikan sebagian harta mereka untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Program sedekah di bulan Rajab biasanya dilakukan dalam skala besar dan melibatkan banyak orang, sehingga pahala yang diperoleh pun semakin besar. Dengan melakukan sedekah di bulan Rajab, umat Muslim di seluruh dunia diharapkan dapat memperbaiki hubungan dengan Allah dan dengan sesama. Sedekah dianggap sebagai sarana untuk membersihkan diri dari dosa-dosa dan membuka jalan menuju keberkahan dan kebahagiaan. Oleh karena itu, di bulan ini, marilah kita semua bergabung dalam gerakan sedekah dan berbagi kebahagiaan kepada sesama. Dengan berbuat kebaikan di bulan Rajab, kita dapat membawa keberkahan dan kebahagiaan bagi diri kita sendiri dan bagi orang-orang di sekitar kita.
Bulan Rajab dan Keutamaannya

Keutamaan Bulan Rajab, ia merupakan salah satu dari bulan haram. Di mana bulan haram ini adalah bulan yang dimuliakan. Bulan ini adalah yang dilarang keras melakukan maksiat, serta diperintahkan bagi kita untuk beramal sholih. Bulan Rajab adalah Bulan Haram Bulan Rajab terletak antara bulan Jumadal Akhiroh dan bulan Sya’ban. Bulan Rajab sebagaimana bulan Muharram termasuk bulan haram. Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At Taubah: 36) Ibnu Rajab mengatakan, ”Allah Ta’ala menjelaskan bahwa sejak penciptaan langit dan bumi, penciptaan malam dan siang, keduanya akan berputar di orbitnya. Allah pun menciptakan matahari, bulan dan bintang lalu menjadikan matahari dan bulan berputar pada orbitnya. Dari situ muncullah cahaya matahari dan juga rembulan. Sejak itu, Allah menjadikan satu tahun menjadi dua belas bulan sesuai dengan munculnya hilal. Satu tahun dalam syariat Islam dihitung berdasarkan perpuataran dan munculnya bulan, bukan dihitung berdasarkan perputaran matahari sebagaimana yang dilakukan oleh Ahli Kitab.” (Latho-if Al Ma’arif, 202) Mengenai empat bulan yang dimaksud disebutkan dalam hadits dari Abu Bakroh, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ ”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679). Jadi, empat bulan suci tersebut adalah (1) Dzulqo’dah; (2) Dzulhijjah; (3) Muharram; dan (4) Rajab. Apa Maksud Bulan Haram? Al Qodhi Abu Ya’la rahimahullah berkata, ”Dinamakan bulan haram karena dua makna: Pada bulan tersebut diharamkan berbagai pembunuhan. Orang-orang Jahiliyyah pun meyakini demikian. Pada bulan tersebut larangan untuk melakukan perbuatan haram lebih ditekankan daripada bulan yang lainnya karena mulianya bulan itu. Demikian pula pada saat itu sangatlah baik untuk melakukan amalan ketaatan.” (Lihat Zaadul Masiir, tafsir surat At Taubah ayat 36). Karena pada saat itu adalah waktu sangat baik untuk melakukan amalan ketaatan, sampai-sampai para salaf sangat suka untuk melakukan puasa pada bulan haram. Sufyan Ats Tsauri mengatakan, ”Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.” Bahkan Ibnu ’Umar, Al Hasan Al Bashri dan Abu Ishaq As Sa’ibi melakukan puasa pada seluruh bulan haram, bukan hanya bulan Rajab atau salah satu dari bulan haram lainnya. Lihat Latho-if Al Ma’arif, 214. Ulama Hambali memakruhkan berpuasa pada bulan Rajab saja, tidak pada bulan haram lainya. Lihat Latho-if Al Ma’arif, 215. Namun sekali lagi, jika dianjurkan, bukan berarti mesti mengkhususkan puasa atau amalan lainnya di hari-hari tertentu dari bulan Rajab karena menganjurkan seperti ini butuh dalil. Sedangkan tidak ada dalil yang mendukungnya. Lihat bahasan Muslim.Or.Id sebelumnya: Adakah Anjuran Puasa di Bulan Rajab? Ibnu Rajab Al Hambali berkata, ”Hadits yang membicarakan keutamaan puasa Rajab secara khusus tidaklah shahih dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, begitu pula dari sahabatnya.” (Latho-if Al Ma’arif, 213). Hati-Hati dengan Maksiat di Bulan Haram Ibnu ’Abbas mengatakan, ”Allah mengkhususkan empat bulan tersebut sebagai bulan haram, dianggap sebagai bulan suci, melakukan maksiat pada bulan tersebut dosanya akan lebih besar, dan amalan sholeh yang dilakukan akan menuai pahala yang lebih banyak.” (Latho-if Al Ma’arif, 207) Bulan Haram Mana yang Lebih Utama? Para ulama berselisih pendapat tentang manakah di antara bulan-bulan haram tersebut yang lebih utama. Ada ulama yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Rajab, sebagaimana hal ini dikatakan oleh sebagian ulama Syafi’iyah. Namun Imam Nawawi (salah satu ulama besar Syafi’iyah) dan ulama Syafi’iyah lainnya melemahkan pendapat ini. Ada yang mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Muharram, sebagaimana hal ini dikatakan oleh Al Hasan Al Bashri dan pendapat ini dikuatkan oleh Imam Nawawi. Sebagian ulama yang lain mengatakan bahwa yang lebih utama adalah bulan Dzulhijjah. Ini adalah pendapat Sa’id bin Jubair dan lainnya, juga dinilai kuat oleh penulis Latho-if Al Ma’arif (hal. 203), yaitu Ibnu Rajab Al Hambali. Itulah penjelasan tentang keutamaan bulan Rajab. Semoga bulan Rajab menjadi ladang bagi kita untuk beramal sholih. Sumber : muslim.or.id
Muslim Proporsional

Memahami bahwa akhirat merupakan hal yang pasti adalah bentuk keimanan yang wajib kita miliki. Menyadari bahwa keniscayaan sebagai seorang hamba Allah juga merupakan bentuk anugerah dari Allah Ta’ala agar kita memahami peta jalan kehidupan fana ini serta tujuan besar dari penciptaan alam semesta di mana kita berada di dalamnya. Jalan menuju keridaan Allah Ta’ala sesungguhnya dipenuhi dengan banyak tantangan. Hal demikian tidak lain adalah sebagai bentuk permakluman dari Allah kepada kita bahwa hanya orang-orang beriman yang mampu melaksanakannya. أحََسِبَ ٱلنَّاسُ أنَ یُتۡرَكُوۤا۟ أنَ یَقوُلوُۤا۟ ءَامَنَّا وَھُمۡ لَا یُفۡتَنُونَ “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman’ dan mereka tidak diuji?” (QS. Al-`Ankabut: 2) Waktu: Tantangan proporsionalitas Di antara tantangan bagi orang beriman tersebut adalah waktu luang. Permasalahan yang sering timbul di zaman ini adalah persoalan pemanfaatan waktu. Dengan semakin canggihnya teknologi seperti telepon pintar (smartphone), kita pun cenderung terpedaya dengan menghabiskan sebagian besar waktu berjibaku dengan media sosial yang ada. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, نِعْمَتانِ مَغْبُونٌ فِیھِما كَثِیرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ والفَراغُ “Dua kenikmatan yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia adalah kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari no. 6412, dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu) Padahal apabila kita kaji lebih dalam, meskipun smartphone tersebut juga memiliki manfaat, tapi kita masih bisa memprioritaskan dan mengefisiensikan waktu dalam menggunakannya. Kita bisa membuat kesepakatan bagi diri sendiri bahwa waktu kita untuk smartphone adalah sisa dari waktu yang ada dari hal-hal yang bermanfaat seperti ibadah dan muamalah yang dengannya kita lebih banyak menghabiskan waktu. Demikianlah salah satu contoh hal yang paling mempengaruhi dan menguras sebagian waktu bahkan umur manusia. Lalu, bagaimana lagi dengan kelalaian berupa menghabiskan waktu dengan game, gosip, bahkan berbagai jenis kemaksiatan lainnya? Wal’iyadzubillah. Lantas, bagaimana cara mengatasi hal tersebut dan menjadi muslim yang proporsional terhadap waktu? Menjadi muslim proporsional dengan memanfaatkan waktu 1. Memohon pertolongan Allah agar diberikan petunjuk Jalan pertama dan paling utama yang selayaknya kita tempuh adalah dengan memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala untuk diberikan petunjuk dan kekuatan untuk melaksanakan segala perintah-Nya tersebut melalui doa. Doa yang pernah diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu untuk dibaca setiap selesai melaksanakan salat, اللھمَّ أَعِنِّي على ذكرِكَ وشُكْرِكَ ، و حُسْنِ عِبادَتِكَ “Ya Allah, bantulah aku untuk berzikir dan bersyukur kepada-Mu serta beribadah kepada-Mu dengan baik”. (Lihat Kitab Shahih Al-Adabul Mufrad, hal. 533) Kita juga diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (hadis hasan yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha) untuk memohon agar diberikan ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal dan baik, serta amalan yang diterima melalui doa: اللَّھمَّ إنَّي أسألَكَُ عِلمًا نافعًا، ورِزْقًا طیِّبًا، وعمَلًا مُتقَبَّلًا “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik (dan halal -pen.), dan amalan yang diterima.” (Lihat Kitab Nataij Al-Afkar karya Ibnu Hajar Al-Atsqalani. 2: 411) Dengan kata lain, kesibukan dalam hal yang bermanfaat tersebut seharusnya kita lakukan dengan menuntut ilmu, mencari rezeki, dan beramal saleh. 2. Merencanakan aktivitas rutin dengan hal-hal yang bermanfaat Saudaraku, sangat jelas dari makna hadis tentang doa yang dimohonkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Allah yaitu ilmu, rezeki, dan amalan saleh. Maka, untuk menyibukkan diri dalam tiga aktivitas mulia tersebut, selayaknya kita merencanakan dengan matang dan detail aktivitas harian untuk pencapaian target bulanan, tahunan, bahkan tujuan yang ingin dicapai sebelum ajal tiba. Allah Ta’ala berfirman, یٰٓاَیُّھَا الَّذِیْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا ﷲَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لغَِدٍۚ وَاتَّقُوا ﷲَ اِۗنَّ ﷲَ خَبِیْرٌ بِۢمَا تَعْمَلُوْنَ “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18) Ayat di atas mengandung makna yang sungguh mulia tentang perintah kepada orang-orang beriman untuk bersiap menghadapi masa depan (akhirat). Maka, dalam rangka menuju tujuan agung itu, kita mesti merencanakan dengan baik mulai dari hal-hal kecil yang menjadi kebiasaan (habit) hingga hal-hal besar dalam ruang lingkup aktivitas menuntut ilmu, mencari rezeki, dan beramal saleh. Konkretnya, ketika bangun pagi untuk melaksanakan kewajiban salat subuh dan ibadah sunah lainnya seperti zikir dan membaca Al-Qur’an, kita bertekad untuk membuat suatu habit merencanakan semua aktivitas yang akan kita lakukan di hari itu. Mulai dari zikir pagi/petang, membaca tulisan-tulisan yang bermanfaat, menulis untuk berkreasi, bekerja, beribadah, mengikuti kajian, mengasah keterampilan, bercengkrama dengan keluarga, berolahraga, hingga aktivitas akhir di hari tersebut, yaitu istirahat kembali. Bertekad untuk meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat Dalam syairnya, Abu Atahiyah berkata, إن الشباب و الفراغ مفسدة للمرئ أي مفسدة “Sesungguhnya masa muda, kekosongan (waktu luang -pen), dan kekayaan (yang tidak dimanfaatkan dengan baik -pen.) merupakan sumber kerusakan bagi seseorang.” Saudaraku, ingatlah bahwa waktu luang merupakan nikmat Allah yang sangat besar bagi kita. Selayaknya kita memanfaatkannya dengan berbagai kegiatan yang berguna. Terlebih seorang pemuda dengan gejolak nafsu dan syahwat yang menyala-nyala, ditambah lagi dengan kepemilikan terhadap sarana yang ada seperti uang dan teknologi (smartphone). Maka, bukankah ini menjadi tantangan terbesar untuk melakukan kemaksiatan? Oleh karenanya, bertekadlah untuk meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, مِنْ حُسْنِ إسِْلامَِ الْمَرْءِ تَرْكُه مَا لاَ یَعْنِیْهِ “Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang adalah jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Addaruquthni, Lihat Kitab Al-Ilal Ad-Dar Quthny, hal. 3024) Maka, memahami bahwa pada diri kita terdapat hak setiap entitas yang ada di sekeliling kita adalah hal yang sangat penting guna menghindari dan meninggalkan segala hal yang tidak bermanfaat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, إنَّ لِرَبِّك علیك حقًّا، ولنفْسِك علیك حقًّا، ولأھْلكِ علیك حقًّا، فأعْطِ كُلَّ ذي حقٍّ حقَّه “Sesungguhnya Rabbmu mempunyai hak atasmu, dan jiwamu mempunyai hak atasmu, dan istrimu mempunyai hak atasmu, maka berilah setiap hak kepada orang yang berhak”. (Lihat Kitab Fataawa Nur ‘Ala Ad-Darbi Li Ibni “Utsaimin, 12: 675) Saudaraku, diri kita memiliki hak jasmani dan rohani. Hak jasmani berupa makanan yang sehat, olahraga, dan aktivitas fisik lainnya yang mendukung kesehatan badaniah. Begitu pula rohani, yang sejatinya selalu haus akan ilmu agama yang dapat diperoleh dengan rutin menghadiri kajian serta bertekad untuk memperoleh faedah darinya. Adapun hak keluarga adalah kasih sayang dan cinta dari kita berupa waktu (quality time) untuk mereka, pendidikan, dan asuhan Islami, serta pemenuhan kebutuhan primer dan sekunder bagi mereka orang-orang yang kita cintai. Semoga Allah Ta’ala memberikan kemudahan bagi kita untuk senantiasa melakukan hal-hal yang bermanfaat dan menghindari segala hal yang merugikan baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Wallahu a’lam Sumber Artikel : Muslim.or.id
