5 Hal yang Perlu Diperhatikan saat Bersedekah

Sebagai seorang muslim dan makhluk sosial, sudah sewajibnya saling tolong-menolong dalam hal kebaikan. Salah satunya dengan cara bersedekah. Manfaat sedekah pun dapat memperlancar rezeki, Rasulullah pun bersabda: “Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim, no. 2588) Namun ada 5 hal yang perlu diperhatikan saat bersedekah: 1. Lakukan dengan ikhlas karena Allah SWT Menyedekahkan harta yang dimiliki merupakan salah satu cara untuk menyucikan diri. Namun sebelum melakukannya, secara bersamaan sebaiknya bersedekah dengan hati yang ikhlas semata karena Allah SWT. Lakukanlah tanpa dimasuki dan dicampuri riya maupun sum’ah atau ingin dipuji orang. Ini agar membuat sedekah yang dilakukan semakin berkah, bernilai lebih dan mendatangkan kebaikan dari Allah SWT. Dari Umar bin Khathb RA, dia berkata: “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda; Sesungguhnya setiap amal disertai niat, dan seseorang itu hanya akan mendapatkan apa yang diniatkannya.” (HR Bukhari no 1 dan Muslim no 1907) 2. Memberikan sedekah sembari tersenyum Bagi sebagian orang, melakukan sedekah mampu menghadirkan rasa bahagia dan ketenangan hati. Namun alangkah lebih baiknya kamu memberikan sedekah sambil tersenyum, memasang wajah berseri dan jiwa yang baik. Dengan demikian, Allah SWT akan lebih meridhakan seorang hamba-Nya yang melakukan sedekah sembari tersenyum. Dari Jarir bin Abdullah RA bahwa Rasulullah bersabda: “Apabila penerima sedekah datang pada kalian, maka hendaklah kalian menginfakkannya sedang dia ridha pada kalian.” (HR Muslim no 989) 3. Hati-hati dengan sesuatu hal yang bisa membatalkan sedekah Apakah kamu selalu menolong dan menebar kebaikan dengan bersedekah? Nah, salah satu hal penting yang penting diterapkan saat bersedekah yakni tidak dilakukan dengan niat pamer. Hati-hati dari sesuatu yang membatalkan sedekah seperti menyebut pemberian dan bersifat menyakiti sang Penerima. Allah SWT mengingatkan dalam firman-Nya di Surat Al-Baqarah ayat 262: “Orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkankannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan tidak dengan menyakiti (perasaan si Penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka.” 4. Pastikan berasal dari harta yang halal dan baik Hakikatnya, sedekah bisa menjadi sarana seseorang untuk meraih rida Allah SWT. Untuk mendapat jaminan harta yang disedekahkan diganti dengan keberkahan oleh Allah SWT, maka alangkah baiknya memberi sesuatu dari harta yang halal. Praktik menyedekahkan barang yang tidak halal, baik sifatnya maupun cara mendapatkannya sangat tidak layak disedekahkan sebaiknya jangan dilakukan. Allah SWT itu Maha baik, tidak menerima kecuali yang baik seperti firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan dari padanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Mahakaya lagi Maha terpuji.” (QS al-Baqarah [2]: 267) 5. Tidak menampakkan sedekah yang hendak dilakukan Bagi umat muslim, tentu ada banyak cara untuk bersedekah. Namun salah satu hal yang perlu diperhatikan saat melakukannya yakni menganggap sedekah hanya sebatas Allah SWT yang mengetahui-Nya saja. Alangkah baiknya, kamu merahasiakan sedekah dan tidak terang-terangan untuk dilihat banyak orang. Hal ini dijelaskan di dalam QS Al-Baqarah: “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Baqarah [2]: 271) Demikianlah kelima hal yang harus diperhatikan ketika hendak bersedekah. Yuk, mulai terapkan dari sekarang!
LAZDAI di ACC BAZNAS RI

LAZDAI Lampung Mendapatkan Surat Rekomendasi Dari BAZNAS RI.
Tujuan Hidup Kita

Mungkin sebagian dari kita masih bertanya-tanya nih, sebenernya apasih tujuan kita hidup, terlebih lagi kita sebagai muslim. hmm.. yuk simak. Tujuan Hidup Menurut Islam Manusia tidak diciptakan begitu saja tanpa adanya tujuan hidup. Adapun tujuan utama manusia diciptakan oleh Allah SWT adalah agar dapat menyembah dan beribadah kepada Allah SWT. Berikut ini adalah tujuan hidup manusia di bumi yang disebutkan dalam Alqur’an dan sunah rasul. Menyembah Allah Adapun tujuan hidup manusia yang paling utama adalah untuk menyembah dan beribadah kepada Allah SWT. Sebagai hamba Allah, manusia wajib menjalankan segala perintah dan menjauhi segala laranganNya. Manusia juga harus menjadikan rukun iman dan rukun islam sebagai pedoman hidupnya. Berikut ini adalah ayat yang menyebutkan kewajiban manusia untuk beribadah kepada Allah SWT: وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (Qs Adz zariyat : 56). Adapun ibadah yang dapat dilaksanakan oleh manusia untuk memenuhi tugasnya sebagai hamba Allah dapat berifat umum maupun khusus. Ibadah yang bersifat khusus adalah ibadah yang langsung ditujukan kepada Allah SWt seperti shalat, baik shalat wajib ataupun shalat sunnah, puasa, zakat, haji dan ibadah lainnya yang sifatnya sunnah seperti membaca Alqur’anbersedekah.Adapun ibadah yang dilakukan secara umum adalah ibadah yang kaitannya dengan hubungan manusia dengan sesamanya seperti menyambung tali silaturahmi dan tolong menolong antar sesama sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah SWT bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al hujurat : 13). Menjalankan perannya sebagai khalifah Manusia adalah khalifah di muka bumi dan setiap manusia adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Istilah khalifah disini adalah pemimpin dimana manusai bertanggung jawab menjaga keberlangsungan hidupnya dan alam sekitarnya. Sebagai makhluk yang dikaruniai akal maka manusia memiliki kewajiban untuk mengelola sumber daya alam dan menjaga kelestariannya. Tidak hanya itu, manusia juga berkewajiban untuk menjaga dirinya sendiri dari perilaku yang tidak baik karena setiap perlakuan atau perbuatan manusia di dunia kelak akan dimintai pertanggung jawabannya. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Albaqarah ayat 30 yang bunyinya: وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.(QS Al Baqarah :30). Meneruskan Ajaran islam Tidak hanya beribadah dan menjalankan tugasnya sebagai khalifah, manusia juga wajib menuntut ilmu dan meneruskannya pada generasi selanjutnya agar ajaran islam tetap terjaga hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan menurut islam yang menyebutkan bahwa ilmu pendidikan islam bukan hanya ilmu yang diajarkan untuk melaksanakan ibadah kepada Allah SWT akan tetapi juga untuk menuntun perilaku manusia dan menunjukkan perbuatan amar ma’ruf nahi mungkar. Sebagaimana yang disebutkan dalam firman Allah surat Al imran ayat 104 yang bunyinya; وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.“(QS Al Imran : 104). Tujuan hidup manusia tersebut hendaknya dipahami dan dilaksanakan oleh manusia karena tanpa tercapainya tujuan hidup tersebut maka tugas manusia di bumi ini tidaklah dapat terpenuhi. Sumber
Keberkahan di Pagi Hari

Tulisan berikut akan sedikit mengupas mengenai keutamaan waktu pagi dan bagaimana memanfaatkannya. Semoga Allah selalu memberi kita taufik untuk mengamalkan setiap ilmu yang telah kita peroleh. KETAHUILAH KEUTAMAAN WAKTU PAGI [Pertama] Waktu Pagi adalah Waktu yang Penuh Berkah Waktu yang berkah adalah waktu yang penuh kebaikan. Waktu pagi telah dido’akan khusus oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai waktu yang berkah. Dari sahabat Shokhr Al Ghomidiy, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, اللَّهُمَّ بَارِكْ لأُمَّتِى فِى بُكُورِهَا “Ya Allah, berkahilah umatku di waktu paginya.” Apabila Nabi shallallahu mengirim peleton pasukan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimnya pada pagi hari. Sahabat Shokhr sendiri (yang meriwayatkan hadits ini, pen) adalah seorang pedagang. Dia biasa membawa barang dagangannya ketika pagi hari. Karena hal itu dia menjadi kaya dan banyak harta. Abu Daud mengatakan bahwa dia adalah Shokhr bin Wada’ah. (HR. Abu Daud no. 2606. Hadits ini dishohihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Abi Daud) Ibnu Baththol mengatakan, “Hadits ini tidak menunjukkan bahwa selain waktu pagi adalah waktu yang tidak diberkahi. Sesuatu yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (pada waktu tertentu) adalah waktu yang berkah dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik uswah (suri teladan) bagi umatnya. Adapun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan waktu pagi dengan mendo’akan keberkahan pada waktu tersebut daripada waktu-waktu yang lainnya karena pada waktu pagi tersebut adalah waktu yang biasa digunakan manusia untuk memulai amal (aktivitas). Waktu tersebut adalah waktu bersemangat (fit) untuk beraktivitas. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhususkan do’a pada waktu tersebut agar seluruh umatnya mendapatkan berkah di dalamnya.” (Syarhul Bukhari Libni Baththol, 9/163, Maktabah Syamilah) [Kedua] Waktu Pagi adalah Waktu Semangat Untuk Beramal Dalam Shohih Bukhari terdapat suatu riwayat dari sahabat Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَأَبْشِرُوا ، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَىْءٍ مِنَ الدُّلْجَةِ “Sesungguhnya agama itu mudah. Tidak ada seorangpun yang membebani dirinya di luar kemampuannya kecuali dia akan dikalahkan. Hendaklah kalian melakukan amal dengan sempurna (tanpa berlebihan dan menganggap remeh). Jika tidak mampu berbuat yang sempurna (ideal) maka lakukanlah yang mendekatinya. Perhatikanlah ada pahala di balik amal yang selalu kontinu. Lakukanlah ibadah (secara kontinu) di waktu pagi dan waktu setelah matahari tergelincir serta beberapa waktu di akhir malam.” (HR. Bukhari no. 39. Lihat penjelasan hadits ini di Fathul Bari) Yang dimaksud ‘al ghodwah’ dalam hadits ini adalah perjalanan di awal siang. Al Jauhari mengatakan bahwa yang dimaksud ‘al ghodwah’ adalah waktu antara shalat fajar hingga terbitnya matahari. (Lihat Fathul Bari 1/62, Maktabah Syamilah) Inilah tiga waktu yang dikatakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari sebagai waktu semangat (fit) untuk beramal. Syaikh Abdurrahmanbin bin Nashir As Sa’di mengatakan bahwa inilah tiga waktu utama untuk melakukan safar (perjalanan) yaitu perjalanan fisik baik jauh ataupun dekat. Juga untuk melakukan perjalanan ukhrowi (untuk melakukan amalan akhirat). (Lihat Bahjah Qulubil Abror, hal. 67, Maktbah ‘Abdul Mushowir Muhammad Abdullah) BAGAIMANA KEBIASAAN ORANG SHOLIH DI PAGI HARI? [1] Kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam An Nawawi dalam Shohih Muslim membawakan bab dengan judul ‘Keutamaan tidak beranjak dari tempat shalat setelah shalat shubuh dan keutamaan masjid’. Dalam bab tersebut terdapat suatu riwayat dari seorang tabi’in –Simak bin Harb-. Beliau rahimahullah mengatakan bahwa dia bertanya kepada Jabir bin Samuroh, أَكُنْتَ تُجَالِسُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- “Apakah engkau sering menemani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk?” Jabir menjawab, نَعَمْ كَثِيرًا كَانَ لاَ يَقُومُ مِنْ مُصَلاَّهُ الَّذِى يُصَلِّى فِيهِ الصُّبْحَ أَوِ الْغَدَاةَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ فَإِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ قَامَ وَكَانُوا يَتَحَدَّثُونَ فَيَأْخُذُونَ فِى أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ فَيَضْحَكُونَ وَيَتَبَسَّمُ. “Iya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya tidak beranjak dari tempat duduknya setelah shalat shubuh hingga terbit matahari. Apabila matahari terbit, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri (meninggalkan tempat shalat). Dulu para sahabat biasa berbincang-bincang (guyon) mengenai perkara jahiliyah, lalu mereka tertawa. Sedangkan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya tersenyum saja.” (HR. Muslim no. 670) An Nawawi mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat anjuran berdzikir setelah shubuh dan mengontinukan duduk di tempat shalat jika tidak memiliki udzur (halangan). Al Qadhi mengatakan bahwa inilah sunnah yang biasa dilakukan oleh salaf dan para ulama. Mereka biasa memanfaatkan waktu tersebut untuk berdzikir dan berdo’a hingga terbit matahari.” (Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, 8/29, Maktabah Syamilah) [2] Kebiasaan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu Dari Abu Wa’il, dia berkata, “Pada suatu pagi kami mendatangi Abdullah bin Mas’ud selepas kami melaksanakan shalat shubuh. Kemudian kami mengucapkan salam di depan pintu. Lalu kami diizinkan untuk masuk. Akan tetapi kami berhenti sejenak di depan pintu. Lalu keluarlah budaknya sembari berkata, “Mari silakan masuk.” Kemudian kami masuk sedangkan Ibnu Mas’ud sedang duduk sambil berdzikir. Ibnu Mas’ud lantas berkata, “Apa yang menghalangi kalian padahal aku telah mengizinkan kalian untuk masuk?” Lalu kami menjawab, “Tidak, kami mengira bahwa sebagian anggota keluargamu sedang tidur.” Ibnu Mas’ud lantas bekata, “Apakah kalian mengira bahwa keluargaku telah lalai?” Kemudian Ibnu Mas’ud kembali berdzikir hingga dia mengira bahwa matahari telah terbit. Lantas beliau memanggil budaknya, “Wahai budakku, lihatlah apakah matahari telah terbit.” Si budak tadi kemudian melihat ke luar. Jika matahari belum terbit, beliau kembali melanjutkan dzikirnya. Hingga beliau mengira lagi bahwa matahari telah terbit, beliau kembali memanggil budaknya sembari berkata, “Lihatlah apakah matahari telah terbit.” Kemudian budak tadi melihat ke luar. Jika matahari telah terbit, beliau mengatakan, الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى أَقَالَنَا يَوْمَنَا هَذَا “Segala puji bagi Allah yang telah menolong kami berdzikir pada pagi hari ini.” (HR. Muslim no. 822) [3] Keadaan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di Pagi Hari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah adalah orang yang gemar beribadah dan bukanlah orang yang kelihatan bengis sebagaimana anggapan sebagian orang. Kita dapat melihat aktivitas beliau di pagi hari sebagaimana dikisahkan oleh muridnya –Ibnu Qayyim Al Jauziyah.- Ketika menjelaskan faedah dzikir bahwa dzikir dapat menguatkan hati dan ruh, Ibnul Qayim mengatakan, “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah suatu saat shalat shubuh. Kemudian (setelah shalat shubuh) beliau duduk sambil berdzikir kepada Allah Ta’ala hingga pertengahan siang. Kemudian berpaling padaku dan berkata, ‘Ini adalah kebiasaanku di pagi hari. Jika aku tidak berdzikir seperti ini, hilanglah kekuatanku’ –atau perkataan beliau yang semisal ini-.” (Al Wabilush Shoyib min Kalamith Thoyib, hal.63, Maktabah Syamilah) Penulis : Muhammad Abduh Tuasikal Sumber
Ikhlas dalam Beramal, Ini Caranya.

Yuk kita renungkan kembali hakekat ikhlas dalam beramal. Beramal yang sebaik-baiknya merupakan inti dari keberadaan manusia di dunia ini (QS al-Mulk [67]:2). Tanpa amal, manusia kehilangan fungsi dan peran utamanya dalam menegakkan khilafah dan imarah. Namun, pada tahap implementasinya, ternyata tidak cukup hanya beramal saja karena memang Allah akan menyeleksi setiap amal itu dari niatnya dan keikhlasannya. Tanpa niat dan keikhlasan, amal seseorang akan sia-sia tidak berguna dan tidak dipandang sedikit pun oleh Allah SWT. Oleh karena itu ikhlas dalam beramal ini sangat penting. Imam al-Ghazali menuturkan, “Setiap manusia binasa kecuali orang yang berilmu. Orang yang berilmu akan binasa kecuali orang yang beramal (dengan ilmunya). Orang yang beramal juga binasa kecuali orang yang ikhlas (dalam amalnya). Namun, orang yang ikhlas juga tetap harus waspada dan berhati-hati dalam beramal.” Dalam hal ini, hanya mereka yang ikhlas beramal akan mendapatkan keutamaan dan keberkahan yang sangat besar, seperti yang dijamin Allah dalam firman-Nya, “Tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (bekerja dengan ikhlas). Mereka itu memperoleh rezeki yang tertentu, yaitu buah-buahan. Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan, di dalam surga-surga yang penuh kenikmatan.” (QS ash-Shaaffat [37]:40-43). Amal kebaikan yang tidak didasari keikhlasan hanya akan menghasilkan kesia-siaan. Bahkan ia bisa mendatangkan azab Allah. Sebuah amal yang dilakukan bukan karena-Nya termasuk perbuatan syirik yang tak terampuni dosanya, kecuali jika ia segera bertaubat. Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar” (An Nisa [4]: 48). Setidaknya ada 4 tips yang bisa kita lakukan agar kita bisa ikhlas dalam beramal : Memperbanyak doa. Rasulullah SAW sering memanjatkan doa agar terhindar dari kesyirikan, padahal beliau orang yang paling jauh dari kesyirikan. Di antara doa yang sering Rasulullah SAW panjatkan: “Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya, dan akupun memohon ampun terhadap perbuatan syirik yang tidak aku ketahui” (Hadits Shahih riwayat Ahmad) Menyembunyikan amal kebaikan. Amal kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang lain hasilnya lebih ikhlas, karena tidak ada yang mendorongnya untuk melakukan hal tersebut kecuali hanya karena Allah semata. Menurut sebuah Hadits diriwayatkan Bukhari dan Muslim, ada tujuh golongan yang akan Allah naungi pada hari di mana tidak ada naungan selain dari naungan-Nya. Di antara tujuh golongan itu adalah seseorang yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya tersebut hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya. Takut jika amalannya tidak diterima. Allah berfirman: “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (Al Mu’minun [23]: 60). Menurut Ibnu Katsir, ayat ini menjelaskan bahwa di antara sifat-sifat orang mukmin adalah senang memberi, namun mereka takut akan tidak diterimanya amal perbuatan mereka tersebut. Memandang rendah amal kebaikan kita. Salah satu perbuatan yang merusak amal adalah ujub (berbangga diri). Semakin ujub seseorang terhadap amal kebaikan yang ia lakukan, maka akan semakin kecil dan rusak keikhlasan dari amal tersebut. Bahkan pahala amal kebaikan tersebut dapat hilang sia-sia. Sa’id bin Jubair berkata, “Ada orang yang masuk surga karena perbuatan maksiat dan ada orang yang masuk neraka karena amal kebaikannya”. Ditanyakan kepadanya “Bagaimana hal itu bisa terjadi?”. Beliau menjawab, “Seseorang melakukan perbuatan maksiat, ia pun senantiasa takut terhadap azab Allah akibat perbuatan maksiat tersebut, maka ia pun bertemu Allah dan Allah pun mengampuni dosanya karena rasa takutnya itu. Sedangkan ada seseorang yang beramal baik, ia pun senantiasa bangga terhadap amalnya tersebut, maka ia pun bertemu Allah dalam keadaan demikian, maka Allah pun memasukkannya ke dalam neraka.” Semoga cara-cara ini membantu kita untuk mengamalkan sebuah keikhlasa dalam setiap perbuatan yang kita kerjakan. Yuk semangat beramal. 🙂 Sumber
Tahun Baru Islam dan Kalender Qomariyah

Tahukah kamu bahwa kalender Hijriah disebut juga kalender Qomariyah? Sebab, kalender Hijriah sistem penanggalannya berdasarkan peredaran bulan. Seperti apa sejarah Kalender Hijriah itu? Adapun 12 bulan yang ada dalam kalender Hijriah mempunyai maknanya masing-masing. Lantas, apa bedanya dengan kalender Masehi? Untuk tahu jawabannya, mari kita ketahui dahulu sejarah Kalender Hijriah sebagai asal usul penetapan Tahun Baru Islam. Sistem penanggalan Hijriah yang dipakai sudah memiliki tuntunan jelas dalam Al Quran, yaitu sistem kalender bulan atau qamariyah. Di mana kalender hijriah ini menghitung durasi satu tahun berdasar 12 siklus sinodis bulan atau 12 fase ketika bulan menampakkan hilalnya. Sistemnya dimulai dari Ahad hingga Sabtu dan diawali dengan bulan Muharram hingga Dzulhijjah, siklus sinodis per bulan kalender hijriah juga terbilang variatif dengan rata-rata 29,53 hari. Berbeda dengan kalender Masehi yang menggunakan jumlah hari dalam sebulan sebanyak 30 atau 31 hari. Sementara kalender Hijriah hanya 29 dan/atau 30 hari, itupun tidak teratur dengan berfokus pada status hilal (adakalanya tanggal 29 sudah tampak hilal). Karena perbedaan itulah, dalam hitungan satu tahun kalender hijriah, biasanya 11 hari lebih pendek daripada kalender masehi. Dan tidak kalah penting, keberadaan kalender hijriah juga menjadi tonggak sistem kemajuan peradaban Islam sampai dengan saat ini. Sejarah Kalender Hijriah Pada tahun 638 Masehi, Umar bin Al Khattab yang saat itu menjadi khalifah melihat suatu masalah. Diceritakan bahwa Abu Musa al Asy’ari menulis kepada Umar: “Surat-surat sampai kepada kami dari Amirul Mu’minin, namun kami bingung bagaimana menjalankannya. Kami membaca sebuah dokumen tertanggal Sya’ban, namun kami tidak tahu ini untuk tahun yang lalu atau tahun ini”, (Syaikh Abdurrahman al Jabarti, 1825). Umar lantas mengumpulkan para sahabat dan mereka yang bertugas di pusat pemerintahan. Diceritakan dari Ibnu Abbas bahwa semenjak Nabi datang ke Madinah, tidak ada tahun yang digunakan dalam penanggalan, begitu juga saat Abu Bakar menggantikan beliau sebagai khalifah, dan juga di empat tahun pertama pemerintahan Umar bin Khattab. Setelah melalui berbagai usulan tentang titik acuan dimulainya penanggalan atau kalender hijriah, maka pada akhirnya diputuskan bahwa tahun terjadinya peristiwa Hijrah menjadi tahun pertama kalender islam. Sebelumnya diusulkan tahun lahir Nabi atau tahun wafat beliau, namun semuanya dianggap kurang tepat. Nama-nama Bulan dalam Kalender Hijriah Dari 12 bulan kalender hijriah tersebut, meliputi: Muharram Shafar Rabi’ul Awal Rabi’ul Akhir Jumadil Awal Jumadil Akhir Rajab Sya’ban Ramadhan Syawal Dzul Qa’dah Dzulhijjah Bagaimana, sekarang sudah tahu bagaimana Sejarah kalender Hijriah dan sistem penanggalannya, bukan? Sumber: Suara.com
Cara Jitu Bersedekah Rutin Meski Gaji Pas-Pasan

Kata orang, sedekah akan melipat gandakan rezeki kita. Gak cuma itu, bersedekah juga akan membuat diri kita dan orang yang dibantu merasa bahagia. Terlebih bahagia batinnya. Siapa yang gak senang sih melihat orang lain tersenyum untuk kita dan merasakan kalau kita berguna untuk orang lain? Tapi, gimana kalau gaji kita pas-pasan? Belum dengan segenap kebutuhan bulanan yang makin mahal dan aneka cicilan yang belum kelar? Jangan jadikan semua itu sebagai alasan agar tidak sedekah, ya! Tak perlu menunggu sampai kaya, inilah cara bersedekah meskipun gajimu masih pas-pasan. 1. Jika tak sempat memasak sendiri, belilah sebungkus nasi setiap makan siang. Berikan nasi tersebut untuk orang tak mampu di jalanan Memberikan sebungkus nasi dengan lauk sederhana (sayur dan tempe goreng), mungkin terdengar sepele. Harganya pun murah meriah, tidak sampai sepuluh ribu. Tapi perlu kamu sadari, belum semua orang bisa menikmati makan seperti itu. Dengan memberikan menu itu pada pengemis, anak jalanan, atau tukang becak niscaya akan membuat mereka bersyukur atas rejeki yang didapat. Kamu pun turut bersyukur karena masih sanggup berbagi untuk orang lain. 2. Punya mukena yang tidak cukup atau Alquran kelebihan jumlahnya? Menaruhnya ke tempat ibadah terdekat adalah pilihan bijak Mukena semasa kecilmu sudah tidak cukup? Punya Alquran yang tidak terpakai karena jumlahnya terlalu banyak? Ada karpet yang dirasa sudah tidak diperlukan? Sumbangkan saja itu ke musala atau masjid. Pasti seseorang akan membutuhkannya dan menggunakannya suatu saat. 3. Belilah sandal jepit baru seharga Rp10 ribuan. Ini juga akan bermanfaat untuk ditaruh di dekat tempat wudu Kadang, seseorang lupa membawa sandal jepitnya sendiri saat hendak berwudu. Dengan menyediakan yang baru di sekitar area wudu, sedekahmu tidak akan sia-sia meskipun harga barangnya tidak seberapa. 4. Beli sabun, cairan pel, atau kemoceng mungkin sederhana saja. Tapi jika diberikan untuk kepentingan tempat ibadah, nilainya tak terkira Tempat ibadah juga perlu selalu dibersihkan agar nyaman saat dikunjungi umatnya. Untuk itu, barang-barang seperti sabun batang dan tisu (untuk toilet tempat ibadah), cairan dan alat pel, kemoceng, sapu lantai, serta sapu lidi akan selalu berguna. Tidak hanya untuk kenyamanan ibadahmu, melainkan juga kenyamanan ibadah puluhan bahkan ratusan umat lain. 5. Sisa makananmu jangan dibuang begitu saja. Taruh di wadah & tempatkan di depan rumah agar kucing atau anjing jalanan bisa merasakan nikmatnya Jika kamu masih sanggup membeli makanan khusus kucing atau anjing, kamu bisa mengambilnya sedikit untuk ditaruh di depan rumah setiap hari. Tapi jika ini dirasa cukup mahal, tidak apa jika tidak membeli makanan khusus kucing atau anjing. Memberikan sisa makanan atau malah sengaja menyisihkan sedikit makanan untuk kucing atau anjing jalanan, bisa menjadi penggantinya. Meskipun cuma hewan jalanan, toh mereka juga ciptaan Tuhan yang bermanfaat. Di antaranya adalah mengusir keberadaan tikus yang kerap menjadi perantara penyakit. 6. Saat bulan puasa tiba, belilah air mineral kemasan gelas. Bagikan pada mereka yang ingin berbuka Air mineral dalam kemasan gelas tidaklah mahal. Cukup merogoh kocek sebesar Rp500 saja, lebih dari seteguk air segar bisa dinikmati. Cobalah kamu membeli sekardus dan bagikan pada pengendara di jalan saat sirine berbuka terdengar. Niscaya pahalamu bertambah seiring terima kasih yang kamu dapat. 7. Uang receh yang didapat dari kembalian, masukkanlah ke kotak amal. Memang tidak seberapa, tapi manfaatnya luar biasa Kamu sering mendapat kembalian uang receh (koin) dan merasa malas membawanya? Atau sering merasa uang receh kurang berguna? Kenapa tak disumbangkan saja ke kotak amal? Toh, biasanya kotak amal sangat mudah ditemukan. Entah di masjid, rumah makan, kafe, dan tempat-tempat lainnya. Jika mau dihitung, percaya deh receh yang kamu dapatkan dalam sebulan lumayan banyak. Artinya, yang kamu sumbangkan pun cukup berarti. 8. Jika kampungmu masih menganut “jimpitan”, belilah sekilo beras. Kamu bisa menyumbangkan beras paling minim setengah bulan lamanya “Jimpitan” adalah tradisi masyarakat Jawa (khususnya di desa-desa Jawa Tengah) dalam menjalankan ronda. Biasanya, warga akan mengumpulkan beras dalam cangkir ukuran kecil di bagian depan rumahnya. Saat malam tiba, petugas ronda akan berputar menjaga keamanan sambil mengambil beras tersebut. Kelak, beras yang dikumpulkan akan dijual dan digunakan untuk memenuhi kas desa. 9. Sudah bosan dengan buku bacaan dan lemari semakin penuh? Sumbangkan saja ke perpustakaan terdekat 10. Kumpulkan selimut atau beli obat nyamuk untuk korban bencana boleh dicoba. Mereka bisa istirahat nyaman di barak pengungsian Bencana alam sering datang tiba-tiba. Jika ingin membantu namun minim dana, cobalah mengumpulkan kain atau selimut dari rumahmu dan kawan-kawan. Belikan juga obat nyamuk bakar atau lotion anti nyamuk. Dengan cara ini, para korban bencana dapat beristirahat dengan nyaman meski di barak pengungsian. 14. Bersedekah tak selalu uang & barang. Kamu pun dapat bersedekah lewat tenaga dengan jadi relawan kegiatan sosial Misalnya, bergabung dalam sebuah komunitas anak di mana kamu diharuskan mengajar untuk anak-anak jalanan. Bisa juga bergabung dalam komunitas yang membantu anak-anak penderita hydrocephallus, komunitas yang membantu berdirinya perpustakaan di daerah terpencil, dan sebagainya. Jadi, ada banyak cara bukan untuk bersedekah? Tak perlu tunggu kaya demi bersedekah. Lakukan dari sekarang semampumu dan dengan niat yang tulus. Niscaya, sedekahmu bermanfaat. Hatimu pun bahagia. Selamat mencoba! Sekarang di LAZDAI bisa sedekah online lohh, jadi bisa sedekah dimanapun dan kapanpun. Yuk lihat program nya apa saja. Lihat Program LAZDAI Sumber: idntimes.com
Amalan-Amalan Utama Pada Akhir Bulan Dzulhijjah

Bulan Dzulhijjah sebentar lagi akan berakhir. Tanda bahwa tahun baru Hijriyah 1444 pun sudah didepan mata. Tahun baru Islam hendakanya dijadikan momentum untuk memperbaiki amalan dan ibadah kita satu tahun kedepan. Amalan akhir bulan Dzulhijjah yang perlu dilakukan umat Muslim yakni melakukan muhasabah diri atau merenungkan semua hal yang telah dilakukannya selama setahun terakhir. Selain bermuhasabah menyosong tahun baru Islam, 1 Muharram 1444 Hijriah, amalan akhir Bulan Dzulhijjah lainnya yakni memperbanyak dzikir dan puasa Ayyamus Siwad atau Suud yakni puasa petang bulan, serta membaca doa akhir tahun hijriah. Berikut amalan di akhir Bulan Dzulhijjah: 1. Muhasabah Diri Amalan akhir Bulan Dzulhijjah yang merupakan bulan terakhir menyongsong tahun baru Hijriah yakni melakukan muhasabah atau instrospeksi diri atas apa yang telah dilakukan selama setahun. Sebab, sekecil apa pun tindakan baik dan buruk pasti akan dicatat dan dibeberkan oleh Allah kelak di hari perhitungan atau Yaumul Hisab nanti. Allah SWT berfirman: {فَلا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ} Artinya: “Maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami menjadi orang-orang yang membuat perhitungan. (Al-Anbiya: 47) Ibnu Katsir menerangkan ayat tersebut merupakan peringatan dari Allah SWT bagi orang Muslim perihal orang-orang musyrik. Sesungguhnya yang mendorong dan menjerumuskan mereka ke dalam lembah. kesesatan ialah karena mereka diberi kenikmatan kehidupan dunia dan mereka tenggelam ke dalam kesenangannya. Umur mereka dipanjangkan dalam kesesatannya sehingga mereka menduga bahwa diri mereka mempunyai sesuatu pegangan hidup. 2. Memperbanyak Dzikir Amalan akhir Bulan Dzulhijjah yakni memperbanyak dzikir. Salah satu dzikir yang ringan diucapkan namun berat dalam timbangan amal yakni dengan mengucapkan subhaanallah wabihamdihi subhaanallahil ‘adhiim. Di dalam kitab Sahihain disebutkan sebuah hadis melalui sahabat Abu Hurairah r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: كَلِمَتَانِ خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ، حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ: سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ” Ada dua kalimat yang ringan dibaca lisan, tetapi berat di dalam timbangan lagi disukai oleh Tuhan Yang Maha Pemurah, yaitu Subhanallah (Mahasuci Allah) Wabihamdihi (dan dengan memuji kepada-Nya) Subhanallahil ‘Azim (Mahasuci Allah lagi Mahabesar). 3. Puasa Ayyamus Suud atau Siwad Puasa ayyamus suud atau siwad merupakan puasa sunnah yang dikerjakan pada akhir bulan hijriah. Dikutip dari bincangsyariah, Menurut Imam Al-Mawardi, berpuasa Ayyamus Sud pada tanggal 28, 29 dan 30 dari kalender Hijriyah adalah sunnah. Namun jika dalam sebulan Hijriyah hanya berjumlah 29 hari saja, maka disunnahkan untuk memulai puasa dari tanggal 27, 28 dan 29. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Imam Al-Ramli dalam kitab Nihayatul Muhtaj ila Syarh al-Minhaj. قَالَ الْمَاوَرْدِيُّ: وَيُسَنُّ صَوْمُ أَيَّامِ السُّودِ وَهِيَ الثَّامِنُ وَالْعِشْرُونَ وَتَالِيَاهُ، وَيَنْبَغِي أَنْ يُصَامَ مَعَهَا السَّابِعُ وَالْعِشْرُونَ احْتِيَاطًا Imam Al-Mawardi berkata, ‘Disunahkan juga berpuasa di Ayyamus Sud (hari-hari gelap), yaitu pada tanggal 28 dan dua hari setelahnya. Dan hendaknya berpuasa dari tanggal 27 sebagai bentuk kehati-hatian. Adapun hikmah anjuran melakukan puasa di Ayyamus Sud adalah sebagai bentuk harapan agar kegelapan pada malam-malam tersebut segera hilang. Menurut sebagian ulama, hikmah berpuasa di Ayyamus Sud adalah untuk menghilangkan gelapnya hati. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam kitab Hasyiatul Jamal. فحكمة صومها طلب كشف الظلمة المستمرة…وقيل لطلب كشف سواد القلب Adapun hikmah berpuasa di Ayyamus Sud adalah agar kegelapan sepanjang malam segera sirna..Disebutkan bahwa hikmahnya adalah untuk menghilangkan gelapnya hati. 4.Taubat Manusia selalu mempunyai kesempatan untuk melakukan taubat atas dosa-dosa atau maksiat yang sudah diperbuat. Taubat artinya kembali pada Allah SWT dari perkara yang Allah SWT benci secara lahir dan batin menuju ke perkara yang Allah SWT senangi. Taubat yang sesungguhnya adalah menyesal dengan semua dosa yang sudah diperbuat pada masa lalu dan kemudian meninggalkannya serta bertekad untuk tidak mengulanginya kembali. Memasuki bulan Muharram segeralah untuk melakukan taubat karena ini merupakan tugas yang berlangsung untuk seumur hidup. Yuk, segera kita melaksanakan amalan ini… Sumber : detik.com
Kolaborasi LAZDAI feat SMK TELKOM LAMPUNG

MoU antara LAZDAI dengan SMK Telkom Lampung.
